
"Ya udah kalau begitu kamu hati-hati, jangan lupa kabarin Mamah sama papah." ucap Orang tua nya.
Alan menganguk. "Tunggu aku di sana Adel." ucap Alan memasukkan barang-barang nya ke dalam mobil.
Dia meninggal kan halaman orang tua nya.
"Papah tadi kok berbicara seperti itu sih? Mamah gak mau Alan sama Adel bercerai." ucap mamah Alan.
"Itu hanya ancaman Papah saja, seperti nya Alan sudah takut itu artinya ada peluang besar kalau mereka akan saling mencintai." ucap papah nya.
"Oohh begitu yah pah." ucap mamah Alan. papah nya tersenyum.
"Bagus deh kalau seperti itu. Mamah tidak sabar melihat mereka nanti akur, romantis dan. Alan Perhatian kepada Adel." ucap Mamah nya.
"Papah juga tidak sabar. Adel adalah perempuan yang baik, sangat sia-sia kalau Alan seperti itu kepada Adel." ucap suami nya.
Mereka berdua berbincang-bincang mengenai anak dan menantunya itu.
Alan di perjalanan sudah mulai bosan.
"Huff Adel benar-benar membuat hidup ku terasa sangat berantakan." ucap Alan.
Sambil menurun kan kaca mobil nya dan menghidupkan rokok nya. Tidak lupa juga dia memasang lagu yang sangat enak untuk menikmati perjalanan.
Di malam hari nya..
"Kak Alan sudah sampai mana yah? apa dia benar datang ke sini?" batin Adel.
"Atau jangan-jangan dia hanya berbohong saja?" tanya Adel kebingungan.
"Sebaiknya aku menelpon mamah saja memastikan semua nya itu." ucap Adel. Dia menelpon mertua nya dan ternyata benar saja suami nya sudah berangkat.
"Kok kak Alan belum sampai? Seharusnya jam segini dia sudah sampai di sini." ucap Adel.
Karena sudah malam Adel tidak yakin kalau Alan Akan sampai di penginapan nya malam itu.
Adel merasa sangat sepi hanya di kamar saja akhirnya dia memutuskan untuk keluar dari kamar nya itu.
"Adel..." panggil Yoga yang sedang berkumpul dengan teman-teman laki nya di depan penginapan.
Adel mendekati mereka.
"Yang lain pada kemana?" tanya Adel.
"Mereka lagi keluar untuk membeli cemilan." ucap Yoga.
"Oohh." ucap Adel.
"Sini duduk." ucap Yoga menepuk tempat duduk di samping nya.
Adel memilih duduk di kursi yang lain. Yoga berusaha untuk mengerti.
__ADS_1
Setelah beberapa lama akhirnya semua teman-teman perempuan nya pulang membawa makanan.
Mereka berkumpul bercerita-cerita di depan penginapan.
"Adel kamu kok diam saja sih dari tadi? Biasa nya kamu tidak seperti ini?" tanya teman Adel yang sadar dengan sifat Adel.
Adel menggeleng kan kepala nya.."Gak apa-apa kok." ucap Adel.
"Kita jalan-jalan ini mau menenangkan pikiran, bukan untuk memikirkan semua masalah. Tugas kita sudah sampai selesai, sekarang waktunya nya untuk happy-happy." ucap teman nya lagi.
Adel tersenyum dia memaksa untuk berbicara walaupun sebenarnya pikiran nya entah kemana.
Waktu nya untuk istirahat. Semua nya sudah kembali ke kamar nya masing-masing.
"Adel apa sih yang kamu pikirkan?" tanya Yoga kepada Adel yang belum kembali ke kamar nya, dia melihat Adel yang diam saja.
Adel menoleh ke arah Yoga.
"Awalnya aku merasa dengan pergi ke sini akan membuat pikiran ku tenang, aku bisa lepas dari beban Pikiran namun ternyata aku salah." ucap Adel.
"Maksud kamu?" tanya Yoga.
"Aku memiliki masalah yang benar-benar membuat aku merasa pusing, aku tidak bisa mengatasi nya, namun ternyata sekarang membuat aku semakin kefikiran." ucap Adel.
Yoga Hanya diam. "Aku tidak berhenti memikirkan suami ku, apa aku sangat durhaka menjadi seorang istri?" ucap Adel.
"Tidak Adel, kamu jangan berfikir seperti itu." ucap Yoga.
"Aku harus bagaimana? Aku sudah berusaha sebisa ku, aku sudah melakukan yang menurut ku baik. Namun tidak ada gunanya." ucap Adel.
Yoga mengelus kepala Adel. "Jangan berfikir seperti itu Adel." ucap Yoga.
"Kamu sudah melakukan yang terbaik, jangan berfikir yang aneh-aneh yah." ucap Yoga.
Adel terdiam sejenak. "Aku sangat capek, aku mau berhenti, aku tidak sanggup dengan semua ujian yang di kasih Allah." ucap Adel.
"Sstt jangan berbicara seperti itu. Kamu adalah wanita yang kuat, tidak mungkin kamu menyerah. Kamu sudah sejauh ini." ucap Alan.
Adel memegang kepala nya.
"Apa yang harus aku lakukan agar suami ku menganggap ku ada? Menghargai aku?" ucap Adel menatap wajah yoga sambil menangis.
Mungkin tidak tahan lagi semua yang dia simpan akhirnya dia mengungkapkan semua nya.
Sementara di arah lain Alan berdiri diam tidak jauh dari mereka dan mendengarkan percakapan mereka.
Dia mendengar semua yang di katakan oleh Adel, dia merasa sangat buruk sekali dia merasa sangat bersalah. Melihat Adel menangis seperti itu membuat nya kasihan.
Sekarang dia sudah Sadar ternyata dia sangat jahat sekali kepada Adel.
Adel menoleh ke arah Alan. Dia kaget dan langsung berdiri menjauh dari Yoga.
__ADS_1
"Kak Alan." ucap Adel.
Adel langsung menghapus air mata nya. Yoga juga langsung berdiri melihat suami Adel datang.
"Kamu sebaiknya pergi dulu yah." ucap Adel kepada Yoga. "Kamu yakin baik-baik aja?" tanya Yoga.
Adel mengangguk. Yoga akhirnya pergi dia berpapasan dengan Alan.
Alan menatap nya begitu juga dengan dia.
"Kakak kenapa tidak bilang kalau sudah sampai di sini?" tanya Adel mendekati Alan dan langsung menyalim tangan Yoga.
Namun dia langsung menarik tangan Adel memeluk nya dengan sangat erat sekali.
Adel terkejut. Alan memeluk Adel.
"Maafin saya, saya minta maaf." ucap Alan. Adel berusaha melepaskan diri dari pelukan Alan.
"Ada apa dengan kakak?" tanya Adel. Alan Menatap wajah Adel.
"Saya mendengar semua pembicaraan kamu dengan Yoga." ucap Alan. Seketika Adel langsung terdiam.
"Saya ternyata sangat buruk. Maaf kan saya." ucap Alan.
"Aku tidak mengatakan itu, kakak jangan salah paham." ucap Adel.
"Seharusnya kamu tidak menikah dengan pria seperti saya." ucap Alan.
"Eh ada Tamu?" tiba-tiba guru Adel datang.
"Oh iya Bu kenalin ini kak Alan." ucap Adel.
"Kakak kamu yah?" tanya guru nya. Adel mengangguk.
"Iyah Kak." ucap Adel.
Alan bersalaman dengan guru Adel.
"Kakak kamu sangat ganteng sekali. Ngomong-ngomong kok bisa sampai ke sini?" tanya guru Adel.
"Saya mau menjemput Adel Bu." ucap Alan.
"Loh bukannya Adel gak ngomong kalau hari ini tidak jadi pulang? Mungkin sekitar tiga hari lagi." ucap guru nya Adel.
"Gak apa-apa kok Bu, saya di sini juga sekalian akan liburan." ucap Alan.
"Jadi bapak akan menunggu Adel di sini?" tanya guru Adel. Alan Mengangguk.
"Oohh ya sudah kalau begitu." ucap guru nya.
"Kamar bapak di nomor berapa? Setau say semua kamar di sini sudah penuh." ucap guru Adel.b
__ADS_1