
Adel ke kamar nya.
Di kamar Alan sedang duduk termenung menikmati Angin di sore hari.
Tidak berhenti dia membayangkan wajah Adel dan juga Mutiara secara bersamaan.
"Aaarrggg!! Kalau seperti ini aku akan gila." ucap Alan. Dia menutup balkon karena sudah gelap dia mandi menyegarkan tubuh nya.
Dia tidak lupa memasang musik agar lebih Rileks namun tetap saja dia kefikiran dengan Kedua kakak beradik itu.
"Aku akui sampai sekarang perasaan ku kepada Mutiara tidak pernah berubah, namun aku harus bagaimana sekarang." ucap Alan.
Di malam hari nya..
"Kak.. Ayo makan." ajak Adel mengetuk pintu kamar Alan.
Alan membuka pintu. "Loh kakak mau kemana sudah rapi seperti ini?" tanya Adel.
"Saya ada janji di luar dengan teman saya." ucap Alan.
"Tapi ini sudah malam." ucap Adel.
"Kamu makan Tampa saya dulu, saya buru-buru." ucap Alan langsung pergi meninggalkan Adel.
"Tapi kak aku sudah masak kesukaan kakak." ucap Adel. Alan tidak menghiraukan nya dia pergi meninggalkan Adel begitu saja.
Adel menghela nafas panjang.
"Tidak pernah kak Alan menolak ajakan ku untuk makan, sekarang tiba-tiba dia keluar tidak makan dulu." Batin Adel.
Alan melihat ke arah meja makan sudah tersedia banyak makanan.
"Kenapa aku sangat jahat seperti ini? Adel pasti susah-susah masak untuk ku." batin Alan.
Dia berbalik dia melihat wajah Adel yang sangat sedih dan sangat lesu.
"Aroma masakan kamu sangat wangi sekali, saya tiba-tiba lapar. Saya akan makan dulu baru pergi." ucap Alan. Adel langsung tersenyum dia berjalan ke meja makan.
Alan makan begitu lahap bersama Adel.
Tidak beberapa lama akhirnya selesai Alan langsung pergi.
Tidak beberapa lama akhirnya sampai di Cafe tempat janjian nya bersama Mutiara.
"Akhirnya kamu datang juga sayang." ucap Mutiara. Alan menghela nafas panjang.
"Kenapa kamu mengajak ku bertemu di sini? bagaimana kalau ada yang mengenal kita?" ucap Alan.
"Kamu lupa kalau ini adalah tempat favorit kita?" tanya Mutiara.
Alan menatap Mutiara.
"Aku mau datang ke sini karena kamu bilang mau membicarakan hal yang sangat penting. Sekarang katakan saja. Adel sendirian di rumah." ucap Alan.
__ADS_1
Mutiara menarik tangan Alan dia meminta nya untuk duduk.
"Aku hanya merindukan kamu, aku hanya ingin kamu di sini bersama kamu." ucap Mutiara. Alan diam.
"Semua nya ini benar-benar salah ku, seharusnya aku mau menikah dengan kamu." ucap Mutiara.
"Sudah tidak ada gunanya kamu menyesali itu semua. Aku sudah berusaha membujuk kamu namun kamu masih ragu bersama ku." ucap Alan.
Mutiara menggeleng kan kepala nya.
"Aku minta maaf.." ucap Mutiara sambil menangis.
"Aku sangat hancur mengetahui kamu menikah dengan adik ku sendiri. Dan bodoh nya aku yang meminta Adel menggantikan aku karena aku tidak tau." ucap Mutiara.
"Aku sangat tidak bisa melihat itu semua. Ini seperti mimpi. Aku sangat mencintai kamu." ucap Mutiara.
Alan menghapus air mata Mutiara.
"Sudah tidak ada lagi yang bisa di lakukan Mutiara, tidak ada gunanya kita menyesali nya." ucap Alan.
"Aku ingin kita jujur kepada orang tua kita tentang hubungan kita. Aku ingin kamu menceraikan Adel dan menikah dengan ku." ucap Mutiara.
Alan terdiam. "Kenapa kamu hanya diam saja? Apa kamu tidak setuju?" tanya Mutiara.
"Kamu tidak mencintai aku lagi? Kamu sudah mencintai Adel?" tanya Mutiara.
"Aku rasa itu bukan keputusan yang baik Mutiara, kita akan mempermalukan keluarga kalau seperti ini." ucap Alan.
Mutiara menangis. "Selain memikirkan keluarga kamu pasti nya harus memikirkan efek samping untuk karier yang sudah susah-susah kamu bangun dari nol." ucap Alan.
"Aku tidak bisa melihat kamu menangis seperti ini, sebaiknya kita pulang saja aku akan mengantar kan kamu." ucap Alan.
Mutiara menggeleng kan kepala nya, aku sudah memesan makanan kesukaan kita berdua. Kita makan dulu." ucap Mutiara.
"Kamu yakin baik-baik saj?" tanya Alan. Mutiara mengangguk.
Mereka pun makan bersama, walaupun Alan sangat kenyang dia sedikit melonggarkan Ikat pinggang nya.
"Aku akui kamu sekarang semakin ganteng, kamu juga semakin berisi." ucap Mutiara.
"Itu mungkin perasaan kamu saja." ucap Alan.
Mutiara tersenyum. "Tapi aku lebih suka kalau badan kamu sixpack seperti dulu." ucap Mutiara. Alan tersenyum saja.
Tidak beberapa lama akhirnya selesai makan.
"Hari ini aku tidak pulang ke rumah, aku akan menginap di hotel. Kalau Bunda dan Ayah melihat kamu mereka akan curiga." ucap Mutiara.
Alan tersenyum. Mereka meninggalkan Cafe.
Di rumah Adel menunggu Alan.
"Ya ampun ini sudah jam sepuluh malam kenapa kak Alan belum pulang? Aku takut dia mabuk dan tidak ada yang mengantarkan pulang." ucap Adel.
__ADS_1
Tidak beberapa lama akhirnya sampai di hotel.
"Humm aku langsung pulang yah." ucap Alan.
"Kamu yakin mau langsung pulang sayang? Kamu tidak ingin menghabiskan malam ini melepaskan rindu?" ucap Mutiara.
Alan tidak bisa menolak ajakan Mutiara dia masuk ke hotel bersama Mutiara.
Di rumah Adel baru saja terbangun karena alarm ponsel nya.
"Ya ampun ini sudah pagi saja, kok aku ketiduran di sofa sih?" ucap nya. Dia melihat ke sekitar nya.
"Apa kak Alan sudah pulang?" dia berjalan ke kamar Alan dan ternyata Alan tidak pulang.
Adel menelpon nomor Alan.
Di kamar hotel Alan terbangun karena handphone nya berdering. Dia melihat dari istri nya.
Alan melihat ke samping nya ada Mutiara.
Alan meninggalkan surat di meja untuk Mutiara dan pergi.
Di mobil Alan menghela nafas panjang dia mengusap wajah nya.
"Apa yang sudah aku lakukan? kenapa aku tidur di sini bersama perempuan yang buka istri ku?" ucap nya.
Tidak beberapa lama akhirnya sampai di depan rumah nya.
Dia melihat Adel sedang memasang sepatu sudah berseragam rapi.
Alan turun dari dalam mobil.
"Kakak akhirnya Pulang juga, kakak dari mana? Aku sangat khawatir kepada kakak." ucap Adel.
"Saya masuk dulu siap-siap ke kantor." ucap Alan.
Adel menatap mata Alan.
"Jawab dulu Kak, kakak dari mana?" tanya Adel. Alan menggeleng kan kepala.
"Eh tunggu dulu. Ini bekas apa?" ucap Adel melihat di balik kerah baju Alan.
"Ada apa?" ucap Alan. Adel melihat dengan jelas tanda merah di leher Alan.
Adel mencium aroma Alan seperti ada parfum perempuan.
"Apa yang kamu lakukan?" ucap Alan.
"Kakak habis tidur dengan perempuan lain?" tanya Adel.
"Apa yang kamu maksud? Kamu jangan berbicara sembarangan!" ucap Alan.
Adel memasang ekspresi sedih, kecewa dan marah.
__ADS_1
"Ini hanya bekas gigitan nyamuk, kamu jangan berfikir yang aneh-aneh. Saya hanya pergi bertemu teman saya dan menginap di rumah teman saya." ucap Alan.