
"Huff kenapa masih ada saja?" ucap Alan.
"Ini baru jam tiga pak, tidak biasanya bapak pulang jam segini?" tanya sekretaris nya.
"Bukan urusan kamu " ucap Alan. Sekertaris nya terdiam.
"Huff aku pun pulang mau menjelaskan apa kepada Adel? dia pasti tambah marah kepada ku karena tau aku memiliki pacar di belakang nya." batin Alan.
"Tapi aku tidak bisa seperti ini, aku sudah terbiasa dengan Omelan, cerewet dan kebersamaan dengan dia." ucap Alan.
"Kalau tiba-tiba di diamkan seperti ini rasanya begitu hampa." ucap Alan dalam hati.
Sudah jam delapan malam Alan baru bisa pulang ke rumah. Sampai di rumah dia tidak di sambut oleh Adel di ruang tamu seperti biasa.
"Kemana dia? Kenapa dia tidak menunggu ku di depan?" ucap Alan. Dia mengetuk pintu kamar Adel. Adel membuka pintu dia melihat Alan di balik pintu kamar.
"Kamu ngapain saja di kamar? Istri seperti apa kamu yang tidak menyambut suami nya pulang?" tanya Alan dengan nada tinggi.
"Kenapa kakak marah? Percuma saja aku menunggu di depan kalau tidak di anggap." ucap Adel.
"Menunggu suami pulang bekerja sudah kewajiban kamu sebagai istri." ucap Alan.
Adel menatap Alan sambil terdiam.
"Emang nya kakak menganggap aku sebagai istri Kakak?" tanya Adel.
"Apa maksud kamu? kenapa kamu berbicara seperti itu!" ucap Alan.
"Jawab dulu pertanyaan ku kak, emang nya kakak pernah menganggap aku sebagai istri kakak? Apa kakak pernah menganggap aku ada dan pernah tidak kakak menghargai perasaan ku?" tanya Adel.
Alan diam. "Kenapa kakak diam? Jawab saja kak dengan jujur. Aku sadar kok kalau aku tidak akan pernah menjadi istri yang kakak anggap, aku hanya lah pelayan kakak di sini namun berstatus istri." ucap Adel.
"Jadi selama ini kamu tidak pernah kilas melayani suami kamu? Saya juga tidak pernah meminta kamu melakukan itu." ucap Alan.
"Iyah memang kakak tidak pernah meminta aku melakukan itu, tapi apa Kakak pernah berfikir aku melakukan itu untuk apa?' ucap Adel.
"Aku melakukan itu karena aku ingin menunjukkan aku bisa menjadi istri yang baik, namun semua nya tidak ada gunanya. Kakak hanya bisa melihat ku sebelah mata. Kakak tidak Akan pernah mencintai dan menganggap aku ada." ucap Adel.
"Aku melakukan yang terbaik sebisa ku, namun tidak ada gunanya. Kakak tidak akan pernah melihat ku sebagai istri kakak. Mulai dari sekarang aku tidak akan pernah mengganggu kakak, aku tidak akan pernah mengatur atau mengikut campuri kehidupan kakak." ucap Adel.
Alan terdiam dia tidak bisa mengatakan apapun.
__ADS_1
"Kakak berpacaran dengan perempuan lain. Kakak mau tidur dengan perempuan lain atau tidak menganggap ku aku sama sekali tidak akan pernah mempermasalahkan itu lagi." ucap Adel.
Adel masuk ke kamar lagi namun di tahan oleh Alan.
"Saya minta maaf kalau sudah membuat kamu kecewa, saya minta maaf." ucap Alan.
"Maaf untuk apa kak? Kakak tidak pernah melakukan kesalahan, aku yang sudah salah menaruh hati kepada kakak, berharap pernikahan kita ini utuh." ucap Adel.
"Aku tau kok kakak tidak akan pernah mencintai ku. Kakak sudah memiliki perempuan lain di hati kakak." ucap Adel.
Adel melepaskan tangan Alan langsung menutup pintu.
"Adel saya belum selesai bicara." ucap Alan lagi-lagi menahan pintu.
"Jangan ganggu aku kak, aku mau istirahat." ucap Adel.
"Saya minta maaf tentang Riska, saya tau kamu pasti marah tentang dia saya minta maaf. Saya akan meninggalkan dia demi kamu." ucap Alan.
Adel langsung melepaskan pintu dan membiarkan Alan masuk.
"Saya dengan Riska hanya main-main saja, saya janji akan meninggalkan dia." ucap Alan.
"Bermain-main atau tidak itu tidak urusan ku, aku iklas kakak dengan Riska asal kakak bahagia." ucap Adel.
Alan menggeleng kan kepala nya. "Saya janji akan meninggalkan Riska, tapi saya mohon jangan seperti ini. Saya tidak akan bisa." ucap Alan langsung memeluk Adel.
"Tolak Adel! Tolak pelukan nya." ucap nya kepada diri sendiri, namun tidak bisa dia sangat nyaman di pelukan Alan.
"Saya minta maaf. Saya tau saya salah." ucap Alan.
Adel diam.
Adel mau membalas pelukan Alan namun dia masih marah sehingga tidak bisa. Dia mendorong Alan dari tubuh nya.
"Aku mau istirahat." ucap Adel. Dia langsung masuk ke kamar.
Alan menghela nafas panjang dia mengacak-acak rambut nya.
"Ada apa dengan ku? kenapa aku sangat takut kehilangan Adel? apa aku sudah mulai memiliki rasa kepada nya?" ucap Alan.
"Ini tidak mungkin, tidak mungkin secepat itu aku memiliki rasa kepada orang lain. Aku masih bersama dengan mutiara, aku tidak boleh mengecewakan dia." ucap Alan.
__ADS_1
Dia mengelus perut nya yang sangat lapar sekali.
"Hufff akhir-akhir ini kenapa perut sangat sering lapar?" ucap nya dengan kesal.
Dia mau makan di luar namun tidak berselera.
"Hufff apa yang harus saya makan?" ucap Alan. Dia berjalan ke arah dapur.
Berharap Ada makanan di atas meja, masakan istri nya namun ternyata tidak ada.
Akhirnya dia memakan roti dan Air putih untuk mengganjal.
"Sebaiknya aku mandi terlebih dahulu, pasti nanti Adel sudah selesai masak." batin Alan.
Dia pun akhirnya pergi ke kamar nya. Dia mandi dengan bersih. Setelah selesai mandi dia memakai baju yang menurut nya bagus di badan nya dia langsung memakai parfum menyisir rambut nya.
Dia turun ke bawah berharap ada Adel di meja dapur menyusun makanan namun tidak ada. Dia melihat meja kosong.
Alan menghela nafas panjang. "Seperti nya Adel benar-benar marah kepada ku, dia mau mengabaikan ku." ucap Alan.
"Sebaiknya aku memesan makanan dari luar saja, mana mungkin Adel keluar hanya untuk memasak untuk ku, dia masih marah sekali." ucap Alan.
Tidak beberapa lama makanan yang dia pesan datang. Dia memesan dua porsi. Namun tetap saja dia makan sendiri.
Setelah selesai makan dia Duduk di sofa ruang tamu.
"Tadi malam aku berharap dia perduli kepada ku karena tidur di sofa tampa selimut, namun tetap saja dia tidak perduli." ucap Alan.
Baru saja membuka handphone nya sudah ada telpon dari Riska.
"Halo Sayang... Kenapa kamu tidak membalas pesan ku dan tidak menjawab telpon ku?" tanya Riska.
"Aku lagi sibuk, ini mau istirahat." ucap Alan.
"Aku kangen kamu, aku kangen, aku pengen ketemu." ucap Riska.
"Aku sudah di rumah. Mana mungkin aku keluar, aku juga sudah sangat lelah." ucap Alan.
"Tapi aku sangat kangen sayang." ucap Riska.
"Besok kita bisa bertemu." ucap Alan.
__ADS_1