Calon Kakak Ipar Ku Menjadi SuamiKu

Calon Kakak Ipar Ku Menjadi SuamiKu
Episode 22


__ADS_3

"Apa yang sudah terjadi Pak Alan? kenapa bisa seperti ini?" tanya dokter. "Saya khilaf pak, saya sedang ada masalah." ucap Alan mencari alasan.


Dokter memeriksa nya.


"Bagaimana dok?" tanya Alan.


"Istri bapak pingsan karena tamparan di wajah nya langsung mengenai Saraf di kepala nya. Di tambah lagi perut nya kosong." ucap dokter.


"Lalu bagaimana Dok? Saya harus melakukan apa?" tanya Alan.


"Sebentar lagi dia akan bangun, saya sudah menyuntikkan obat, kalau sudah bangun usahakan makan banyak dan setelah itu minum obat. Jangan lupa juga memar di wajah nya di kompres." ucap Dokter.


Alan mengangguk dia mengucapkan terimakasih kepada dokter itu. Dokter pergi Alan kembali ke kamar Setelah mengantarkan dokter ke luar.


Adel ternyata sudah mulai bergerak dia membuka mata nya perlahan, Alan yang melihat itu sedikit lega.


"Kamu akhirnya bangun." ucap Alan. Adel melihat Alan seperti ketakutan Alan mau membantu nya duduk namun Adel langsung menghindar.


Alan terdiam. Adel memegang kepala nya yang terasa pusing sekali. "Saya sudah membeli makanan, kamu makan terlebih dahulu agar memiliki kekuatan." ucap Alan.


Adel mengganguk dia tidak berani menatap wajah Alan.


"A-aku bisa makan sendiri." ucap Adel sambil gemetaran karena Alan mau menyuapi nya.


Alan menghela nafas panjang. "Kamu sama sekali tidak memiliki tenaga, saya melakukan ini karena saya tidak ingin karena kamu saya memiliki masalah. Sebaik nya kamu makan!" ucap Alan dengan nada kesal.


Adel takut dia menggeleng kan kepala nya. Alan menghela nafas panjang. "Baiklah kalau kamu tidak mau makan, sebaiknya kamu tidak perlu makan!" ucap Alan.


Dia meletakkan nasi di atas meja dan langsung keluar. Adel menangis dia memegang wajah nya yang terasa bengkak dan sakit sekali.


Alan di luar dia menghela nafas panjang. "Alan!!!! Kenapa loe gak bisa menahan emosi sebentar saja?" ucap nya kepada diri nya sendiri.


"Huff Alan-alan.." ucap nya sambil mengusap kepala nya yang terasa puisi menghadapi diri nya sendiri.


"Sudah lah tidak ada gunanya juga aku seperti ini." ucap Alan. Akhirnya dia ketiduran di sofa.


Di pagi hari nya dia bangun jam delapan dia melihat rumah sangat sepi. Biasa nya pagi-pagi selalu ada Adel di dapur untuk bersih-bersih, namun sekarang tidak ada.


"Apa dia masih sakit?" tanya Alan melihat ke arah pintu kamar Adel.


Dia baru ingat kata-kata Dokter kemarin untuk menyuruh nya mengompres memar wajah Adel.

__ADS_1


Alan langsung ke dapur mengambil air es dan kain. Setelah itu dia membawa ke kamar Adel.


Ternyata Adel masih tidur.


Alan bingung harus bagaimana, dia memilih untuk membangun kan Adel terlebih dahulu.


Baru saja mendekat Adel langsung bangun dia melihat Alan langsung ketakutan.


"Saya mau mengompres wajah kamu sesuai saran dokter agar tidak terlalu memar." ucap Alan.


"Aku bisa melakukan nya sendiri. Kakak berangkat lah bekerja. Aku akan menyiapkan baju dan Juga sarapan kakak." ucap Adel berusaha untuk duduk.


Alan melihat Adel yang sama sekali tidak memiliki tenaga.


Alan melihat nasi yang di piring tidak kunjung berkurang.


"Kamu tidak makan, tidak minum obat dan juga tidak mau di kompres, apa kamu ingin mati? Kamu pikir kalau kamu mati semua nya selesai? Saya yang akan terkena masalah." ucap Alan.


"Sebaik nya aku mati, aku tidak ada gunanya, untuk apa aku ada kalau tidak pernah di anggap." ucap Adel.


Alan mau meninggikan suara nya namun langsung di tahan oleh nya.


"Saya tidak ke kantor sebelum kamu makan dan minum obat, setelah itu saya akan mengompres wajah kamu." ucap Alan.


Adel mendengar Alan berbicara lembut dia tidak bisa menolak. Makanan yang di pesan oleh Alan datang. Adel mulai makan. Namun beberapa suap sudah mau keluar lagi.


Namun Alan terus memaksa nya setidaknya masuk sedikit saja. Setelah selesai dia minum obat.


"Berbaring lah saya akan mengompres wajah kamu." ucap Alan.


"Ini sudah sembuh kak. Tidak perlu di kompres lagi." ucap Adel. Alan menatap Adel. Seketika Adel langsung menunduk.


Alan mulai mengompres dengan batu es yang sudah di bungkus oleh kain.


"Apa yang ku lakukan? kenapa aku melakukan ini kepada Adel? Aku memang tidak menyukai dia tapi sekarang aku sangat merasa bersalah." batin Alan.


Karena menahan sakit air mata Adel keluar.


Alan melihat nya.


Rasa bersalah di hati nya semakin menjadi-jadi dia bingung harus mengatakan apa lagi namun dia diam saja.

__ADS_1


"Sudah kak, sudah sangat dingin." ucap Adel.


Alan mengangguk. "Nanti pasti sudah hilang, saya keluar dulu." ucap Alan. Adel mengangguk.


"Terimakasih kak." ucap Adel. Alan pun melangkah keluar.


Namun tiba-tiba dia berhenti dan menoleh ke arah Sarah.


"Kalau kamu butuh sesuatu katakan saja." ucap Alan


Adel mengganguk. Di luar Alan bingung antara pergi bekerja atau tidak. Dia menerima telepon dari Riska sebentar.


Adel harus menahan rasa sakit nya dia duduk dan berjalan ke kamar mandi sendiri. Setelah selesai dari kamar mandi dia berdiri di depan cermin memerhatikan wajah nya.


"Ya Allah..." Ucap Adel melihat wajah nya sebelah membiru.


Alan anak Gym dia juga anak silat, dia memiliki tangan yang kekar dan sangat keras sehingga bisa membuat wajah mungil milik Adel membiru.


Adel merasa sangat buruk dia tidak suka melihat wajah nya, dia jadi marah kepada Alan.


Dia pernah mendengar kata-kata dari Yoga kalau laki-laki tidak akan pernah berbuat kasar kepada perempuan yang dia sayangi.


"Kekerasan itu membuat Adel sadar kalau hubungan nya dengan Alan tidak akan pernah baik, walaupun dia berusaha untuk membuat Alan jatuh cinta kepada nya.


Adel tidak tau harus mengadu kepada siapa untuk saat ini, namun yang terlintas di pikiran nya hanya lah Yoga.


Dia menelpon Yoga.


"Halo Adel. Kamu kenapa? kenapa tidak sekolah?" tanya Yoga.


"Aku mohon jemput aku ke rumah." ucap Adel langsung mematikan telepon. Yoga kebingungan. Namun dia juga khawatir karena tidak biasa nya Adel seperti itu.


Yoga keadaan masih di dalam sekolah dia langsung meminta ijin kepada guru nya dan segera berangkat.


Adel mengambil jaket dan topi untuk menutupi wajahnya.


Dia keluar dari rumah itu. Setelah di depan dia baru sadar kalau suami nya tidak berangkat bekerja. Namun dia tidak perduli dia memilih untuk pergi menenangkan diri nya.


Alan yang baru saja selesai mandi melihat pintu terbuka dia melihat keluar ada mobil berhenti dan pergi di depan gerbang rumah nya.


Alan melihat pintu kamar Adel terbuka.

__ADS_1


__ADS_2