
Setelah selesai makan dia Duduk di sofa ruang tamu.
"Tadi malam aku berharap dia perduli kepada ku karena tidur di sofa tampa selimut, namun tetap saja dia tidak perduli." ucap Alan.
Baru saja membuka handphone nya sudah ada telpon dari Riska.
"Halo Sayang... Kenapa kamu tidak membalas pesan ku dan tidak menjawab telpon ku?" tanya Riska.
"Aku lagi sibuk, ini mau istirahat." ucap Alan.
"Aku kangen kamu, aku kangen, aku pengen ketemu." ucap Riska.
"Aku sudah di rumah. Mana mungkin aku keluar, aku juga sudah sangat lelah." ucap Alan.
"Tapi aku sangat kangen sayang." ucap Riska.
"Besok kita bisa bertemu." ucap Alan.
Handphone langsung di matikan oleh nya.
Riska kesal karena dia belum selesai bicara namun sudah di matikan oleh Alan.
"Ih dia kenapa sih? Kenapa harus di matikan? Aku kan belum selesai ngomong." ucap Riska. Dia mencoba menelpon lagi namun tidak bisa.
"Awas saja kamu Alan, aku tidak akan mengajak mu berbicara lagi, aku kesal." ucap Riska meletakkan handphone nya.
Sementara di tempat lain Alan melihat ke arah makanan di atas meja. "Apa dia tidak keluar untuk makan?" ucap Alan.
"Aku akan menunggu dia sampai keluar. Tidak mungkin dia tidak makan karena dari sore tadi dia tidak ada makan." ucap Alan sambil tiduran di sofa.
Sementara di kamar Adel baru saja selesai makan, dia membawa makanan ke dalam kamar nya waspada kalau dia kelaparan.
Dia sangat malas keluar karena pasti melihat suami nya.
Walaupun dia merasa bersalah tetap saja rasa marah nya masih ada. Dia tidak pernah biasa nya seperti itu, namun sesekali dia harus membuat Alan sadar.
Alan sudah menunggu dua jam bahkan sudah tengah malam, dia juga sudah sangat mengantuk namun Adel tidak kunjung keluar.
"Seperti nya dia tidak akan keluar." ucap nya dia pun langsung ketiduran di sofa.
Di pagi hari yang begitu cerah Adel berangkat ke sekolah tampa ijin kepada suami nya dia meninggal kan Alan sangat pagi sekali.
Bangun-bangun Alan mencari Adel ke dapur namun ternyata tidak ada, dia ingin mengetuk pintu kamar istri nya namun takut.
Dia hanya bisa mondar-mandir di depan pintu istri nya.
"Kenapa aku seperti ini sih? Kenapa aku jadi sangat takut Adel marah kepada ku? Kenapa aku takut?" ucap Alan.
__ADS_1
Dia mau mengetuk pintu namun tidak jadi dia langsung ke kamar nya siap-siap ke kantor.
Baru saja mau berangkat ke kantor handphone nya tiba-tiba berbunyi.
"Orang tua Adel menelpon ku?" ucap nya kaget.
"Apa Adel mengadukan semua nya? Apa Adel balas dendam setelah apa yang aku lakukan?" ucap nya jadi khawatir.
Dia tidak menjawab memilih untuk mengabaikan nya.
"Gak di jawab Ayah." ucap Bunda Adel kepada suami nya.
"Aduh bagaimana ini? Kita sangat butuh bantuan dia." ucap Ayah nya Adel.
"Coba telpon Adel, suruh suami nya untuk membantu kita." ucap ayah Adel.
"Apa Adel mau? Nanti dia tidak mau bagaimana Ayah?" ucap bunda Adel.
"Lakukan saja Bunda, kalau dia tidak mau dia benar-benar keterlaluan!" ucap Ayah.
Akhirnya bunda langsung menelpon Adel. Namun tidak di jawab.
Adel sengaja mengabaikan handphone nya yang berbunyi di dalam tas nya karena berfikir itu adalah suami nya.
"Adel..." Ucap Yoga baru datang dan duduk di samping Adel.
Adel menghela nafas panjang.
"Ada apa?" tanya Yoga. Adel menggeleng kan kepala nya. "Aku sangat lapar, aku tidak makan dari rumah." ucap Adel.
"Oohh bagaimana kalau kamu makan bekal milik ku saja?" tanya Yoga. "Lalu kamu makan siang pakai apa?" tanya Adel. "Tenang saja aku bisa meminta Mamah mengirimkan makan siang." ucap Yoga.
Adel tersenyum. Yoga melihat tangan Adel.
"Loh jam tangan yang aku kasih tidak ada kamu pakai?" tanya Yoga.
Adel melihat tangan nya. "Ya ampun aku lupa, aku meletakkan nya di atas meja saat mandi tadi." ucap Adel.
Yoga terdiam. "Maafin aku yah, aku memakai nya kok, jam ku hanya itu. Mana mungkin aku tidak memakai nya." ucap Adel.
Yoga tersenyum.
"Oh iya ini untuk kamu." ucap Adel mengeluarkan sesuatu dari tas nya.
"Apa ini?" tanya Yoga. "Buka saja dulu." ucap Adel sambil lanjut makan.
"Aku jadi penasaran ini apa? Kenapa sangat misterius seperti ini?" tanya Yoga. Adel hanya diam.
__ADS_1
Yoga mencoba membuka nya.
Dia kaget ternyata isi nya adalah Pengucapan selamat ulang tahun.
Yoga tersenyum dia menatap Adel.
Dia membuka isi Kado nya ternyata adalah foto-foto nya bersama Adel di buat menjadi sangat bagus sekali.
Kata-kata Indah, doa dan keinginan di baca oleh Yoga sampai dia menangis.
"Maafin aku yah berpura-pura mengabaikan dan tidak mengingat nya." ucap Adel.
Yoga tersenyum. Adel menghapus air mata Yoga.
"Makasih yah Adel..." ucap Yoga..Adel memeluk Yoga.
"Selamat ulang tahun yah, di umur kamu yang sekarang semoga kamu bisa menjadi Pribadi yang lebih baik, dan jangan pernah bosan menjadi sahabat terbaik ku." ucap Adel.
Yoga mengganguk. "Terimakasih." ucap Yoga.
"Sangat cengeng sekali. Hanya hal kecil seperti ini saja kamu sudah menangis." ucap Adel.
"Aku sangat sedih ketika kamu tidak ingat, aku sangat patah semangat." ucap Yoga.
"Mana mungkin aku lupa pada hari lahir sahabat ku, mana mungkin." ucap Adel.
"Terimakasih sudah lahir ke dunia ini dan menjadi sahabat terbaik ku, yang selalu ada untuk ku." ucap Adel. Yoga mengganguk.
Di balik pintu kelas ada Alan yang hanya diam melihat mereka, tatapan tajam tidak tau maksud dan tujuan nya apa, namun bisa terlihat jelas dia menatap Yoga dengan tatapan tajam.
Dia langsung pergi dari sana karena tidak tahan melihat keromantisan Adel dengan Yoga.
"Tidak mungkin mereka hanya teman, dugaan ku pasti benar kalau Adel berpacaran dengan pria itu." ucap Alan.
"Halo..." Dia menelpon seseorang.
"Iyah Pak."
"Tolong cari tau latar belakang anak itu " ucap Alan mengirim kan foto Yoga.
Setelah itu dia langsung pergi Meninggalkan sekolah. "sebenernya dia datang untuk melihat Adel karena tidak melihat nya pagi tadi, namun yang dia lihat membuat dia sangat emosi sekali.
Alan tidak ke kantor melainkan ke apartemen Riska.
"Sayang... Aku kamu datang juga. Aku sangat merindukan kamu." ucap Riska memeluk Alan.. Namun Alan dengan kasar mencium Bibir Riska.
"Sayang apa yang kamu lakukan? Kamu kenapa?" tanya Riska kaget. Alan menarik yang Riska ke kamar dan mendorong nya ke tempat tidur dengan sangat kasar.
__ADS_1