
"Eh, Mir tumben di anter pakek Mobil? Dia siapa Mir, udah tua kok malah kelihatan ganteng?" Tanya Salsa salah satu teman Miranda yang memiliki rambut sedikit keriting itu dengan gemas.
"Em... itu!"
Miranda garuk-garuk kepala, bingung mau jawab apa. Mana mungkin Miranda bilang kalau itu adalah suami yang menikahinya kemaren.
"Ya udah deh itu gak penting Sa, tapi ini jauh lebih penting Mir. Emang bener ya pacar kamu Bara pindah sekolah ke luar negeri?" Seloroh Marry penasaran.
"Nah bener tu Mir, terus hubungan kalian gimana? Jangan bilang ya kalau kalian jadi putus di tengah jalan sekarang?" imbuh Salsa lagi menunjukkan ketidak ridoannya jika Miranda mengakhiri hubungan dengan Bara.
"Apaan sih? Gak penting banget soal itu? Ayo kita masuk aja, sebentar lagi bel berbunyi lo, biar Bara menjadi urusanku?"
Miranda merangkul kedua sahabatnya itu segera masuk kedalam kelas dan seperti biasa teman-teman Miranda bersikap biasa saja karena mereka memang tidak ada yang tahu mengenali kehamilan Miranda yang masih dini itu.
"Udah sembuh Mir?" Tanya mereka silih berganti menanyai Miranda.
"Alhamdulilah udah, walaupun masih lemes sedikit sih. Tapi gak papa kok," jawab Miranda seraya tersenyum.
__ADS_1
Tring!
Trong!
Bel masuk benar-benar berbunyi, mereka segera membenahi posisi duduk mereka karena ujian akan segera di mulai.
"Pagi anak-anak!" Sapa Bu Erina yang baru masuk. Beliau adalah seorang perawan yang bisa di bilang sudah berusia cukup dewasa untuk segera menikah. Tapi sampai saat ini Bu Erina yang sedikit memiliki tubuh gempal itu belum juga menemukan tambatan hati.
"Pagi Bu!"
"Masih ingatkan ada latihan soal hari ini?" Tanya Bu Erina lagi.
"Bagus, itu artinya kalian sudah mempersiapkan diri dengan belajar sekarang. Jadi kalian tidak mungkin kesulitan mengatasinya!"
Bu Erina membagikan selembaran soal dan jawaban ke seluruh siswa yang hadir. Tidak ada satu pun yang boleh terlewatkan.Tak berapa lama setelah selesai membagikan lembar kerja siswa, Pak Randy rupanya malah masuk, guru itulah yang selalu di jodoh-jodohkan siswa dengan Bu Erina saat ini karena sama-sama masih jomblo di usia mereka yang sudah matang.
Tok!
__ADS_1
Tok!
Tok!
"Eh Pak Randy, masuk Pak. Ada apa ya?" Sapa Bu Erina dengan ramah. Dia harus menunjukkan etika dengan baik di hadapan mahasiswanya meski sebenarnya sedikit sebel, karena sudah di pastikan akan menjadi bahan guyonan anak-anak.
"Ciye ada pacarnya ni, pasti Pak Randy lagi kangen Bu sama Ibu. Seharian kemaren kan Pak Randy ditugasin ke kecamatan jadi gak bisa masuk deh!" Kicau beberapa siswa hingga gelak tawa sempat meledak.
"Ehemz, Ehemz, asyik ni di tengok pacar!" Timpal yang lain lagi.
"Hus, jangan ribut. Nanti Kepala sekolah denger lo," tegur Pak Randy yang sedikit malu sebenarnya. Selain itu mereka memang harus fokus dengan soal ujian sementara agar bisa mendapat nilai maksimal.
"Ini, Maaf Bu Erina sebelumnya. Apa masih ada soal yang tersisa ya. Disebelah kurang soalnya?" Tanya Pak Randy sedikit cengengesan.
"Oh... iya ada Pak. Ini ambil saja," jawab Bu Erina yang sama malunya dengan Pak Randy sambil menyodorkan lembar kerja siswa tersebut hingga sempat berpandangan beberapa saat.
"Cuit, Cuit, ada yang lagi kasmaran ni?" Teriak Bagong yang duduknya paling pojok sendiri hingga kembali mengundang tawa semuanya.
__ADS_1
"Sst, ayo kerjakan tugasnya. Sekarang bukan waktu yang tepat untuk bercanda!" Tukas Pak Randy sambil berlalu keluar meninggalkan Bu Erina yang masih senyum-senyum sendiri membayangkannya.
"Aduh, anak-anak ini. Bikin salting aja deh," gumam Bu Erina seorang diri sambil merapikan rambutnya yang tergelung tinggi ke atas meski sebenarnya tidak ada yang berantakan untuk menutupi rasa canggungnya.