
"Mbak Riska itu adalah pacar Pak Alan Mbak. Kami mohon jangan bawa-bawa nama kami." ucap resepsionis.
Adel mendengar itu merasa sesak nafas, dia sakit hati.. Kepala nya pusing.. Walaupun sebenernya dia sudah tau kalau suami nya bermain belakang namun mendengar semua orang kantor tau dan juga di bawa ke kantor dia merasa sakit hati.
Sebagai istri nya dia sangat malu. Karena orang-orang akan berfikir buruk tentang mereka berdua.
"Mbak Adel baik-baik saja kan?" tanya resepsionis.
"Humm saya baik-baik saja, kalau begitu saya pulang dulu, permisi." ucap Adel langsung pergi.
Adel di perjalanan pulang ke rumah hanya bisa terdiam duduk di belakang pak supir. Dia menahan rasa sakit yang ada di hati nya.
Beberapa kali dia menghela nafas panjang memegang kepala nya. "Sampai kapan akan seperti ini ya Allah? apa aku harus bertahan atau aku menyerah sana?" ucap Adel.
Tidak beberapa lama akhirnya sampai di rumah. Dia melihat mobil suami nya sudah ada di rumah. Adel menghapus air mata nya yang keluar.
Berusaha untuk tidak melihat kan kesedihan diri nya.
"Assalamualaikum kak, aku pulang." ucap Adel. Alan melihat Adel dia langsung berdiri.
"Kamu dari mana jam segini baru pulang?" tanya Alan.
"Aku dari kantor kakak." ucap Adel. "Kantor Saya? Ngapain?" tanya Alan.
"Aku khawatir kakak di kantor. Aku menelpon kakak tidak di jawab." ucap Adel. Alan terdiam sejenak.
"Kalau begitu aku ke kamar dulu." ucap Adel.
Alan melihat Adel masuk ke kamar.
"Apa dia tau kalau aku pergi dengan Riska?" ucap Alan.
Alan langsung menelpon resepsionis di Kantor nya.
Setelah mendengar Kalau istri nya tau dia pergi dengan Riska perasaan nya tidak lagi nyaman dia panik dan juga bingung.
"Bagaimana ini?" ucap Alan kebingungan.
Di malam hari nya Alan sudah di kamar nya. Tiba-tiba Istri nya masuk.
"Kamu tidur lah di kasur, saya sudah sehat saya bisa tidur di sofa." ucap Alan. Adel mengambil bantal dan juga selimut nya.
"Mamah sama papah tidak di sini lagi, aku akan kembali ke kamar ku." ucap Adel.
__ADS_1
"Loh kenapa?" tanya Alan. Adel menatap Alan.
"Bukan nya dari awal kita tidak satu kamar? Kita juga tidak saling mencintai untuk apa satu kamar?" ucap Adel.
Setelah itu dia langsung keluar meninggalkan Alan.
Alan kebingungan dia menghela nafas panjang.
"Kenapa aku jadi sangat merasa bersalah seperti ini sih? Aku jadi takut melihat Adel diam seperti itu." ucap Alan dalam hati.
"Huff Lagian karyawan di kantor sama sekali tidak bisa menjaga rahasia." ucap Alan dengan kesal. Di kamar Adel merapikan tempat tidur nya.
"Ternyata tidak ada gunanya aku berusaha membuat kak Alan menyukai ku, aku tidak akan bisa memenangkan hati nya dan mempertahankan pernikahan ini." ucap Adel.
"Kak Alan tidak akan pernah menyukai ku, seperti nya aku juga harus berhenti berharap banyak dengan pernikahan ini." ucap Adel.
Di tengah malam....
Alan sama sekali tidak bisa tidur dia melihat ke arah Sofa, karpet dan mengingat mereka tidur bersama di karpet.
Dia Pindah ke bawah berharap bisa tidur namun tidak bisa.
"Argghh ada apa dengan ku? Akhir-akhir ini aku tidak berhenti memikirkan Adel. Aku sangat takut dia marah kepada ku." ucap Alan.
Dia memaksa untuk tidur dengan keadaan perut lapar namun tidak bisa, terpaksa dia harus keluar dari kamar nya mencari makanan.
Alan keluar dari kamar dia langsung melihat ke arah pintu kamar Adel.
"Adel sudah tidur apa belum yah?" batin Alan. Dia berjalan ke arah dapur memakan yang bisa dia makan.
Namun saat membuka tudung saji dia melihat banyak makanan yang sudah dingin.
"Apa Adel memasak ini untuk ku?" ucap Alan.
Ternyata Adel sudah memasak itu setelah pulang sekolah sebelum pergi menyusul diri nya.
Dia sangat merasa bersalah sekali. Akhirnya dia memanaskan makanan yang bisa di panas kan dan dia akhirnya makan.
Keesokan harinya... Adel bangun pagi untuk masak sarapan terlebih dahulu.
Namun saat keluar dia kaget melihat Allan tidur di sofa ruang tamu.
Dia mau mengambil selimut untuk Alan namun tidak jadi. Adel langsung ke dapur memasak makanan dan juga mengisi bekal nya agar dia bisa sarapan di Sekolah saja.
__ADS_1
Setelah selesai masak, dia siap-siap berangkat ke sekolah. Semua nya selesai dia meninggal kan kertas di atas meja dan berangkat ke sekolah.
Alan terbangun karena mencium aroma parfum Adel, dia bangun dari tempat tidur namun sudah melihat mobil Adel keluar dari halaman rumah.
Alan mengusap wajah nya. Mata nya melihat kertas yang ada di meja.
"Aku sudah masak sarapan, aku harus berangkat ke sekolah cepat." ISI surat yang sangat singkat dan terbaca sangat cuek sekali.
"Cihh surat Ijin seperti apa ini? dia tidak memiliki kesopanan kepada suami." ucap Alan dengan kesal.
Dia segera sarapan dan setelah itu berangkat ke kantor.. Sampai di kantor dia langsung menemui resepsionis yang mengadukan dia.
Mereka berdua kenapa marah oleh Alan.
Di sekolah Adel dan Yoga sarapan sama-sama. Adel berusaha menghilangkan semua beban pikiran nya karena kalau sudah sama yoga dia pasti sudah bahagia.
Hari ini Alan mengabaikan semua pesan Riska, mengabaikan telpon dari kekasihnya itu. Dia hanya memikirkan Adel.
"Kenapa aku harus pusing memikirkan Adel? Ada ap dengan ku, tidak biasanya aku seperti ini kepada Adel." batin Alan.
Dia melihat jam sudah jam Tiga sore.
"Adel pasti sudah pulang, aku harus segera pulang ke rumah. Aku harus menjelaskan apa yang terjadi." ucap Alan.
"Pak Alan mau kemana?" tanya sekretaris nya.
"Saya harus pulang." ucap Alan.
"Tunggu dulu pak, kalau Bapak pulang bagaimana dengan pekerjaan ini? hal ini sangat penting pak." ucap sekretaris nya.
Alan melihat Surat itu, dia menghela nafas panjang.
"Huff kenapa masih ada saja?" ucap Alan.
"Ini baru jam tiga pak, tidak biasanya bapak pulang jam segini?" tanya sekretaris nya.
"Bukan urusan kamu " ucap Alan. Sekertaris nya terdiam.
"Huff aku pun pulang mau menjelaskan apa kepada Adel? dia pasti tambah marah kepada ku karena tau aku memiliki pacar di belakang nya." batin Alan.
"Tapi aku tidak bisa seperti ini, aku sudah terbiasa dengan Omelan, cerewet dan kebersamaan dengan dia." ucap Alan.
"Kalau tiba-tiba di diamkan seperti ini rasanya begitu hampa." ucap Alan dalam hati.
__ADS_1