
"Eh ada Tamu?" tiba-tiba guru Adel datang.
"Oh iya Bu kenalin ini kak Alan." ucap Adel.
"Kakak kamu yah?" tanya guru nya. Adel mengangguk.
"Iyah Kak." ucap Adel.
Alan bersalaman dengan guru Adel.
"Kakak kamu sangat ganteng sekali. Ngomong-ngomong kok bisa sampai ke sini?" tanya guru Adel.
"Saya mau menjemput Adel Bu." ucap Alan.
"Loh bukannya Adel gak ngomong kalau hari ini tidak jadi pulang? Mungkin sekitar tiga hari lagi." ucap guru nya Adel.
"Gak apa-apa kok Bu, saya di sini juga sekalian akan liburan." ucap Alan.
"Jadi bapak akan menunggu Adel di sini?" tanya guru Adel. Alan Mengangguk.
"Oohh ya sudah kalau begitu." ucap guru nya.
"Kamar bapak di nomor berapa? Setau say semua kamar di sini sudah penuh." ucap guru Adel.b
"Tidak apa-apa Bu, saya bisa tidur di kamar Adel." ucap Alan. Adel kaget begitu juga dengan Bu guru nya.
"Kami adalah saudara sudah hal biasa tidur bersama ." ucap Alan.
"Tapi tidak enak di lihat yang lain. Dan takut nya Anisa juga gak mau." ucap Bu guru.
"Sebaiknya kakak mencari penginapan yang ada di luar saja." ucap guru.
Alan tidak bisa memaksa kan diri untuk tetap satu kamar dengan Adel.
"Baiklah Bu kalau begitu, sekarang saya masih bisa kan berbicara dengan Adel?" tanya teman nya.
"Maaf kak ini sudah jam istirahat untuk anak-anak. semua nya sudah masuk ke kamar mereka masing-masing." ucap guru nya.
Alan masih mau berbicara dengan istri nya.
"Baiklah saya akan memberikan waktu beberapa menit, setelah itu kakak harus pergi." ucap guru nya Adel.
Alan mengangguk. Guru Adel pun pergi istirahat ke kamar nya juga.
"Adel..." ucap Alan memegang tangan Adel.
__ADS_1
"Apa yang Kakak lakukan? Jangan seperti ini nanti orang akan melihat nya." ucap Adel.
Alan melepaskan yang Adel. "Saya..."
"Ada apa kak?" tanya Adel.
"Sudah lupakan saja." ucap Alan langsung mengalihkan pembahasan mereka.
"Oohh kalau begitu sebaiknya kakak segera mencari penginapan." ucap Adel.
"Apa kamu tidak membiarkan saya menginap di kamar kamu? Mencari penginapan jam segini akan sangat susah." ucap Alan.
"Kalau begitu aku akan meminta Yoga membantu kakak, aku yakin dia pasti memiliki sinyal mencari penginapan di sini." ucap Adel.
"Tidak perlu! Saya bisa mencari nya sendiri tidak perlu bantuan orang lain." ucap Alan langsung pergi.
Adel terdiam sejenak. "Ada apa sih dengan kak Alan? kenapa dia tiba-tiba baik Tiba-tiba judes dan tiba-tiba marah." ucap Adel.
"Kak Alan! Kak tunggu dulu." ucap Adel.
Alan berhenti dia tidak menoleh ke arah Adel..Adel menghela nafas panjang melihat Alan.
"Kakak kenapa sih? Kakak mau nya bagaimana?" tanya Adel.
"Saya tidak mau mencari penginapan di luar, saya sudah sangat lelah seharusnya kalau suami kamu lelah kamu harus memberikan tempat istirahat." ucap Alan.
"Kenapa?" tanya Alan.
"Tidak enak kalau di lihat orang lain kak." ucap Adel.
Alan tidak boleh ego. Dia harus mengambil hati perhatian Adel.
Tidak beberapa lama akhirnya mereka sampai di kamar Adel.
"Sedikit berantakan, tapi di sini sangat nyaman, kakak bisa istirahat." ucap Adel.
Alan Duduk di pinggir kasur.
"Kakak istirahat lah, kalau kakak mau mandi terlebih dahulu kakak bisa mandi di kamar mandi itu." ucap Adel.
"Kamu mau kemana?" tanya Alan. "ke kamar sebelah, kalau kakak membutuhkan sesuatu ketuk saja." ucap Adel.
Dia mengambil bantal dan juga selimut nya.
"Tunggu dulu saya mau berbicara dengan kamu." ucap Alan. Adel Menatap Alan.
__ADS_1
"Iyah kak, kenapa?" tanya Adel.
"Apa benar yang kamu katakan itu tadi?" tanya Alan.
"Kakak tidak perlu ambil hati." ucap Adel.
"Saya terlihat buruk di mata teman kamu itu, apa kamu selama ini sering curhat kepada dia sampai menangis seperti itu?" tanya Alan.
Adel menggeleng kan kepala nya. "Enggak kok kak, enggak." ucap Adel langsung.
"Lalu? Saya bisa melihat kalau kalian sangat dekat, kamu juga menangis kepada nya ketika curhat." ucap Alan.
Adel terdiam sejenak.
"Dari beberapa hari yang lalu kamu janji akan menjaga jarak dengan dia, namun semakin hari saya melihat kalian semakin dekat." ucap Alan.
"Maafin aku kak, aku dengan Yoga sudah lama berteman, kami sudah seperti saudara, aku tidak bisa menjaga jarak dengan yoga karena dia tidak salah apa-apa dia selalu baik kepada ku." ucap Adel.
Alan mau berbicara namun langsung di potong oleh Adel.
"Kalau kakak benar-benar tidak suka kedekatan aku kepada Yoga kakak bisa berpura-pura tidak tau dan tidak melihat seperti yang aku lakukan melihat kakak bersama perempuan lain." ucap Adel.
"Aku capek selalu mengalah kak, aku lelah selalu mengikuti kemauan kakak." ucap Adel.
Alan seketika langsung terdiam.
"Bukan kah dari awal perjanjian kita sudah ada? Kakak tidak akan ikut campur dengan urusan ku, begitu juga aku tidak boleh ikut campur dengan urusan pribadi Kakak." ucap Adel.
"Iyah saya tau itu, tapi sekarang sudah berbeda. Saya sudah meninggal kan perempuan itu saya tidak bersama dia lagi." ucap Alan.
"Aku tidak meminta kakak meninggalkan perempuan itu. Kalau kakak sudah meninggal kan nya bagus. Namun aku tidak akan bisa menjaga jarak dengan yoga." ucap Adel.
"Kamu Istri saya! Kenapa kamu tidak menuruti perintah saya." tanya Alan.
"Apa selama ini kakak menganggap ku istri kakak? Apa aku menjadi istri kakak hanya menjadi pembantu? Apa tugas aku menjadi istri kakak hanya mendengar kan semua apa yang kakak katakan?" tanya Adel.
Alan merasa sangat emosi dia mengangkat tangan nya mau menampar Adel. Namun tiba-tiba terhenti ketika melihat Air mata Adel dan mengingat semua kata-kata Adel.
"Kenapa? Kakak mau menampar aku? Tampar saja kalau itu membuat kakak merasa bangga menjadi suami ku." ucap Adel.
"Kalau aku bisa memilih aku akan membatalkan pernikahan dengan kakak, aku tidak ingin memiliki suami seperti kakak, namun aku perempuan yang sangat bodoh aku mau menikah hanya karena menjaga perasaan orang tua ku dan semua usaha orang tua ku." ucap Adel.
"Dan yang paling bodoh nya adalah, aku pernah mencintai pria seperti kakak, namun sekarang aku tidak akan melakukan hal yang bodoh itu lagi." ucap Adel.
"Setelah tiga bulan penuh kita menikah tidak ada kecocokan, aku akan memilih untuk berpisah." ucap Adel.
__ADS_1
"Tidak semudah itu! Kamu jangan membuat masalah." ucap Alan.