
Alan menatap Adel.
"Saya tidak bisa berjanji." ucap Alan. Adel langsung memohon di kaki Alan.
"Aku mohon kak, aku takut. Aku berani bersumpah kalau aku dengan Yoga hanya teman. Aku hanya memiliki dia sebagai orang yang bisa aku Percaya, orang yang mengerti aku dan juga perduli." ucap Adel.
Alan terkejut Adel meminta mohon seperti itu.
"Aku dengan Yoga akan selalu bersama, kami sudah seperti saudara." ucap Adel.
Alan mendengar Adel bersumpah kalau mereka tidak ada hubungan dia pun yakin.
"Baiklah saya akan menutupi nya, tapi dengan syarat kamu tidak boleh keluar bersama dia tampa persetujuan dari saya!" ucap Alan.
Adel menganguk. "Iyah kak, aku janji." ucap Adel.
"Berdiri lah, kalau ada orang yang melihat Akan bertanggapan aneh." ucap Alan.
Adel berdiri. "Kamu pulang dengan apa?" tanya Alan.
"Aku akan menunggu taksi kak." ucap Adel.
"Masuk lah ke dalam mobil!" ucap Alan.
"Apa kak?" tanya Adel cukup kaget.
"Apa kamu sudah tidak mendengar dengan jelas? Saya minta kamu masuk ke dalam mobil!" ucap Alan.
"Aku bisa Pulang sendiri kok kak." ucap Adel.
"Kamu mau saya memberi tau kepada orang tua kamu?" ucap Alan. Adel menggeleng kan kepala nya.
"Satu syarat lagi kamu tidak boleh membantah perkataan saya!" ucap Alan.
Adel mengangguk dia masuk ke dalam mobil. Alan juga langsung masuk ke dalam mobil. Yoga baru keluar dan melihat Alan masuk ke dalam mobil yang biasa di naiki Adel.
"Apa Adel di jemput oleh suami nya ke sini?" tanya Yoga.
Sesampainya di rumah Alan langsung masuk ke rumah meninggalkan Adel.
Alan di kamar duduk di Pinggir kasur sambil memikirkan apa yang sudah dia lakukan.
"Apa aku cemburu melihat Adel dengan Yoga bersama? Kenapa aku sampai mengikuti dia dan membuat persyaratan konyol seperti itu." ucap nya kebingungan sendiri.
Namun tidak beberapa lama handphone nya berdering telpon dari Riska.
"Halo!" jawab Alan.
__ADS_1
"Sayang kamu di mana? Aku sakit. Apa kamu tidak bisa datang menemui ku?" tanya Riska.
"Kamu sakit karena apa?" tanya Alan.
"Karena perbuatan kamu yang sangat kasar, aku sekarang tidak bisa bergerak dari tempat tidur." ucap Riska.
"Aku sedang sibuk, aku akan mengirimkan dokter untuk memeriksa kamu." ucap Alan langsung mematikan handphone nya.
Dia menelpon dokter. Tiba-tiba Adel masuk ke kamar Alan.
"Tolong periksa kekasih saya di sana Dok." ucap Alan.. Namun dia kaget melihat Adel.
"Maaf kak, aku hanya mengantar kan pakaian kakak." ucap Adel. Alan menyudahi telponan nya.
"Kenapa kamu tidak mengetuk pintu?" tanya Alan.
"Pintu kakak terbuka sedikit. Aku pikir kakak tidak ada di dalam." ucap Adel. Alan menghela nafas panjang.
"Siap kan pakaian! Saya mau mandi." ucap Alan.
Adel menganguk dia langsung memberikan baju di atas tempat tidur.
Alan masuk ke kamar mandi.
"Apa maksud kak Alan kekasih nya adalah Perempuan yang bernama Riska itu?" tanya Adel.
"Huff Aku rasa itu, tidak ada perempuan lain bersama kak Alan selain dia." ucap Adel.
Alan keluar dari kamar dia melihat Adel di ruang tamu. Dia duduk di sofa lain nya sambil melihat Adel yang sangat fokus menonton sehingga tidak sadar dia datang.
"Laki-laki seperti itu tidak layak untuk jadi suami! Kamu harus pergi meninggalkan dia, kamu sangat bodoh." umpat Adel greget melihat film yang dia lihat.
Alan dari tadi mendengar umpatan Adel kepada pria yang di TV. Dia mengambil remote dan mematikan TV.
"Loh kak Alan kenapa di matikan?" tanya Adel.
"Kamu tidak berhenti berbicara dengan kasar melihat film itu." ucap Alan.
"Tapi flim nya begitu seru kak." ucap Adel.
"Sebaiknya kamu fokus mengompres wajah mu yang sangat jelek itu." ucap Alan.
Adel menghela nafas panjang. "Berikan remote nya kak, itu akan selesai sebentar lagi." ucap Adel mau mengambil remote dari tangan Alan.
Namun Alan menjauh kan nya sehingga Adel terjatuh ke badan Alan. Alan menahan pinggang Adel karena hampir jatuh.
Adel terkejut dia menatap wajah Alan.. Begitu juga dengan Alan.
__ADS_1
"Kenapa Adel sangat cantik sih di lihat dari dekat seperti ini? Dia sangat wangi. Mata nya begitu indah." ucap Alan dalam hati.
"Huff seperti ini adalah hal yang aku inginkan, aku menyukai kak Alan namun aku harus menahan diri." ucap Adel dalam hati.
Alan menyentuh Pipi Adel yang biru.
"Ini pasti sangat sakit." ucap Alan.
"Ssstthh... Awww." ucap Adel.
"Maaf-maaf." ucap Alan. Adel kembali duduk di tempat nya.
"Maaf kak, aku tidak sengaja." ucap Adel. Alan menghidupkan TV. Adel kembali fokus kepada flim. Alan mengambil es batu dan mengompres pipi Adel.
Adel kaget. "Jangan bergerak." ucap Alan. Adel tidak bisa menolak akhirnya dia memilih untuk menahan nya.
Alan menatap wajah Adel yang begitu fokus kepada TV.
"Apa-apaan ini? Ada apa dengan jantung ku? Kenapa berdetak begitu cepat sampai tidak terkontrol seperti ini?" ucap Alan.
"Nih kamu kompres sendiri saja!" ucap Alan langsung pergi. Adel menatap nya dengan kebingungan.
"Aneh sekali, dia yang mau ngompres namun malah kesal sendiri." ucap Adel.
Di malam hari nya seperti biasa Alan selalu lapar tengah malam. Dia melihat ruang tengah sudah sepi, kamar Adel juga sudah tertutup.
"Perut ku sangat lapar sekali." Alan berjalan ke dapur. Dia tidak melihat ada makanan di atas meja.
"Kenapa dia tidak masak? Sudah beberapa hari dia tidak masak." ucap Alan.
"Apa aku sebaik nya memesan dari luar saja?" ucap nya. Namun tidak jadi karena merasa tidak enak.
"Sebaik nya aku meminta dia masak." ucap Alan. Karena perut nya sudah sangat sakit dia berjalan menahan lapar ke depan pintu istri nya.
"Tok!! Tok!! Tok!!"
Adel membuka pintu.
"Iyah kak ada apa?" tanya Adel.
"Saya sangat lapar, kenapa kamu tidak masak? Tugas kamu seorang istri harus memasak untuk suami." ucap Alan.
"Bukan nya kakak sendiri yang meminta ku agar berhenti perduli dan melakukan hal itu? aku takut memasak namun tidak dimakan." ucap Adel.
Alan terdiam sejenak.
"Sekarang kamu harus melakukan nya, kamu sudah menjadi istri saya jadi setidaknya kamu memiliki tanggung jawab. Agar suatu saat nanti kamu bisa mengurus suami yang kamu cintai." ucap Alan.
__ADS_1
"Aku hanya mau mengurus kakak suami ku satu-satunya." ucap Adel.
Alan terdiam. "Kok kakak diam?" tanya Adel..Alan menggeleng kan kepala nya. "Sebaiknya kamu segera masak sana!" ucap Alan.