
Tidak jarang dia terkena masalah kecil hanya karena buru-buru saja.
"Huff kenapa kak Alan gak ngomong sih kalau mau makan siang di rumah lagi? aku jadi sangat terburu-buru seperti ini." ucap Adel.
Dengan kecepatan seribu dia langsung memotong-motong sayur, bawang dan juga menggoreng ikan.
Sambil memasak dia memerhatikan Jam.
"Huff kenapa sangat lama sih masak nya?" ucap Adel. Karena buru-buru tidak sengaja tangan nya terkena sendok goreng yang sangat panas sehingga membuat kulit nya merah.
Klakson mobil Alan membuat Adel terkejut. Dia cepat-cepat menata makanan di atas meja. Alan masuk dia melihat Adel Menata makanan di atas meja.
"Huff wangi sekali, ini pasti sangat enak sekali. Saya sudah sangat lapar." ucap Alan.
"Kalau begitu makan lah kak. Aku minta maaf kalau makanan nya kurang enak." ucap Adel.
"Kenapa tidak enak?" tanya Alan. Adel menggeleng kan kepala nya dan diam.
"Semua nya yang kamu masak pasti terasa sangat enak, kamu tidak perlu ragu lagi." ucap Alan.
Adel menghela nafas panjang. "Aku masak terburu-buru karena bangun telat, aku takut kalau kakak datang namun belum masak." ucap Adel.
Alan melihat Adel seperti menahan sakit. Alan tiba-tiba menarik tangan Adel.
"Jangan bilang ini terluka karena kamu juga buru-buru?" tanya Alan.
Adel diam. Alan mengambil kotak obat dan langsung mengobati tangan Adel.
"Ini tidak apa-apa kok kak, Hanya luka kecil saja." ucap Adel.
"Bagaimana bisa kamu mengatakan ini hal kecil? Ini luka parah dan melepuh." ucap Alan.
"Ssttt... Pelan-pelan kak." ucap Adel.
"Tuh kamu saja mengatakan nya sakit sementara saya hanya melakukan nya dengan sangat lembut." ucap Alan.
"Tapi tetap saja sangat pedih." ucap Adel. Setelah sudah di bungkus akhirnya lega juga.
"Sudah enakan bukan?" ucap Alan..Adel mengangguk sambil tersenyum.
"Kamu sudah makan?" tanya Alan. Adel menggeleng kan kepala.
"Apa dari pagi kamu belum makan?" tanya Alan.
Adel mengangguk.
"Jangan di biasa kan seperti itu! Bagaimana mana kalau kamu sakit?" tanya Alan.
Adel menggeleng kan kepala nya. "Tidak apa-apa kok." ucap Adel.
Alan menghela nafas panjang. "Makan lah yang banyak." ucap Alan sambil menambahkan makanan di piring Adel.
__ADS_1
"Terimakasih kak. Tapi kakak lanjut lah makan. Nanti kakak akan telat kembali ke kantor." ucap Adel.
Alan mengangguk. Tidak beberapa lama akhirnya dia selesai makan.
"Apa kakak mau kembali ke kantor?" tanya Adel setelah menyimpan semua piring kotor mereka.
"Humm apa ada yang penting?" tanya Alan.
Adel menggeleng kan kepala nya.
"Aku mau kakak pulang cepat." ucap Adel.
"Ada apa? Tidak biasanya kamu mengatakan seperti itu?" tanya Alan.
Adel menggeleng kan kepala nya lagi.
"Tidak apa-apa, aku hanya ingin kakak cepat pulang." ucap Adel.
"Baiklah saya akan pulang cepat kalau kamu takut sendirian di rumah langsung telpon saya, atau kamu mau ikut ke kantor?" tanya Alan.
"Tidak perlu kak, aku tidak ingin jadi pusat perhatian nanti di sana." ucap Adel.
"Ya sudah kalau begitu. Saya pergi dulu." ucap Alan. Adel mengganguk.
Alan melihat Adel masuk ke dalam mobil nya dan segera pergi meninggalkan istri nya di rumah.
Adel senyum-senyum sendiri melihat luka yang ada di tangan nya.
Tiba-tiba handphone nya berdering telpon dari Yoga.
"Halo Adel." ucap yoga.
"Halo." ucap Adel.
"Kamu di mana? Apa kamu sudah pulang?" tanya Yoga.
"Sudah kok, tadi malam aku sampai di rumah. Ada apa?" tanya Adel.
"Tidak.. aku hanya memastikan kamu di rumah saja, aku sudah Dalam perjalanan ke arah rumah kamu." ucap Yoga.
"Ke rumah ku? Ngapain?" tanya Adel kaget.
"Aku ingin bertemu dengan kamu, apa tidak boleh?" tanya Yoga.
"Bukan tidak boleh, hanya saja aku lagi istirahat di rumah, bagaimana kalau besok saja kita ketemu di luar." ucap Adel.
"Tapi aku sudah dekat di rumah kamu." ucap yoga.
"Aku mohon pengertian kamu Ga, aku lagi mau istirahat." ucap Adel.
"Ya sudah kalau begitu, aku tidak akan memaksa kamu. Selamat istirahat yah, jangan lupa mengabari aku besok." ucap yoga.
__ADS_1
Adel menginyakan dan langsung mematikan sambungan telepon.
"Maafin aku yah Yoga, aku terpaksa seperti ini karena aku ingin kehidupan ku dengan suami ku baik-baik saja." ucap Adel.
Satu Minggu lebih rumah di tinggal kan membuat sangat berantakan dan juga kotor.
"Sebaiknya aku membersihkan rumah dulu, ini sudah sangat berdebu dan tidak nyaman sama sekali." ucap Adel.
Dia mulai mengambil perkakas untuk membersihkan rumah. Memulai merapikan semua barang-barang yang berantakan asal letak.
"Huff Kak Alan kenapa sih meninggalkan rumah dengan keadaan berantakan seperti ini? Semua nya jadi sangat Sulit di bersih kan." ucap Adel.
Namun sambil mengoceh dia terus membersihkan semua yang Kotor sampai akhirnya semua nya selesai.
Dia duduk sebentar di sofa karena sudah sangat lelah sekali.
"Ini sudah jam empat sore sebaiknya aku mandi dulu sebelum kak Alan pulang." ucap Adel.
Dia langsung ke kamar nya mandi.
Di tempat lain Alan sedang fokus bekerja. Tiba-tiba Ada sekertaris masuk.
"Selamat sore pak." ucap sekretaris nya.
"Ada apa?" tanya Alan.
"Di depan adalah Bu Riska." ucap sekretaris nya.
"Suruh dia pergi. Saya sedang sibuk." ucap Alan.
"Baik pak." ucap Sekertaris nya.
"Maaf Bu, pak Alan sedang sibuk dia tidak bisa keluar menemui ibu." ucap sekretaris nya.
"Dia berbohong! saya mau bertemu dengan nya, jangan menghalangi saya." ucap Riska.
"Maaf Bu tapi Bapak lagi tidak bisa di ganggu." ucap sekretaris Alan.
"Kamu berbohong! Jangan melarang saya, saya akan melaporkan kamu kalau kamu tidak mengijinkan saya masuk ke dalam." ucap Riska.
"Mohon maaf Bu, tapi memang tidak bisa masuk ke dalam." ucap sekretaris nya lagi. Namun Riska sangat keras kepala. Hingga akhirnya sekretaris nya mengusir.
Alan keluar dari ruangan nya dia melihat Riska berteriak sekuat mungkin.
"Lepas kan dia." ucap Alan. Sekretaris langsung melepaskan nya. Riska berlari ke arah Alan dan langsung memeluk nya.
"Mereka semua sangat tega sayang. Kenapa mereka melakukan itu kepada ku? Mereka mengusir dan tidak mengijinkan aku masuk menemui kamu?" ucap Riska.
"Ikut dengan saya." ucap Alan menarik tangan Riska keluar.
"Apa yang lakukan di sini?" tanya Alan membentak Riski setelah sudah di dalam mobil.
__ADS_1