Bunga Anak STM

Bunga Anak STM
Jimat Keberuntungan


__ADS_3

Kembali pada rutinitas ‘its Monday” setelah libur satu hari untuk re-charge kekuatan berkumpul dengan keluarga atau dengan sahabat.


“Gile gue belum move on dari Ayu kemarin, kece bener dah tu anak orang” Anton berdecak kagum.


“Iyalah anak orang, emang anak kambing!” Revan mendengus.


“Waduh, abang fahri fans sejati neng Ayu nih apa-apa di like kalau ada Ayu nya”


Mendengar nama Ayu di sebut Revan yang ada di sebelah laki-laki itu langsung mengintip ponsel nya.


“Awas mata nya bintitan, ngintip-ngintip” Tegur Anton yang sadar dengan tingkah teman nya.


“Idih siapa yang ngintip, orang gue mau liat jam kok!” Revan membantah.


“Kok ngegas kan gue gak ngomongin elu” Anton terkekeh pelan.


“Kenapa lo juga mau tau?!” Lanjut Anton.


“Nih username nya aykaureen under score” Anton menyebutkan nama sosial media Ayu.


“Sorry gue gak suka stalking” Revan membanggakan diri.


“Bi to do cid, bicid!” Anton terus melanjutkan aktifitas berseluncur di dunia maya nya, ya kalau seluncur beneran kan gak bisa lagi study.


“Ketua kelas disuruh ke kantor guru!!” Seruan dari teman sekelas Revan yang baru nongol di pintu kelas.


“Ngapain?” Tanya Revan malas.


“Mana saya tahu, kok tanya saya!?” Jawab anak yang menyampaikan pesan itu.


“Bagi sembako kali van, sono gih kan mayan” Anton ikut-ikutan.


Revan malas berdebat dengan teman ajaib nya hari ini jadi dia hanya merapikan meja nya dan beranjak keluar dari kelas.


Setelah sampai di lantai satu mata Revan tak sengaja melihat Ayu yang seperti nya mau ke kantor guru juga.


Kantor Guru sekarang sudah ramai berkumpul ketua kelas dari setiap kels dan jurusan.


“Udah kumpul semua?” Tanya pak Rahmat selaku penanggung jawab.


Tidak ada yang menjawab, karena mereka tidak tahu siapa rekan ketua kelas dari kelas lain.

__ADS_1


“Ayu, mana Adin?” Tanya Pak Rahmat bingung karena kali ini kelas nya di wakili Ayu.


“Gak masuk Pak” Jawab Ayu.


“Kenapa gak masuk?” Tanya pak Rahmat lagi.


“Gak tau pak” Jawab Ayu malas, dia sudah tahu urusan tanya jawab ini akan panjang.


“Kenapa kamu gak tau?” Pak Rahmat sudah seperti wartawan saja.


“Karena saya gak tau pak” Jawab Ayu santai, bukan bermaksud tidak sopan tapi memang harus begitu melawan guru ini.


“Harus nya kamu tahu, kan kamu wakil ketua kelas” Pak Rahmat melanjutkan pertarungan.


Pak Rahmat memang salah satu guru yang paling usil pada Ayu.


“Pak kita disuruh ngumpul cuma liatin bapak jadi wartawan?” Fahri si ketua Angkatan mulai protes.


“Maaf…maaf, bapak demen liat muka kesel si Ayu. Haha” Pak Rahmat bukan nya merasa bersalah.


“Sebelum nya gak nyaman kalau kita rapat disini, jadi sekarang kita keruang Angkatan saja” Pak Rahmat berjalan lebih dulu di susul para ketua kelas.


“Baik disini bapak sebagai guru penanggung jawab untuk event kali ini ingin menyampaikan bahwa keberangkatan kelas dua belas untuk PSG dilaksanakan senin depan, jadi seperti biasa kita harus ada acara perpisahan sederhana” Jelas pak Rahmat masuk ke inti pertemuan kali ini.


“Seperti biasa nya aja pak!” Jawab Indra perwakilan ketua kelas sebelas TSM.


“Saya tau kalau kamu malas mikir Indra” Sindir pak Rahmat.


“Bukan gitu pak, kalau memang acara nya senin depan berarti kita cuma punya waktu persiapan 5 hari. Gak cukup kalau mau buat program baru” Jawab Indra.


“Benar pak, saya setuju. 5 hari itu waktu nya bentar apalagi anak-anak sini masalah kutip uang suka lama” Jawab Dinda si bendahara angkatan.


“Yang lain bagaimana?” Tanya pak Rahmat dan hanya dibala anggukan dari ketua kelas yang lain.


“Jangan ngangguk-ngangguk aja dong, ngomong kek malas banget gue” Pak Rahmat kambuh.


“Ayu how ‘bout you?” Pak Rahmat lagi-lagi menyerang Ayu.


Ayu sebenarnya tidak pernah ikut rapat-rapat begini karena dia hanya wakil apalagi dia bukan orang yang punya public speaking yang bagus.


“Follow you sir” Jawab Ayu santai.

__ADS_1


“Santai..kayak di pantai” Sindir pak rahmat.


“Ikut seperti event biasa nya aja pak biar lebih efisien dan praktis, kalau nambah ide kayak nya waktu gak cukup untuk ngumpul duit satu kelas saja susah nya minta ampun pak. Boro-boro mau kreatif” Revan yang mengajukan pendapat dan diangguki anggota lain.


“Baik kalau kalian bisa nya seperti itu” Anggukan kepala pak Rahmat.


“Kita bagi panitia saja ya, saya serahin kepada ketua angkatan saja” Pak Rahmat menunjuk Fahri yang duduk disamping Ayu.


“Dan khusus untuk wakil Fahri, gue pilih lo?” Kini tangan kanan pak Rahmat menunjuk gadis disebelah Fahri.


“Gabisa gitu dong pak, kan harus voting dulu” Dinda si sektaris Angkatan protes.


“Tadi katanya kalian gak cukup waktu buat mikir sekarang kok protes” Pak Rahmat mendengus.


“Yaudah terserah kalian bae gimana enak nya, pokoknya besok bapak sudah terima laporan struktur panitia a.k.a pengurus” Keputusan Final pak Rahmat dan dibalas anggukan oleh semua anggota.


“Oke rapat kita bubarkan, dan kalian kembali ke kelas masing-masing jangan ada yang kedapatan cabut. Jalan jongkok keliling sekolah 100 kali” Baiklah, se-asik apapun pak Rahmat jadi guru muda disekolah ini beliau tetap termasuk salah satu guru yang menyandang gelar killer.


“SIAP laksanakan!!” Seruan para ketua kelas, lalu membubarkan diri.


“Ayu!!” Fahri memanggil Ayu yang sudah hendak naik tangga.


“Apa?”


“Lo tetap jadi wakil gue, sesuai arahan pak Rahmat” Fahri memberitahu dengan senyuman.


“Terserah” Setelah mengucapkan itu Ayu melanjutkan langkah nya menaiki tangga.


Di STM PB setiap kali ada pemberangkatan PSG pada anak tingkat dua dan tiga maka akan ada event sederhana seperti perpisahan, karena akan 2 sampai 3 bulan mereka tidak akan bertemu dengan senior mereka itu.


Acara nya sederhana, seperti biasa ada Upacara bendera, lalu mereka akan di kumpulkan di Aula Besar sekedar menerima nasehat dari kepala sekolah lalu acara nya hanya akan seperti hiburan dari adik kelas untuk senior yang akan berangkat. Terakhir dari perwakilan adik kelas akan memberikan souvenir pada kakak kelas nya, mereka biasa nya menyebut itu ‘jimat keberuntungan’ bagi si kakak kelas. Terdengar absurd bukan? Namun itu adalah tradisi turun menurun yang wajib di lakukan setiap angkatan entalah katanya hanya untuk mempererat rasa kekeluargaan di STM Peduli Bangsa ini dan memang benar tujuan itu sudah terwujud.


Setiap ketua kelas akan mengumpulkan uang dari kelas masing-masing lalu akumulasikan untuk membeli ‘jimat keberuntungan’ itu, biasa nya berupa stationery atau alat yang di perlukan selama PSG. Bukan barang mahal tapi tetap berharga.


...🌼🌼🌼...


Beli batrai di pasar minggu


*kamu cantik ai nap yu **💕*


Pantun diatas adalah karya dari keponakan utor 🤣🤣

__ADS_1



__ADS_2