
"Halo..." Dia menelpon seseorang.
"Iyah Pak."
"Tolong cari tau latar belakang anak itu " ucap Alan mengirim kan foto Yoga.
Setelah itu dia langsung pergi Meninggalkan sekolah. "sebenernya dia datang untuk melihat Adel karena tidak melihat nya pagi tadi, namun yang dia lihat membuat dia sangat emosi sekali.
Alan tidak ke kantor melainkan ke apartemen Riska.
"Sayang... Aku kamu datang juga. Aku sangat merindukan kamu." ucap Riska memeluk Alan.. Namun Alan dengan kasar mencium Bibir Riska.
"Sayang apa yang kamu lakukan? Kamu kenapa?" tanya Riska kaget. Alan menarik yang Riska ke kamar dan mendorong nya ke tempat tidur dengan sangat kasar.
"Sayang kamu kenapa? Kamu sangat kasar sekali." ucap Riska. Dia membuka baju Riska sekali tarikan saja.
Tampa berfikir panjang, Tampa memikirkan Riska yang menjerit dia langsung menghajar tubuh Riska. Riska tidak bisa menolak dia hanya bisa pasrah.
Alan mau mencium bibir Riska namun teringat Adel yang mencium bibir nya ketika dia kepahitan.
Dia mengingat wajah Adel yang cemberut, senyum, tertawa dan juga sedang serius, sedang khawatir dan ketika tidur.
Semua nya terlintas di pikiran nya. Dia semakin kasar kepada Riska yang menjerit. Setelah dia puas dia merasa tidak bersalah sama sekali.
"Kamu kenapa sayang? Kamu habis dari mana? Kenapa kamu melakukan ini kepada ku? Aku kesakitan." ucap Riska kepada Alan yang baru saja keluar dari kamar mandi.
Alan merapikan kemeja nya dia menoleh ke arah Riska yang tidur lemas di tempat tidur.
"Sayang..." ucap Riska. Alan memberikan uang kepada Riska. "Pergilah berobat." ucap Alan. Riska kaget dengan sifat cuek Alan kepada nya.
"Tunggu Alan.." ucap Riska menahan Alan, namun dia tidak bisa menahan Alan karena Alan tidak memperdulikan dia.
Alan menuju ke kantor. "Ada apa dengan ku? kenapa aku tidak berhenti mengingat wajah nya?" ucap Alan kesal sendiri.
Dia mengingat lagi Adel dan Yoga berpelukan, api cemburu nya semakin membara.
Tidak beberapa lama sampai di kantor. Semua orang menyapa nya namun tidak ada satu pun di sapa kembali atau di respon sehingga membuat semua para staf kebingungan dan juga khawatir.
Mereka semua sepakat bekerja dengan baik, jangan membuat kesalahan karena bisa jadi saja a
satu membuat kesalahan, semua yang kena.
__ADS_1
Sampai di ruangan nya dia duduk di kursi kekuasaan nya melonggarkan dasinya melihat handphone nya berdering.
"Halo! Apa kamu sudah menemukan tentang anak itu?" tanya Alan.
"Sudah Pak, dia adalah anak salah satu CEO yang sudah meninggal dunia beberapa tahun yang lalu, sekarang dia tinggal bersama ibu nya." ucap Orang suruhannya.
Alan melihat foto keluarga Yoga. "Ternyata dia anak Bu Hana." ucap Alan sambil tersenyum tipis.
Perusahaan Suami Bu Hana adalah salah satu saingan Alan. Sekarang sudah di kendalikan istri nya terdengar kalau perusahaan nya semakin berkembang.
Itu sama sekali tidak menggangu Alan, namun tetap saja dia merasa itu menjadi pengganggu karena perusahaan nya Hampir jadi setara dengan perusahaan Bu Hana.
"Ternyata Dia berani mendekati Adel hanya karena mengandalkan Orang tua nya? Dia tidak lah setara dengan ku." ucap Alan.
Di Sore hari nya Yoga mengantarkan Adel pulang.
"Makasih yah sudah mau nganterin aku pulang." ucap Adel.
"Iyah sama-sama, jangan lupa nanti jam tujuh aku akan datang menjemput kamu makan malam bersama." Yoga.
"Iyah, aku tunggu." ucap Adel.. Yoga tersenyum.
Dia sangat kaget melihat kedua orang tua melihat dia turun dari mobil Yoga.
"Mungkin Yoga tidak sadar dia langsung pergi begitu saja meninggalkan Adel.
"Bunda... Ayah..." Ucap Adel.
"Apa kamu tidak mendengar nasihat orang tua? Bunda sama ayah sudah bilang jauhi anak itu!" ucap Bunda nya.
"Maafin aku Bunda, kebetulan hanya mengantar kan aku pulang saja." ucap Adel.
"Jangan banyak membantah kamu! kamu sama sekali tidak bisa di bilangin. Kamu sangat berbeda dengan kakak kamu mutiara!" ucap Papah nya.
"Atau kamu sengaja melakukan ini agar bunda dan Ayah malu kepada keluarga suami kamu?" ucap bunda nya.
"enggak bunda, aku tidak berfikir seperti itu. Aku dengan Yoga hanya berteman biasa." ucap Adel.
"Plak!!" Tamparan keras di pipi Adel.
Kebetulan Alan datang dia bisa melihat istrinya di tampar oleh mertuanya itu.
__ADS_1
Adel hanya diam, dia memegang pipi nya yang sangat sakit sekali.
"Kami datang ke sini hanya melihat kamu yang sangat keras kepala, tidak tau di Untung, hanya bisa melawan tidak menurut apa kata orang tua!" ucap bunda nya.
"Maafin aku Bunda." ucap Adel.
"Bunda tidak butuh maaf dari kamu, bunda mau kamu menjauhi Yoga, kalau bunda dan Ayah melihat kamu bersama dia lagi, bunda tidak segan-segan melakukan hal yang lebih dari ini?" ucap bunda nya.
"Apa kamu mengerti?" tanya Bunda nya menarik rambut Adel dengan sangat kasar. Adel menganguk.
"Baik Bunda, aku mengerti." ucap Adel. Bunda nya melepaskan sambil mendorong kepala Adel.
Mobil Alan masuk. Seketika bunda dan Papah nya bersikap baik.
"Bunda.. Ayah ada di sini? Kenapa tidak mengatakan kalau datang ke sini?" tanya Alan.
"Tidak apa-apa nak, kami juga baru sampai kok." ucap bunda nya. Alan menyalim kedua tangan mertua nya. Dia melihat ke arah Adel yang hanya diam. Dia menutup wajahnya.
"Kamu kenapa masih berdiri di sini Adel? Sebagai Istri kamu harus menyambut suami mu dengan baik, membuka kan sepatu, membawa barang-barang nya masuk dan menyiapkan mandi, dan makanan." ucap bunda nya.
"Baiklah kalau begitu aku akan menyiapkan Air mandi kakak." ucap Adel. Dia langsung masuk ke dalam..
"Ayo masuk dulu Bunda, Ayah." ucap Alan.
"Kedatangan kami ke sini ingin meminta bantuan kamu nak, kamu tau kan kalau perusahaan kami sedang ada musibah." ucap Ayah mertua nya.
"Apa yang bisa saya bantu Ayah?" tanya Alan.
"Kamu membutuhkan dana yang begitu banyak. Apa kamu bisa membantu kami?" tanya Ayah mertua nya.
Alan melihat dokumen-dokumen.
"Maaf Ayah, Bunda, tapi saya sedang membuka proyek baru sampai sekarang belum selesai, saya tidak bisa membantu Ayah dengan bunda untuk saat ini." ucap Alan.
"Kak Air mandi nya sudah selesai." ucap Adel.
"Baiklah kalau begitu Bunda, Ayah saya mau mandi dulu." ucap Alan langsung meninggalkan mereka.
"Adel kamu ke sini dulu." ucap Ayah nya. Adel dengan ragu-ragu mendekati ayah nya.
"Bujuk suami kamu agar mau membantu ayah dan bunda! Kalau kamu tidak berhasil kamu tidak bisa di andalkan sama sekali. Pokoknya ayah mau suami kamu mau membantu ayah dan bunda." ucap Ayah nya.
__ADS_1