
"Alan kamu anterin Adel ke ruang ganti." ucap Bu Yani.
"Dia sudah besar, dia tau sendiri." ucap Alan.
"Alan,.." ucap papah nya. Alan tidak bisa mengatakan apapun lagi dia langsung mengikuti perintah orang tua nya.
Adel mengikuti Alan ke arah ruang ganti baju.
"Jangan lama-lama." ucap Alan. Adel masuk ke ruangan itu dan menukar baju nya.
"Loh kenapa terlalu terbuka seperti ini sih?" ucap Adel karena dress ala Sabrina.
"Kenapa begitu lama? Waktu saya bukan hanya menunggu kamu." ucap Alan mengetuk pintu.
"Iyah tunggu sebentar." Adel keluar dari ruangan ganti.
"Baju nya tidak ada yang lain yah kak? Ini sangat terbuka aku tidak Percaya diri." ucap Adel.
"Masih baik ada, dari pada tidak sama sekali, ayo cepat pergi." ucap Alan berjalan terlebih dahulu.
"Maaf yah Tante membuat lama menunggu, aku berfikir panjang untuk memakai baju ini, terlihat sangat terbuka sekali." ucap Adel.
"Bagus kok." ucap Bu Yani. Adel tetap saja tidak Percaya diri.
Mereka sampai di butik untuk mencari baju pengantin pria dan wanita. Cukup lama mereka di sana akhirnya selesai juga.
"Kamu ajak lah Adel Makan dulu Alan! Mamah sama papah mau bertemu teman Papah kamu." ucap Bu Yani.
Alan menganguk.
"Ayo.." Ajak mamah nya meninggal kan Adel dengan Alan.
"Tunggu kak." ucap Adel mengikuti Alan yang berjalan sangat cepat.
Mereka sampai di cafe. Alan memesan makanan untuk nya. Adel juga memesan untuk nya.
"Kenapa kamu duduk satu meja dengan saya? Masih banyak meja yang lain, kamu pindah!" ucap Alan.
"Tapi kak kita datang sama-sama." ucap Adel. Alan yang akhirnya pindah.
Adel hanya diam saja, dia memakan makanan nya sampai habis setelah itu mereka keluar dari sana.
Di dalam mobil Adel dan Alan menunggu Bu Yani dan pak Daniel.
"Lima hari lagi kita akan menikah, saya benar-benar tidak habis pikir dengan pilihan orang tua saya memilih perempuan seperti kamu!" ucap Alan.
__ADS_1
Adel diam. "Kenapa kamu tidak mencoba melawan? Kenapa kamu tidak menentang?" tanya Alan.
"Atau jangan-jangan kamu sudah jatuh cinta kepada saya? Atau jangan-jangan kamu tergila-gila pada harta sama seperti orang tua kamu?" ucap Alan.
"Kakak boleh menghina ku, tapi jangan bawa-bawa kedua orang tua ku." ucap Adel, Alan tertawa.
"Semua orang tau kalau orang tua kamu hanya gila uang, mereka tidak pernah tulus. kalau bukan karena teman baik orang tua saya, mana mungkin orang tua saya memilih kamu." ucap Alan.
"Kalau boleh memilih, aku juga tidak ingin menikah, aku masih ingin menikmati masa muda ku. Aku juga tidak mau menikah dengan pria yang bermulut kotor seperti kakak." ucap Adel.
"Kamu ngomong apa? Jangan berani-berani nya kamu kepada saya!" ucap Alan.
Adel kesakitan karena tangan nya di genggam Kuat oleh Alan.
"Sakit.." ucap Adel meringis berusaha melepaskan namun semakin sakit.
"Kamu hanya anak kecil yang tidak mengerti apa-apa! Jangan berharap kamu bisa saya anggap sebagai istri!" ucap Alan langsung melepaskan tangan Adel karena orang tua nya sudah datang.
"Nungguin lama yah?" tanya Bu Yani.
"Enggak kok mah." jawab Alan.
"Ya udah kalau begitu kita langsung pulang saja, kita nganterin Adel pulang dulu." ucap Bu Yani.
Selama perjalanan Adel tidak berbicara. Dia hanya diam saja duduk di depan si samping Alan yang sedang menyetir.
Mereka singgah sebentar setelah itu langsung pulang sudah larut malam.
"Bunda.." Panggil Adel datang ke kamar orang tua nya.
"Ada apa? Ini sudah tengah malam kenapa kamu belum tidur?" tanya Bunda nya.
Adel duduk di atas karpet tidak jauh dari kaki orang tua nya yang sedang duduk di sofa menonton TV.
Orang tua nya kebingungan melihat Adel.
"Bunda.. Ayah.. Aku mohon kali ini untuk meminta bunda dan Ayah memikirkan lagi perjodohan ini. Aku benar-benar belum siap, aku minta maaf, aku sudah mengecewakan bunda dan Ayah." ucap Adel memegang kaki bunda nya.
"Apa yang kamu bicarakan Adel? Kamu jangan membuat bunda dan Ayah marah sama kamu. Menyingkirkan lah!" ucap Bunda nya seperti tidak sudi di sentuh oleh Adel.
"Bunda.. Aku tidak siap untuk menikah." ucap Adel.
"Siap atau tidak itu tidak urusan kami, sekarang undangan sudah di sebar. Jangan mempermalukan keluarga dengan cara seperti ini." ucap Orang tua nya.
"Sekarang pergi istirahat ke kamar kamu. Jangan di sini!" ucap Ayah nya. Adel tidak berani mengatakan apapun dari pada orang tua nya marah akhirnya dia pergi dari Kamar itu.
__ADS_1
Sampai di kamar nya dia langsung menangis sejadi-jadinya.
"Ya Allah bantulah aku, aku sangat takut aku juga bimbang." ucap Adel.
Sampai dia ketiduran duduk bersandar ke kasur.
Keesokan harinya..
"Adel bangun! Adel bangun!!" bunda nya membangun kan Adel dengan cara yang sangat kasar.
"Iyah Bunda, Maaf aku kesiangan." ucap Adel.
"Cepat bersih-bersih dan masak sana! Setelah itu kamu harus ke rumah pak Daniel." ucap bunda nya.
"Ngapain aku ke sana Bunda?" tanya Adel.
"Jangan banyak tanya kamu! Mereka yang menyuruh kamu ke sana!" ucap bunda nya menarik Adel.
"Baiklah bunda." Bunda nya keluar.
Adel meregang kan otot-otot nya.
"Badan ku semua sakit, kepala ku juga sakit sekali." ucap Adel, namun tiba-tiba orang tua nya bersorak dari bawah, dia segera keluar.
Tepat jam sepuluh dia sudah berangkat ke rumah Calon mertua nya.
"Permisi...." Adel mengetuk pintu rumah.
"Iyahh..." jawab Bu Yani yang datang dari arah dapur.
"Eh nak Adel sudah datang, ayo langsung masuk saja. Kebetulan kami lagi sarapan, ayo ikut bergabung." ucap Bu Yani.
Adel menyalim tangan Bu Yani.
"Loh badan kamu kok panas sih?" tanya Bu Yani khawatir.
"Enggak kok Tante, hanya perasaan Tante saja." ucap Adel. Bu Yani Memeriksa nya dan membandingkan dengan tubuh nya.
"Kamu sangat panas sekali Adel, mata kamu juga sangat sayu." ucap Bu Yani. Adel tersenyum sambil menggeleng kan kepala nya.
"Gak apa-apa kok Tante." ucap Adel. Namun saat asik berbicara Adel mimisan dia pusing dan jatuh pingsan.
Bu Yani histeris. Alan dan pak Daniel datang. Mereka langsung membantu Adel.
"apa yang terjadi mah?" tanya Alan.
__ADS_1
"Adel pingsan, dia kurang enak badan, darah keluar dari hidung nya." ucap Bu Yani.
Alan terlihat sangat Cuek, namun orang tua nya memaksa membawa ke sofa agar bisa meluruskan badan. Segera di panggil dokter. Alan terlihat biasa saja namun kedua orang tua nya sangat khawatir.