
"Namun fakta nya adalah begitu, aku sudah mencintai Adel, tidak perduli apapun yang terjadi aku tidak akan menceraikan Adel." ucap Alan.
"Sayang aku mohon maafin aku." ucap Mutiara. "Tidak ada gunanya lagi mutiara, aku sudah melupakan semua nya." ucap Alan.
"Sayang..." Mutiara sangat sedih, dia menangis.
Alan meminta security membawa Mutiara keluar.
Sementara di rumah Adel sedang duduk termenung, dia memikirkan bagaimana nasibnya.
Tiba-tiba handphone nya berbunyi membubarkan lamunan nya.
"Kak Alan." batin Adel
"Kenapa dia tidak menjawab nya?" ucap Alan.
Di rumah Adel Sedang mengerjakan tugas nya yang sudah sangat banyak.
Untuk beberapa hari dia tidak berangkat ke sekolah melainkan memilih sekolah Online dari rumah.
Tepat jam Delapan malam Alan baru saja sampai di rumah. Dia mencium Aroma makanan yang sangat wangi dan tercium enak.
"Humm wangi sekali, kamu masak apa?" tanya Alan kepada Adel yang baru saja selesai masak.
"Hanya Tumis udang." ucap Adel.
"Wahh kelihatan nya sangat enak, saya mau makan." ucap Alan.
"Tapi kakak tidak mau mandi dulu?" tanya Adel.
"Saya sangat lapar." ucap Alan.
Adel tidak bisa memaksa Alan mandi, dia langsung mengambil kan nasi untuk suami nya.
"Kenapa kamu tidak makan?" tanya Alan. Adel menggeleng kan kepala nya.
"Saya bertanya." ucap Alan.
"Aku tidak berselera." jawab Adel.
"Apa hari ini Mutiara datang?" tanya Alan. "Tampa kakak tanya kakak pasti sudah tau." ucap Adel.
Alan menghela nafas panjang.
"Apa tidak Sebaik nya kakak segera mengurus surat perceraian itu? Aku tidak ingin urusan nya semakin rumit." ucap Adel.
Alan berhenti makan, dia menoleh ke arah Adel.
"Seperti nya bukan hanya orang tua saya dan juga mutiara yang ingin kita berpisah, kamu seperti nya juga seperti itu." ucap Alan.
Adel terdiam. "Apa kamu sudah memiliki pria lain? Apa kamu sudah menemukan pria lain yang bisa memuaskan kamu?" tanya Alan.
__ADS_1
"Plak!! Tamparan keras di pipi Alan.
"Jangan berbicara sembarangan kak! Kakak yang sudah membuat hidup ku seperti ini, kakak yang sudah mengambil hal yang berharga di hidup ku." ucap Adel.
"Aku sangat membenci kakak! Aku membenci kakak. Aku ingin bercerai." ucap Adel langsung pergi.. Namun Alan langsung mengejar Adel.
"Tidak..." ucap Alan memeluk Adel dari belakang. "Lepaskan! Lepaskan aku!" ucap Adel.
"Tidak akan! Saya tidak akan bisa bercerai dengan kamu, saya sudah mencintai kamu, saya tidak akan membiarkan kamu pergi dari kehidupan saya." ucap Radit.
Adel terdiam sejenak mendengar kata-kata Alan.
Adel melepaskan pelukan Alan dari tubuh nya.
"Kakak harus mengurus surat cerai itu, Kalau kakak tidak mau aku akan melakukan nya sendiri." ucap Adel.
Keesokan harinya orang tua Adel datang ke rumah mereka.
"Bunda aku minta maaf, aku bukan bermaksud menahan kak Alan, namun kak Alan tidak mau mengurus nya surat itu." ucap Adel.
"Kamu pasti sengaja kan membuat Alan tidak mau mengurus surat itu?" tanya Bunda nya.
Adel menggeleng kan kepala nya. "Enggak Bun, aku sudah membujuk kak Alan."
"Kalau begitu kamu saja yang mengurus nya." ucap bunda nya.
"Tapi Bun."
"Kamu jangan mencoba menentang apa kata bunda!"
"Kamu sudah berani melawan yah!" ucap bunda nya marah.
"Aku selama ini hanya diam saja, sekarang aku sudah menikah Bunda, aku sudah bisa memilih kehidupan ku sendiri jangan mengganggu aku." ucap Adel.
Bunda nya mau marah, dia mau menampar wajah Adel namun tidak jadi karena Alan datang dan menahan tangan mertua nya.
"Alan!" ucap Mertua nya.
"Apa yang Tante lakukan? Kenapa Tante melakukan ini kepada Adel?" tanya Alan.
"Kamu salah paham. Adel melawan sehingga Tante mau memberikan hukuman." ucap bunda nya.
"Aku melihat Tante mau menampar Adel."
"Ini hukuman kepada anak yang durhaka seperti Adel. Seharusnya dia mengikuti apa perkataan orang tua nya."
"Anak durhaka? Bukan kah Selama ini Adel sudah menuruti apa kata orang tua nya? Bahkan menikah dengan orang lain sudah dia lakukan demi menuruti kata-kata orang tua nya." ucap Alan.
"Sekarang dia sudah menjadi istri saya Tante, dia sekarang mendengar kan kata-kata saya. Asal Tante tau saya tidak akan membiarkan dia mengurus surat cerai dan saya juga tidak mau mengurus nya." ucap Alan.
"Kamu harus menikah dengan Mutiara. Mutiara jauh lebih baik dari pada Adel."
__ADS_1
"Saya mencintai Adel, saya tidak mencintai Mutiara lagi. Dulu dia kemana di saat saya mengajak nya menikah?" ucap Alan.
Tidak bisa di jawab lagi oleh mertua nya dia pun langsung pergi.
"Adel kamu tidak apa-apa?" tanya Alan melihat Adel sudah meringkuk ketakutan.
Badan nya gemetaran karena takut sekali.
"Tidak apa-apa.. tidak apa-apa saya di sini, saya di sini." ucap Alan memeluk nya begitu erat.
"Kak Alan." ucap Adel. Alan mengangguk. Adel memeluk Alan begitu erat sekali.
Di malam hari nya Alan baru saja selesai bekerja. Dia melihat sudah jam sembilan waktu nya istirahat.
"Kenapa kamu masih belajar jam segini?" tanya Alan melihat Adel masih duduk di meja belajar yang ada di kamar.
"Tugas ku cukup banyak." ucap Adel. Alan melihat nya.
"Mau saya bantu?"
"Tidak perlu kak. Aku akan mencari jawaban nya sendiri." ucap Adel.
"Besok kamu harus ke sekolah, tidak baik bergadang. Sini." ucap Alan dengan lembut.
Dia duduk di belakang Adel karena hanya satu kursi saja yang ada di sana.
Tidak beberapa lama akhirnya selesai. Alan sudah sangat mengantuk dia naik ke tempat tidur terlebih dahulu setelah itu di susul oleh Adel.
dalam hitungan Detik Alan langsung tidur.
Adel menoleh ke arah Alan. dia sama sekali tidak bisa tidur.
"Sudah tidur ternyata." ucap Adel.
Dia menatap wajah Alan.
"Terimakasih banyak kak, terimakasih banyak sudah membela dan melindungi aku." ucap Adel.
Adel mendekati Alan dia mencium pipi Alan.
"Tanda terimakasih ku kepada kakak, walaupun kakak harus melawan orang tua ku."
Keesokan harinya pagi-pagi Alan bangun lebih awal dia melihat Adel masih tidur di samping nya.
Seperti rasa ketakutan, setiap hari dia harus bangun lebih awal memastikan Adel masih tidur di samping nya.
Tidak beberapa lama Adel sudah bangun. "Kakak sudah bangun duluan?" ucap Adel.
Alan langsung duduk.
"Saya akan mengantar kan kamu ke sekolah, tidak ada penolakan karena suami nya tidak bisa di tolak.
__ADS_1
Adel di antar k sekolah oleh Alan.
"Tunggu saya setelah pulang sekolah, saya akan menjemput kamu." ucap Alan sebelum Adel keluar dari dalam mobil.