
Dia duduk di sofa sambil mengingat kata-kata Bunda dan Ayah nya. "Bunda sangat menyesal memiliki anak seperti kamu, tidak bisa di andalkan." kata-kata itu terngiang-ngiang di pikiran Yoga.
"Huff kenapa sih harus seperti ini? Kalau seandainya aku bisa memilih aku tidak ingin di lahir kan ke dunia ini. Aku capek. Aku lelah." ucap Adel
Alan di tempat kerja nya. Dia melihat pesan nya di balas oleh mertuanya.
"Maaf kan kesalahan Adel nak Alan. Kami sudah menasehati dia." ucap Bunda nya Adel.
Alan tersenyum. "Bagus deh kalau begitu." batin Alan.
Namun tiba-tiba kepala nya sakit. "Huff ada apa dengan badan ku hari ini? Kepala ku sangat sakit sekali, badan ku lemas dan juga tidak berselera makan." batin Alan sambil memegang kepala nya.
Sekretaris nya masuk.
"Pak ini berkas-berkas yang bapak minta." ucap sekretaris nya. "Letakkan saja di atas meja." ucap Alan.
Sekretaris nya melihat Wajah Alan pucat. "Pak Alan baik-baik saja? Kelihatan nya bapak sedang sakit." ucap sekretaris nya.
Alan menggeleng kan kepala nya. "Seperti nya jadwal saya malam ini di batalkan saja, kepala saya sangat pusing." ucap Alan.
Sekertaris nya melihat jam sudah di angka tujuh malam.
"Tapi tiga puluh menit lagi klien sudah sampai di sini pak." ucap sekretaris nya. Alan menghela nafas panjang. "Kalau begitu saya akan mengambil kan obat." ucap sekretaris nya.
Tidak beberapa lama Alan meminum obat kepala nya sedikit ringan. Sudah bertemu dengan klien nya. Satu jam mereka berbicara mengenai pekerjaan.
Karena Melihat Alan sudah sangat tidak fokus lagi, pembahasan tidak ada yang terlalu penting akhirnya Sekretaris nya mengakhiri pertemuan mereka.
"Pak Alan yakin mau pulang sendiri? Sebaiknya tunggu supir saja Pak." ucap Sekertaris nya. Alan menggeleng kan kepala nya.
"Tidak perlu, saya masih bisa pula sendiri." ucap Alan. Sekertaris nya membiarkan Alan pergi meninggalkan kantor.
Mobil yang di kendarai oleh Alan tidak berjalan normal. Namun dia terus memaksa ke rumah. Sesampainya di rumah dia merasa lega.
Membuka pintu mobil dan berjalan sambil memegang kepala nya yang terasa sangat pusing.
"Akhirnya kakak pulang juga, mari kita membicarakan tentang yang terjadi. Aku tidak tahan kalau kakak selalu membenci ku seperti ini." ucap Adel.
Dia sudah merancang kata-kata itu dan menyiapkan mental untuk berbicara dengan tegas kepada Alan.
Dia melihat mobil Alan datang jantung nya sudah berdetak kencang.
__ADS_1
"Aku harus berani, aku harus berani." ucap Adel.
Dia membuka pintu agar Alan masuk.
"Akhirnya kakak pulang juga, aku ingin menanyakan maksud kakak mengirim foto itu kepada orang tua ku!" ucap Adel.
"Argh!!" Alan melihat wajah Adel sebentar dan setelah itu dia pingsan. Hampir jatuh namun Adel menahan nya dengan sekuat tenaga.
"Kak Alan! Kak, kakak kenapa?" tanya Adel. Alan tidak menjawab. Namun Adel merasakan badan Alan yang sangat panas sekali.
Adel langsung membawa nya ke sofa.
"Kak Alan bangun.." ucap Adel, namun Alan tidak merespon.
"Badan nya begitu panas sekali, bagaimana bisa seperti ini?" ucap Adel. Dia mencari plester penurun panas khusus dewasa dan menempel kan kepada kening Alan.
Adel syok dia bingung harus bagaimana namun dia tetap berusaha untuk tenang memikirkan apa yang harus dia lakukan.
"Tenang Adel.. Tenang, telpon dokter terlebih dahulu." ucap nya dia menelpon dokter, namun dokter tidak bisa datang karena sudah malam.
Adel terpaksa mencari sesuatu untuk membuat badan Alan mendingan.
"Kak Alan bisa mendengar ku gak? Kak! Kak." panggil Adel. Namun Alan tidak merespon.
Setelah selesai dia memerhatikan wajah Alan. "Sangat pucat sekali, kenapa tiba-tiba seperti ini? Tadi pagi baik-baik saja, bahkan dia masih sempat membuat orang tua ku salah paham." batin Adel.
Dia mengingat setelah pulang dari rumah Orang tua nya. Dia mengumpat Alan habis-habisan, menyumpahi nya bahkan keluar dari mulut nya kalau Alan akan merasakan hal menyakit kan yang belum pernah dia rasakan." ucap Adel.
Dia berfikir kalau doa nya terkabul. "Adel.. istri macem apa kamu? Kenapa kamu sangat tega menyumpahi suami kamu sendiri." ucap nya kepada diri sendiri.
Adel selesai Me lap Badan Alan. Adel mau pergi namun tiba-tiba tangan nya bergerak.
"Kakak sudah bangun?" ucap Adel.
Alan membuka mata nya perlahan.
Alan menoleh ke arah meja yang ada Air nya. Dia mau mengambil nya sendiri namun Adel langsung membantu.
Alan menolak bantuan dari Adel, namun Adel tetap memaksa nya untuk minum. Alan minum dan setelah itu dia berbaring lagi.
"Kenapa kakak bisa seperti ini?" tanya Adel.
__ADS_1
"Kamu tidak perlu tau. Menyingkir lah." ucap Alan mau pergi namun masih sangat pusing.
"Kakak mau kemana? Kakak belum sembuh. Bahkan wajah kakak semakin pucat sekali." ucap Adel.
"Tidak perlu sok perhatian. Awas!" ucap nya menepis tangan Adel.
Namun Adel tetap mau membantu Alan ke kamar nya.
Sampai di kamar Alan berbaring menutup mata nya dengan nafas yang tersengal-sengal.
"Kakak Minun ini dulu untuk menurunkan panas badan kakak, setelah itu kakak tidur aku akan memasak." ucap Adel.
Alan hanya mengikuti perintah Adel. Sekarang badan nya terasa sangat tidak berdaya, tidak memiliki tulang, dia tidak bisa melihat dengan jelas, kepala nya benar-benar sangat sakit sekali.
Setelah selesai minum obat Adel menyelimuti nya karena Alan kedinginan.
Memastikan Alan sudah tidur dia pun keluar.
Alan memegang kepala nya yang terasa sangat sakit.
"Aaarrggg... kenapa bisa sesakit ini? Huff.."
Tidak beberapa lama Adel kembali, dia melihat Alan membuka selimut dan bergeliat di atas tempat tidur sambil merintih kesakitan.
"Argghh sakit.." ucap Alan.
Adel duduk di pinggir kasur. Alan langsung memeluk nya.
Adel sedikit kaget namun dia langsung memijit-mijit kepala Alan, sudah sedikit ringan Alan bisa tenang sambil memeluk Adel.
"Kakak Makan lah terlebih dahulu." ucap Adel..Alan menggeleng kan kepala nya.
"Kakak harus makan agar cepat sembuh." ucap Adel.
"Saya tidak berselera, pergi dan bawa lah itu keluar." ucap Alan.
Adel menghela nafas panjang. "Perut kakak tidak berisi sama sekali, kakak tidak akan membaik kalau seperti itu." ucap Anisa.
"Aku sudah Memasak bubur yang enak. Kakak berbaring lah dengan benar, aku akan menyuapi." ucap Adel dengan lembut sambil menata bantal agar Alan tidur dengan benar.
Alan menatap wajah Adel yang tersenyum sambil menyuapi nya.
__ADS_1
"Beberapa malam ini kakak selalu pulang dengan keadaan mabuk, kakak juga mengkonsumsi banyak obat-obatan terlarang." ucap Adel.