
"Kelihatan nya hari ini suasana hati kamu kurang baik, apa ada masalah?" tanya Yoga. Adel menggeleng kan kepala nya.
"Lalu kenapa kamu dari tadi kelihatan nya cemberut, diam dan memasang mata sedih seperti itu?" tanya Yoga.
Adel menggeleng kan kepala nya. Yoga sudah tau pasti tentang suami nya.
"Aku tau kalau urusan kamu dengan suami kamu tidak harus aku tau, tapi kalau kamu mau cerita sama ku, silahkan. Aku akan selalu mendengar kan kamu kok." ucap Yoga.
Adel menatap Yoga. Namun dia tiba-tiba bersandar di pundak Yoga. "Aku hanya ingin diam saja." ucap Adel.
Yoga tidak banyak tanya dia membiarkan Adel istirahat sebentar.
Di kantor Alan...
Dia baru saja sampai di ruangan nya. Sekretaris nya masuk mengantarkan beberapa pekerjaan untuk Alan.
"Pak Alan." ucap Sekretaris nya. Alan menatap sekretaris nya itu. "Ada apa?" tanya Alan. Intan sekretaris nya menutup mulut wajah terkejut.
"Ada apa? Kenapa?" tanya Alan. Intan menggeleng kan kepala nya dia langsung permisi keluar.
"leher Pak Alan Banyak bekas merah, apa dia tidak menyadari nya datang ke sini?" batin Intan.
Alan berjalan ke arah cermin karena dia merasa ada yang salah dengan penampilan nya.
Namun setelah di periksa kembali tidak ada yang salah.
"Tidak ada yang salah, kenapa intan menatap saya seperti itu?" ucap Alan.
Namun saat menyamping dia kaget ternyata leher di bawah telinga nya banyak bekas merah.
"Sial! Pantesan saja dari tadi banyak orang yang menatap ku aneh. Siska benar-benar." batin Alan kesal.
Dia jadi sangat malu sekali,. namun tiba-tiba dia teringat Adel yang Juga langsung berubah setelah melihat dia.
"Ah sudahlah ini hal normal, ini sudah biasa bagi orang-orang." batin Alan dia kembali bekerja.
Waktu pulang sekolah...
Sarah pamit pulang duluan dari Yoga dia tidak ingin lama-lama di sana karena mau cepat pulang.
Sementara Alan masih tetap fokus bekerja dia tidak istirahat sebelum semuanya selesai.
Tidak beberapa lama akhirnya selesai waktu nya pulang kerja.
Handphone nya berbunyi telpon dari Siska.
__ADS_1
"Sayang maafin aku yah, seperti nya aku tidak bisa keluar hari ini, di rumah ku ada acara keluarga." ucap Riska di SMS.
Alan menghela nafas panjang. "Huff kalau seperti ini aku hanya bisa menghabiskan waktu ku di rumah. Sangat membosankan sekali." ucap Alan.
Melihat jam sudah jam Tujuh malam dia memutuskan kembali ke rumah. Di perjalanan dia melihat restoran favorit nya masih buka.
Namun dia teringat lagi masakan Adel yang sangat enak. "Aku makan di sini atau di rumah yah?" ucap nya kebingungan.
Karena bingung Alan langsung memilih pulang saja. Tidak beberapa lama akhirnya sampai di rumah. Dia melihat rumah masih gelap.
"Loh kenapa Lampu tidak hidup? Kemana dia?" batin Alan dia menghidupkan lampu semua nya.
Alan menelpon supir Adel.
"Halo Pak." jawab supir.
"Di mana Sarah? kenapa dia tidak ada di rumah?" tanya Alan.
"Oohh Non Sarah di rumah nya Bapak sama Ibu." ucap supir memaksudkan orang tua Alan.
"Kenapa dia di sana?" tanya Alan. "Saya juga tidak tau Pak, masih bagus non Adel mau saya antar ke sana. Non Adel meminta saya meninggalkan dia di taman kota." ucap supir.
Alan menghela nafas panjang. Dia langsung mematikan handphone nya.
"Dia benar-benar hanya bisa membuat masalah saja!" ucap Alan. Walaupun sudah lelah dia harus menyusul istri nya.
Tidak beberapa lama akhirnya sampai. "Adel! Adel! Keluar kamu!" ucap Alan.
Adel yang tadi nya sedang minum di dapur langsung menghampiri suami nya.
"Kak Alan." ucap Adel.
Alan menatap Adel dengan tatapan marah.
"Ngapain kamu ke sini? siapa yang menyuruh kamu ke sini?" tanya Alan.
"Kenapa kak, aku hanya ingin main di sini." ucap Adel.
"Pulang! kamu jangan mencoba membuat saya malu!" ucap Alan menarik tangan Adel masuk ke dalam mobil dengan sangat kasar sekali.
"Lepaskan aku kak, aku gak mau pulang, aku gak mau di rumah. Aku tidak tahan melihat bekas perempuan lain di badan suami ku." ucap Adel.
"Plak!!! Tamparan keras di wajah Adel. Langsung berbekas di wajah Adel yang putih.
Bibi yang melihat itu hanya bisa diam, karena tidak berani ikut campur dengan urusan mereka.
__ADS_1
"Masuk ke dalam mobil!" ucap Alan. Adel yang menahan sakit kepala nya pusing tidak sadar lagi kalau Alan menarik nya ke dalam mobil.
Alan meninggalkan rumah orang tua nya.
"Saya tidur dengan perempuan mana pun itu bukan urusan kamu! Ingat kalau kita hanya di jodohkan." ucap Alan.
Namun Adel tidak menjawab. Wajah nya di tutupi oleh rambut lebat dan panjang.
Tidak beberapa lama akhirnya sampai juga di rumah.
Alan menoleh ke arah Adel yang dari tadi tidak bergerak.
"Kenapa kamu hanya diam saja? Turun! kita perlu berbicara!" ucap Alan.. Namun tidak ada jawaban.
Alan menggerakkan badan Adel namun Adel tidak merespon. Alan menyisihkan rambut Adel dan ternyata Adel sudah pingsan. Bekas tangan nya sudah membiru di wajah Adel.
"Bangun!! Perempuan bodoh bangun, kamu jangan mencoba membuat saya emosi." ucap Alan. Namun tidak ada respon dari Adel.
"Apa dia pingsan?" ucap Alan.
Alan terpaksa menggendong Adel ke kamar nya. Wajah Adel pucat.
"Apa yang sudah ku lakukan? Kenapa aku begitu kejam kepada Adel?" batin Alan sambil memerhatikan tangan nya.
Karena merasa bersalah dia mengambil air untuk mengompres wajah Adel. Dia menunggu Adel sampai bangun.
Sudah tengah malam Adel tak kunjung bangun. Alan semakin takut terjadi apa-apa kepada Adel.
"Bagaimana Ini? apa yang harus ku lakukan?" ucap Alan.
Dia mencari minyak kayu putih agar Adel bangun namun sia-sia.
"Seperti nya aku harus menelepon dokter." batin Alan.
"Tapi tidak mungkin aku menelpon Dokter keluarga ku, sebaiknya aku meminta dokter lain saja agar hal ini tidak terdengar kepada orang tua ku mau pun orang tua Adel." batin Alan takut ketahuan.
Tidak beberapa lama dokter Datang. Dia terkejut melihat keadaan Adel.
"Apa yang sudah terjadi Pak Alan? kenapa bisa seperti ini?" tanya dokter. "Saya khilaf pak, saya sedang ada masalah." ucap Alan mencari alasan.
Dokter memeriksa nya.
"Bagaimana dok?" tanya Alan.
"Istri bapak pingsan karena tamparan di wajah nya langsung mengenai Saraf di kepala nya. Di tambah lagi perut nya kosong." ucap dokter.
__ADS_1
"Lalu bagaimana Dok? Saya harus melakukan apa?" tanya Alan.
"Sebentar lagi dia akan bangun, saya sudah menyuntikkan obat, kalau sudah bangun usahakan makan banyak dan setelah itu minum obat. Jangan lupa juga memar di wajah nya di kompres." ucap Dokter.