
"Kak aku mohon jangan kak, aku tidak mau kak." ucap Adel memohon namun sekarang dia tidak mengenakan sehelai benangpun di badan nya.
"Ternyata badan kamu sangat bagus sekali, beberapa bulan ini saya sama sekali tidak menyadari nya. Saya tidak akan menyia-nyiakan nya." ucap Alan dia memaksa Adel.
Dan keperawanan Adel di ambil paksa oleh suami nya.
Adel menangis kesakitan, sedih dan campur aduk perasaan nya.
Dan Alan sama sekali tidak memperdulikan Adel. Entah apa yang merasuki dia.
"Kamu adalah milik saya." ucap Alan.
Adel tidak bisa berontak dia pasrah membiarkan Alan yang tidak tau di rasuki apa.
Keesokan harinya..
Alan bergeliat dia merabah kasur samping nya tidak ada istri nya.
Dia membuka mata nya mencari keberadaan istri nya namun istri nya tidak ada di kamar.
Alan mau turun dari kasur dia baru saja belum mengenakan pakaian.
Dia segera mencari celana nya. Alan melihat surat di atas meja.
"Maafin aku kak, aku sekarang pulang ke rumah Bunda dan Ayah." Isi surat itu. Seketika Alan menarik nafas kasar dan membuang-buang.
"Aku tidak bisa membiarkan Dia berbicara kepada orang tua nya." ucap Alan dia menarik selimut mencari ponsel nya namun mata nya malah melihat bercak merah di tempat tidur.
Alan segera mencari istri nya. Dia sampai di rumah orang tua nya namun ternyata Adel tidak ada di sana.
Bahkan mereka tidak tau kalau Adel mau datang.
Mutiara di sana dia menahan Alan di sana.
Namun Alan membuat seribu Alasan agar bisa mencari istri nya.
"Sayang kamu ngapain sih nyariin Adel? Palingan dia di sekolah nya." ucap Mutiara. Alan baru teringat kalau hari ini Adel pasti ke sekolah.
"Aku dengan Adel harus menyiapkan masalah kami berdua." ucap Alan.
"Sayang mumpung kamu di sini, ayah sama bunda juga di rumah ayo kita bicarakan. Mereka pasti mengerti." ucap Mutiara.
"Mutiara jangan bicarakan tentang itu dulu." ucap Alan.
"Kamu kenapa sih? Kamu tidak mau menikah dengan aku?" tanya Mutiara.
__ADS_1
Alan menghela nafas panjang. "Sudah aku tidak mau berbicara dengan kamu sekarang." Alan pun langsung pergi meninggalkan Mutiara.
"Kenapa aku merasa Alan sudah memiliki perasaan kepada Adel yah, aku tidak bisa membiarkan ini." ucap Mutiara.
"Adel.." Panggil guru dari pintu kelas.
"Adel tidak masuk hari ini Bu." ucap salah satu murid.
"Loh kemana dia?" tanya guru.
"Tidak tau Bu, dia juga tidak ada surat ijin." ucap teman nya.
Setelah beberapa lama akhirnya guru pergi.
"Hari ini Adel tidak masuk Pak, kalau ada sesuatu yang penting langsung ke kepala sekolah saja." ucap guru kepada Alan yang menunggu di luar.
"Tidak Bu, saya hanya perlu kepada Adel." ucap Alan.
"Bapak bisa meninggalkan nomor telepon Bapak kalau Adel sudah ada saya akan mengabari nya." ucap guru.
Alan meninggalkan nomor nya. Setelah itu dia pun pamit pergi.
"Tidak biasanya dia bolos, sekarang kemana dia?" ucap Alan. Tidak tau mencari Adel kemana dia pulang berharap Adel sudah di rumah.
Sampai di rumah ternyata tidak ada juga dia ke kamar.
"Apa yang sudah aku lakukan? Kenapa aku begitu bodoh." ucap Alan duduk di pinggir kasur dan memegang kepala nya.
Hari semakin sore namun Adel tak kunjung pulang. Alan sudah sangat pusing dia juga sudah meminta banyak anggota nya mencari.
Namun Adel seperti nya benar-benar bersembunyi dari mereka semua.
"Sayang..." Tiba-tiba Mutiara datang ke rumah Alan.
"Mutiara! Kamu ngapain ke sini?" tanya Alan.
"Aku kangen kamu lah sayang, aku mau ketemu kamu." ucap Mutiara.
"Sebaiknya kamu sekarang pulang, aku sedang pusing." ucap Alan.
"Kok kamu ngusir aku sih?" ucap Mutiara.
"Mutiara sebaiknya kamu pergi dari sini sebelum aku marah, ini semua karena kamu Adel menghilang." ucap Alan.
"Oohh masalah Adel lagi? Kamu kenapa sih mencari dia? Bagus dong kalau dia menghilang tidak ada yang menggangu kita lagi." ucap Mutiara.
__ADS_1
"Mutiara dia adik kamu, kenapa kamu seperti ini?" tanya Alan.
"Dia memang adik ku, tapi aku lebih memilih kamu dari pada dia. Dan sekarang orang tua ku sudah tau hubungan kita berdua. Mereka setuju agar kita bersama." ucap Mutiara.
"Mutiara! Apa yang kamu lakukan? Kenapa kamu begitu bodoh?" ucap Alan.
"Kamu tidak perlu khawatir, orang tua ku akan berusaha menyakinkan orang tua kamu. Mereka adalah sahabat tidak mungkin mereka tidak percaya kepada orang tua ku." ucap Mutiara.
Alan Terdiam sejenak. "Apa kamu tidak mau bersama ku lagi? Apa kamu sudah tidak mencintai aku?" tanya Mutiara sambil memegang tangan Alan.
Alan menatap wajah Mutiara.
"Aku tidak tau dengan perasaan ku, di saat bersama mu aku memikirkan Adel dan saat bersama Adel aku memikirkan kamu." batin Alan.
"Tapi untuk sekarang aku harus memastikan keadaan Adel." Dia tidak mengatakan apapun kepada Mutiara dan langsung pergi.
Mutiara menghela nafas panjang.
"Cari saja sampai Mutiara dapat, kamu tidak akan mendapatkan nya." ucap Mutiara.
Di sebuah Gubuk Adel di sana duduk menangis sambil menunggu hujan reda.
Dia melarikan diri karena pikiran nya benar-benar kosong dia tidak tau harus apa.
Adel sangat membenci Alan karena tadi malam..Rasa sakit dia tanggung sendiri, kelaparan tidak dia perduli kan lagi.
Tiba-tiba ada cahaya mobil melewati jalan itu..Abel mau kabur agar tidak ada yang melihat nya namun ternyata pergerakan nya terlalu lambat sehingga dia di tangkap oleh anggota suami nya.
"Lepaskan aku! Lepaskan aku, aku tidak mau pulang." ucap Adel.
"Non Abel! Tuan sudah mencari non." ucap anggota nya. Adel berontak karena tidak mau masuk ke dalam mobil.
Hujan sudah membuat semua mereka basah membujuk Adel masuk ke dalam mobil.
Alan berhenti di pinggir jalan sambil menenangkan pikiran nya, tiba-tiba handphone nya berbunyi dia langsung menjawab dan ternyata itu dari anak buah nya.
Mendengar mereka sudah bertemu dengan Adel dia langsung menancap gas dan berangkat ke alamat itu.
"Adel!" ucap Alan dari mobil melihat Adel berdiri di tengah-tengah anggota nya.
Adel melihat Alan langsung takut dia mau kabur namun di kejar oleh Alan.
"Adel jangan bodoh! Kamu masuk ke dalam mobil." ucap Alan.
"Lepaskan aku! Aku tidak mau pulang, aku tidak mau ." ucap Adel sambil menangis.
__ADS_1
"Jangan membuat saya marah Adel, pulang sekarang." ucap Alan menggendong Adel ke dalam mobil nya.
Sepanjang perjalanan Adel menangis, meringkuk karena kedinginan di belakang. Alan yang sedang membawa mobil melihat Adel kedinginan dia mencari kain untuk Adel.