
Alan mendengar kan Kata-kata Riska.
"Bagaimana menurut kamu?" tanya Riska setelah selesai memberi tau ide nya.
"Bagus juga tuh, tapi aku rasa itu tidak akan berhasil." ucap Alan. "Kamu harus menyusun rencana sebagus mungkin lah dan membuat dia juga trauma dan memilih untuk meninggalkan kamu." ucap Riska.
"Bersifat kasar kepada nya tidak akan membuat dia pergi, hanya dengan cara ini." ucap Riska.
"Bagus sih, aku akan mencoba menjalankan ide nya." ucap Alan. "Kamu tenang saja, aku pasti akan membantu kamu kok." ucap Riska, Alan tersenyum.
"Ya udah kalau begitu ayo lanjut makan." ucap Riska.
Adel dan Yoga sudah mau perosotan betapa bergembira nya sangat senang sekali seperti tidak ada masalah.
Alan sudah kembali ke rumah terlebih dahulu namun Adel belum pulang. Alan mengirim kan pesan agar istri nya pulang.
Lagi asik makan bersama ibu nya Yoga karena sudah sangat lapar karena berenang tiba-tiba mendapat pesan dari suami nya.
Dia tidak bisa menolak dia langsung Ijin pamit kepada yoga dan Mamah nya.
"Tante Aku pulang duluan yah, aku sudah di tungguin di rumah." ucap Adel.
"Aku anterin yah." ucap Yoga.
"Gak usah Yoga, kamu belum makan sama sekali. Aku sudah memesan taksi kok." ucap Adel.
"Tapi.."
"Udah gak apa-apa," ucap Adel dia pun langsung keluar dari sana menemui taksi yang menunggu nya.
"Huff semoga saja sampai di rumah tidak di marahin oleh Kak Alan." batin Adel.
Tidak beberapa lama akhirnya sampai di rumah. Melihat mobil dan pintu terbuka membuat nya takut.
Adel masuk tidak melihat siapapun Alan tiba-tiba keluar dari dalam kamar nya.
"Kamu sudah pulang." ucap Alan, Adel langsung menunduk kan kepala dan mengangguk.
"Bagus deh. Tolong bersih kan kan kamar saya!" ucap Adel.
Adel mengangguk dia meletakkan tas dan juga handphone nya di atas meja segera ke kamar Alan.
Dia sangat kaget melihat kamar Alan yang begitu berantakan sekali. Entah di sengaja atau tidak Adel tidak tau. Tapi setau nya Alan tidak suka dengan hal yang berantakan.
Tidak beberapa lama dia selesai menyiapkan semua nya.
__ADS_1
"Kamu mau kemana?" tanya Alan yang berdiri di pintu dari tadi.
"Semua nya sudah bersih kak, aku tidak ingin lama-lama di sini kakak pasti mau istirahat." ucap Adel.
"Besok hari Senin, Cucian sangat banyak. Baju saya juga hari Senin Kotor." ucap Alan. Adel baru ingat kalau dia sudah beberapa hari tidak menyuci.
"Kalau begitu aku akan mencuci nya kak." ucap Adel.
Sangat banyak ternyata pakaian suaminya.
Alan berharap Adel akan mengeluh dan protes namun ternyata tidak sama sekali.
Alan menghela nafas panjang.
"Memancing dia marah tidak lah berhasil." ucap Alan sambil duduk di pinggir kasur.
"Aku harus mencobanya lagi sebelum mencoba cara ke Dua." batin Alan.
Dia terus menyuruh Adel tampa henti sampai Adel kelelahan namun dia tidak menolak dia hanya bisa menginyakan sampai Alan bingung harus menyuruh apa lagi.
"Argh!! Gagal! Tidak ada gunanya aku mengawasinya dari tadi." ucap Alan.
Sudah malam waktu nya istirahat dia berbaring di tempat tidur.
Namun tiba-tiba dia merasa haus dia mau mengambil minum keluar. Dia melihat Adel yang duduk di sofa ruang tamu sambil mengoleskan Minyak urut ke kaki, lengan dan juga leher serta pinggang nya.
Melihat Itu Alan merasa bersalah. Tidak seharusnya dia menyuruh Adel melakukan hal yang tidak seharusnya Pekerjaan nya.
Mengingat sudah beberapa hari tidak sekolah Alan tidak ingin juga Adel sakit. Dia mendekati ruang tamu dan membantu Adel mengoleskan ke punggung nya.
Adel terkejut namun Alan memijit-mijit Punggung Adel.
"Auhh sakit kak, pelan-pelan." ucap Adel. "Sangat lemah sekali, hanya pekerjaan seperti itu sudah membuat kamu sakit." ucap Alan.
Adel terdiam. "Sudah kak, terimakasih." ucap Adel langsung meminta Alan berhenti.
Namun Alan terus melanjutkan nya. Dia mengusahakan dengan lembut agar enakan. Karena pertama tadi sangat lah kuat.
Adel menikmati pijitan Tangan suami nya sehingga mata nya mengantuk. Dia ketiduran saat Alan masih memijit-mijit.
Alan langsung menahan Kepala Adel yang hampir jatuh dengan tangan nya.
"Apa-apaan ini? Kenapa dia malah tertidur?" ucap Alan.
Dia membaringkan kepalanya Adel bantal sofa.
__ADS_1
Alan memijit tangan Adel, karena melihat nya mencuci kain menggunakan tangan nya.
"Sial! Saya yang membuat nya seperti ini, saya sendiri yang kerepotan." ucap Alan.
"Aku ingin pergi.." ucap Adel mengigau. Alan langsung menatap wajah Adel.
"Aku ingin menghilang dari dunia ini. Aku sangat lelah." ucap Adel lagi. Alan kaget karena setitik air jatuh ke kaki nya yang Duduk di lantai.
Alan melihat mata Adel. Walaupun dia tertidur tetapi dia menangis.
"Tidak ada yang perduli kepada ku, tidak ada sayang kepada ku." ucap Adel lagi setelah itu dia diam.
Alan menghentikan Memijit Adel.
"Apa aku sudah salah menjadikan Adel pelampiasan dari semua masalah yang aku miliki?" ucap Alan.
Keesokan harinya.. Adel membuka mata nya dia melihat dia tidur di ruang tamu.
"Kenapa aku bisa tidur di sini?" ucap Adel.
Dia bangun namun kaget karena Alan juga tidur di sofa tepat di sebelah nya.
"Kak! Kak! Kak Alan bangun." Adel membangun kan nya. Alan bangun dia melihat Adel.
"Bagaimana dengan badan kamu? apa masih sakit?" tanya Alan.
Adel menggerakkan badannya. Tidak ada yang terasa sakit. "Loh kok bisa sih? Cepat sekali sembuh nya." batin Adel.
"Aku rasa sudah sembuh Kak. Terimakasih sudah memijit-mijit Punggung ku." ucap Adel..Alan tidak mengatakan apapun dia langsung ke kamar nya untuk siap-siap ke kantor.
Sementara Adel memasak terlebih dahulu dan langsung mandi.
Waktu nya berangkat ke sekolah..
Begitu juga dengan Alan. "Kenapa kamu belum berangkat?" tanya Alan melihat Adel masih duduk di teras.
"Aku menunggu supir kak." ucap Adel.
"Saya lupa kalau, supir kamu sedang sakit." ucap Alan.
"Oohh begitu, aku akan berangkat menggunakan taksi saja." ucap Adel.
"Tidak perlu. Kamu akan saya antar." ucap Alan.
"Gak usah kak, aku naik taksi saja." ucap Adel.
__ADS_1
"Jangan keras kepala kamu!" ucap Alan. Adel seketika langsung terdiam.
"Ayo naik ke dalam mobil!" ucap Alan. Adel sudah deg-degan dia bingung harus ngapain namun dia tetap naik dari pada kena marah oleh Alan.