
"Sebelum nya kamu juga menstruasi tanggal segini, saya akan mencari obat dan juga Air hangat untuk kamu." ucap Alan.
Alan lupa kalau perut nya lapar, setelah Adel sudah tidak menjerit lagi dia merasa lega.
"Maaf yah kak karena aku sakit perut kakak jadi beli nasi seperti ini." ucap Adel, karena mereka berdua lagi makan di kamar Adel bersama.
"Tidak apa-apa! Lain kali ingat kan saya kalau kamu sudah mendekati tanggal menstruasi saya mungkin lupa seperti sekarang." ucap Alan.
Adel terdiam sejenak.
"Kenapa kak?" tanya Abel karena Alan menatap nya.
"Justru kamu yang kenapa? lanjut makan setelah itu istirahat." ucap Alan.
Adel mengangguk. Setelah selesai makan adel lanjut istirahat.
Dia berusaha untuk tidur berbalik terus mencari tempat yang nyaman namun tetap saja. Sampai Alan yang duduk di sofa menghela nafas panjang melihat Adel di tempat tidur.
"Tidur lah yang benar. Ini sudah jam berapa." ucap Alan. Adel membuka selimut nya dia melihat ke arah Alan.
"Aku tidak bisa tidur." ucap Adel. Alan meletakkan laptop nya dan keluar mengambil sesuatu yang hangat Mengompres perut Adel.
Keesokan harinya...
Alan terbangun karena suara alarm ponsel Adel. Dia mematikan nya. Alan Menatap wajah Adel yang tidur begitu nyenyak di lengan nya.
Adel perlahan membuka mata nya karena merasakan sentuhan Alan yang merapikan rambut nya.
"Kamu sudah bangun?" ucap Alan. Adel tersenyum sambil mengangguk.
"Maaf kan saya sudah membuat kamu terbangun." ucap Alan. Adel menggeleng kan kepala nya.
"Aku harus bangun pagi karena hari ini aku piket." ucap Adel.
"Humm bagaimana dengan perut mu?" tanya Alan.
"Sedikit sakit, tapi aku bisa mengatasi nya." ucap Adel.
Dia duduk namun tangan nya di tahan oleh Alan.
"Libur lah satu hari agar perut kamu tidak terlalu sakit." ucap Alan.
Adel menggeleng kan kepala nya sambil menatap wajah Alan.
"Ini sudah semester terakhir, kalau aku libur nanti aku bisa ketinggalan pelajaran." ucap Adel.
"Oohh. Kalau begitu saya akan mengantar kan kamu ke sekolah." ucap Alan.
Adel kaget dengan ucapan Alan.
"Kakak serius?" ucap Adel. "Kamu mau atau tidak?" ucap Alan.
__ADS_1
"Iyah aku mau." ucap Adel sambil tersenyum.
"Kamu tidak perlu masak sarapan, kita sarapan di luar saja." ucap Alan. Adel mengangguk.
Setelah semua nya sudah selesai mereka berangkat. Adel memerhatikan penampilan Alan yang berbeda dari biasanya.
"Ada apa? kenapa kamu melihat saya seperti itu?" tanya Alan.
"Sangat aneh kalau kakak berpakaian santai seperti ini ketika mau keluar. Biasanya tiada hari tanpa pakaian yang sangat formal membuat semua orang segan dan takut." ucap Adel.
"Apakah saya terlalu buruk memakai pakaian seperti ini? Saya akan menukar nya." ucap Alan. Adel menahan tangan Alan.
"Tidak buruk, hanya terlihat tidak biasa aja." ucap Adel.
Alan melihat penampilan nya.
"Ini sudah mau telat sebaiknya kita langsung berangkat." ucap Adel. Alan mengangguk.
Tidak beberapa lama akhirnya mereka sampai di sekolah.
"Huff Untung saja tidak telat, aku langsung masuk yah kak. Terimakasih sudah mengantarkan aku." ucap Adel menyalim tangan Suami nya.
"Tunggu dulu." tahan Alan.
"Iyah kenapa kak?" tanya Adel.
"Kita belum jadi sarapan, ambil lah ini untuk sarapan di kantin sekolah." ucap Alan memberikan beberapa lembar uang.
Alan mendengar itu tersenyum tipis. Merasa lucu dengan jawaban Adel.
"Kalau begitu aku masuk dulu yah kak." ucap Adel.
"Kamu pulang jam berapa? Saya akan menjemput kamu." ucap Alan.
"Tidak perlu kak, aku bisa pulang bersama teman ku. Kakak pasti bekerja aku tidak mau merepotkan Kakak." ucap Adel.
"Hari ini saya libur." ucap Alan.
"Kalau begitu istirahat lah di rumah." ucap Adel langsung pergi dari mobil.
Alan melihat Adel berlari ke dalam sekolah.
"Kenapa dia harus lari-lari? Bagaimana kalau perut nya tiba-tiba sakit?" ucap Alan.
"Husss!! Apa yang terjadi kepada ku? kenapa aku jadi sangat mengkhawatirkan dan perduli kepada Adel?" ucap nya.
Alan pergi meninggalkan sekolah Adel.
"Alan... Sudah lama kita tidak berjumpa." ucap teman nya.
Alan mendatangi salah satu teman nya yang menjadi dokter di kota itu.
__ADS_1
Alan hanya tersenyum tipis.
"Ada apa Kau datang ke sini?" tanya James teman nya sambil duduk di depan Alan.
"Aku mau kau memeriksa tubuh ku, aku rasa ada yang aneh." ucap Alan.
James menghela nafas sambil memerhatikan Alan.
"Kelihatan nya tidak ada yang salah dengan mu, namun mari di periksa terlebih dahulu." ucap James.
"Keluhan nya apa saja?" tanya James.
Alan menceritakan apa yang aneh di tubuh nya, namun setelah di periksa semua nya baik-baik saja.
"Semua nya baik-baik saja, aku akan memberikan vitamin saja agar lebih fit." ucap James.
"Tidak mungkin." ucap Alan.
"Kau sangat rajin merawat tubuh mu dan juga kehidupan ku sangat lah sehat tidak mungkin kau memiliki penyakit. Hanya karena kelelahan saja." ucap James.
"Kalau tidak sakit kenapa tiba-tiba jantung ku berdebar begitu cepat? Wajah ku merah." batin Alan.
"Kalau begitu terimakasih, aku permisi." ucap Alan.
"Eits tunggu dulu." James menahan nya.
"Sudah lama kita tidak bertemu satu sama lain, masih banyak juga teman kita yang sekarang sudah sibuk dengan dunia nya masing-masing, mari minum di Cafe bawah." ajak James.
Berhubung Alan libur dia menginyakan ajakan James.
"Bagaimana hubungan mu dengan Mutiara? Apa kalian masih bersama?" tanya James setelah sudah sampai.
"Tidak perlu membahas itu. Kau juga pasti sudah tau kalau aku sudah menikah." ucap Alan.
James mengangguk mengerti.
"Aku tidak habis pikir dengan apa yang terjadi kepada hubungan kalian berdua. Dulu kalian adalah pasangan yang berhasil membuat semua orang yang melihat cemburu karena sangat saling mencintai dan menyayangi, perduli satu sama lain." ucap James.
Alan terdiam.
"Mungkin itu sudah takdir tuhan, kamu juga pasti sudah bahagia dengan istri mu, aku mendengar dia sangat cantik dan imut." ucap James.
"Apa kamu tidak ingin menunjukkan foto nya kepada ku?" tanya James.
Alan menunjukkan nya. Foto yang diam-diam di ambil oleh Alan.
"Huff pantesan saja kamu bisa move on begitu cepat dengan Mutiara ternyata pengganti nya secantik ini." ucap James.
Alan hanya diam. "Seandainya saja aku memiliki hari libur aku ingin bertemu dengan nya. Aku akan bilang kalau Alan pernah bucin pada satu wanita namun ternyata dia di tinggal." ucap James.
"Jangan berani mengatakan itu kepada nya!" ucap Alan. James tertawa.
__ADS_1