
Diruangan Angkatan sudah berkumpul para ketua kelas dan bendahara masing-masing kelas untuk membahas acara senin depan.
“Terimakasih sudah mau meluangkan waktu disini” Pak Rahmat basa-basi dulu biar gak tegang.
“Bapak nyuruh bendahara juga biar bisa kerja sama, sama ketua kelas bantuin ngumpulin duit dari anak kelas kalian” Pak Rahmat menatap satu persatu murid nya yang hadir.
“Sekarang kita bahas berapa biaya perorang yang kita beban kan?” Tanya pak Rahmat.
“Tahun lalu berapa Dinda?” Dinda si bendahara angkatan yang bertugas mengatur keuangan untuk event tahun lalu.
“Tahun lalu sepuluh ribu pak” Jawab Dinda.
“Oke apa kita tetap mau ngutip sepuluh ribu atau bagaimana?” Pak Rahmat jadi moderator kali ini.
“Naikin dikit lah pak, BBM aja naik masak iuran gak naik-naik” Indra si ketua kelas jurusan TSM menawar.
“Jangan sombong wahai anak muda, awas aja kalau kelas mu yang bermasalah ngumpulin paling telat iuran nya bapak sunat kamu” Pak Rahmat meremas kertas yang ada di tangan nya.
“Iya pak ada bagus nya di naikkan saja iuran nya buat jaga-jaga takut nya barang yang kita beli tahun lalu harga nya sudah naik, dan kalau pun harga nya sama sisa uang nya bisa kita manfaat kan untuk kepentingan yang lain” Kali ini yang berbicara adalah Revan, ketua jelas sebelas TKR1.
“Iya pak gitu aja” Dinda setuju dengan usulan Revan.
“Yang lain gimana?” Pertanyaan pak Rahmat dibalas anggukan oleh peserta yang lain tanda setuju.
“Oke, kalau di naikkan kira-kira berapa? Setidak nya bisa kalian terima” pak Rahmat kembali bertanya.
“20ribu pas pak” Indra yang menjawab.
“20ribu apak gak kemahalan?” Tanya pak Rahmat.
“Standar pak, gak terlalu berat jugaa kan tiap kelas biasa nya ada uang cash perminggu paling bisa di talangi pakai itu” Nur bendahara Ayu memberi pendapat.
“Oke fix iuran nya kita kutip 20ribu perorang” Keputusan final pak Rahmat.
“Lalu untuk pengurus sudah bapak putus kan, kelas dua belas yang akan berangkat PSG tidak akan bapak beratkan lagi dengan tugas seperti ini. Kalian hanya perlu ikut rapat dan memberitahu bagaimana pengaturan event tahun lalu pada adik kelas kalian yang bertugas tahun ini”
“Kenapa gitu pak?” Tanya Fahri.
“Ya karna kalian akan sibuk, bapak tidak mau membebani kalian. Paham?!” Tanya pak Rahmat memastikan.
Dengan terpaksa Fahri mengangguk paham, padahal kemarin dia sudah terlalu sedang kalau Ayu sebagai wakil nya kali ini. Tapi apalah daya.
“Lalu untuk susunan acara ada yang mau di tambahkan?” Tanya pak Rahmat.
“Saya ada saran pak” Dinda mengangkat tangan.
__ADS_1
“Apa itu Dinda?”
“Gimana kalau kita buat acara yang adik kelas itu kasih surat semacam surat cinta gitu pak untuk kakak kelas yang mau berangkat, cuma untuk kakak kelas yang disuka aja pak. Pasti seru” Ucapan Dinda mendapat tatapan tak terima dari beberapa anggota lain, kedengaran nya saja sudah cringe. Apalagi kalau sampai terlaksana.
“Waw kedengaran nya seru” Pak Rahmat justru berbinar mendengar pendapat Dinda.
“Yakan pak, di sekolah kita ini jarang ada acara yang bisa dibilang sesuai usia remaja gitu pak. Yang ada olahraga terus” Dinda yang merasa pendapat nya dipertimbangkan kembali membujuk.
“Iya pak sekali-kali gitu kita dibuat sarana pernyataan cinta” Nur setuju dengan Dinda membuat Ayu melongo tak percaya.
“Cringe pak, kita gak setuju” Indra mengangkat tangan.
“Cringe apa nya bilang aja lo takut di tolak” Dinda memandang Indra kesal.
“Dih sorry strawberry gue udah sold out, lo aja kali kayak pengen banget dapat pernyataan cinta” Laki-laki itu jenis orang yang terus terang kalau tidak suka pada orang lain.
“Bapak setuju” Ucapan pak Rahmat membuat mereka semua melongo tak percaya.
“Nanti bapak bicarakan dengan kepala sekolah, keputusan nanti siang” Pak Rahmat membalas tatapan murid nya.
“Pak kalau kita gak suka sama kakak kelas satupun gak perlu buat surat ya pak, ribet” Revan mengangkat tangan.
“Kita setuju!” Seru siswa yang lain.
“Terserah, nanti siang pulang sekolah keputusan nya” Pak Rahmat menengahi.
“Ketua, Ayu Bunga Kaureen. Wakil Revan Raga Satria. Bendahara Indra Laksamana” Pak Rahmat menyebutkan nama murid nya sesuai dengan yang tertulis di buku catatan kecil nya.
“Bapak tidak terima penolakan, untuk seksi yang lain saya serahkan pada ketua. Pada bendahara mohon kerja sama nya untuk mengumpulkan uang tersebut dalam waktu dekat kalau ada yang tidak mau bayar suruh menghadap bapak. Paham?”
“Paham pak!!” Seru mereka serentak.
“Sekarang cukup sampai disini, nanti pulang sekolah kalian harus berkumpul lagi beri laporan sementara, jangan ada yang kabur. Terimakasih” Pak Rahmat meninggalkan ruangan itu lalu para murid pun keluar juga kembali ke kelas masing-masing.
Ayu mendadak pusing mendengar nama nya disebut sebagai ketua untuk event kali ini mau menolak mana bisa yang ada bapak guru killer itu akan lebih dulu mengamuk dan menelan nya.
Ini pertama kali nya Ayu berorganisasi tidak ada pengalaman public speaking nya pun kurang bagaimana cara dia mengarahkan anggota kalau begini. Dia harus bicara serius pada Revan selaku wakil seperti nya laki-laki itu bisa diandalkan.
“Revan!!” Ayu memanggil Revan, laki-laki itu langsung menoleh kearah Ayu.
“Wassap?” Tanya nya sok asik.
“Emm….gue mau ngasih tau, gue gabisa public speaking, gue juga gak banyak kenal mereka. jadi gue bisa minta tolong lo yang atur mereka. Gue bantu susun pengurus aja boleh?”
“Sebenarnya gue mau nolak, tapi lo tau kan pak Rahmat gimana. Yang ada gue di telen duluan sebelum complain” Ayu menunduk tidak berani melihat ekspresi Revan sekarang.
__ADS_1
“Oke santai, serahin ke gue” Revan tersenyum meski gadis itu tidak melihat senyum nya.
“Terimakasih” Ayu berani mengangkat kepala nya dan melihat Revan yang masih tersenyum.
Entah perasaan nya saja atau bagaiamana, belakangan ini dia seperti sering melihat wajah laki-laki ini tersenyum pada nya. Oh mungkin karena Ayu adalah sahabat Pacar nya jadi dia lebih bersikap ramah, maybe?
“Lo jadi minjem novel gue?” Tanya Revan mengalihkan pembicaraan.
“Serius mau minjemin ke gue?” Mata Ayu selalu saja berbinar kalau sudah membahas tentang Novel Thriller kesukaan nya.
“Serius, besok gue bawa deh” Ucap Revan.
“Jangan deh…. Yang kemarin belum kelar, gaboleh tamak” Ayu mengucapkan itu dengan wajah polos nya membuat Revan tertawa ngakak.
“Hahahahahaha tamak apaan, kan cuma stock” Kata Revan.
“Gausah deh, ntar kalau yang itu udah kelar baru gue pinjem langsung” Ayu menolak tawaran Revan, dia takut merepotkan.
“Yaudah gimana lo nya aja” Akhirnya Revan mengalah.
“WOI JANGAN PACARAN DISEKOLAH!!” Teriakan Pak Rahmat menggema di gedung sekolah, bikin malu saja sudah nuduh orang nyolot lagi.
“Ck!” Ayu berdecak sebal menatap tajam Pak Rahmat yang sedang tertawa di depan bengkel itu, beliau memang sengaja bikin malu paling tidak bisa melihat Ayu tenang satu hari saja.
“Masuk kelas gih” Suruh Revan pada Ayu yang masih menatap tajam pak Rahmat.
“Hmm” Setelah berdehem Ayu membuat gerakan dua jari nya kearah mata nya lalu kearah pak Rahmat dengan maksud
“I’m Watching you!”
Revan hanya tertawa, lucu sekali interaksi guru dan murid ini seperti tom and jerry. Padahal pak Rahmat salah satu guru paling di takuti karena tegas dan kejam eh Ayu malah santai banget becanda sama si bapak guru.
Revan sudah sampai dikelas nya setelah menjelaskan kenapa dia masuk terlambat pada guru yang mengajar, dia baru diizinkan masuk dan duduk mengikuti pelajaran.
Namun pikiran Revan kembali pada Ayu yang sekarang sudah mulai banyak bicara pada nya tidak seperti awal-awal dulu.
Kemudian dia teringat dengan ucapan Adiba.
“Ayu itu sebenernya bawel, banyak bacod tapi kalau dia udah nyaman aja sama itu orang”
Dan sekarang apa Ayu sudah mulai nyaman dengan dia?
...🌼🌼🌼...
Utor pengen kopi susu pake kopi
__ADS_1
🥱🥴