Calon Mertua Menjadi Suamiku

Calon Mertua Menjadi Suamiku
Bab 48 Perang Mulut


__ADS_3

Terus saja seperti itu. Bara selalu saja berhasil membuat kepalanya sangat pusing hingga Jonathan tak sanggup lagi meladeni kelakuan Bara.


"Pulanglah, biar Papa yang urus Miranda di sini. Gak ada gunanya juga kamu berdiam diri di tempat ini. Ajak Nenek sekalian!" Tukas Jonathan. Tak mau lagi menoleh kearah mereka yang selalu saja suka seenaknya.


Bara hanya bisa terdiam sambil menoleh kearah Miranda dengan perasaan hancur. Gara-gara kebodohannya Mereka jadi harus kehilangan anak yang seharusnya dapat mengikat hubungan mereka dengan kuat kedepannya.


Sebelum pergi, Bara pun berkata, "Maaf, Mir. Ini memang salahku!"


Miranda tidak menimpali, hanya air mata yang menjadi bukti kalau saat ini Ia benar-benar berada dalam puncak rasa kecewa dan marah di level paling tinggi.


Merasa di abaikan akan segala kesalahan fatalnya, Bara pun memutar tubuhnya untuk pergi dan hal itu membuat Mama Mutia makin tidak suka dengan keberadaan Miranda.

__ADS_1


"Ayo Bar, Nenek juga gak suka punya menantu tengil seperti dia!"


Mama Mutia mendahului keluar, dan hal itu akhirnya di susul oleh Bara.


Baru saja sampai di depan ruangan, keduanya di pertemukan dengan kekuarga besar Miranda yang baru saja datang.


"Loh, ini kan_?" Mbak Lilis mencoba mengingat-ingat kapan Ia pernah melihat pemuda seusia Miranda di depannya itu.


Mendengar nama itu dari mulut mertua adiknya itu, barulah Mbak Lilis sadar siapa anak itu, "Nah iya, benerkan gak salah lagi. Ini dia cowok kurang ajar yang udah ngehamilin si Miranda. Eh bocah edan, mana tanggung jawabmu ha? Enak saja main minggat seenak udel di hari pernikahan kalian. Kamu sengaja ya mau bikin kita malu?" Amuk Mbak Lilis sembari menuding-nuding wajah Bara yang tertunduk takut di tempatnya.


Tidak terima dengan ucapan Mbak Lilis yang memojokkan Bara, Mama Mutia pun melakukan pembelaan, "Apa sih nunjuk-nunjuk gitu? seharusnya yang kamu salahin itu si Miranda tu, ngapainya juga dia kegatelan sama Bara sampai hamil begitu, kalau bukan karena dia itu juga bukan perempuan baik-baik."

__ADS_1


"Alah, Bu. Jangan salahin adik saya dong. Dia itu korban rayuan bocah tengil ini ni. Dasar laki-laki pengecut. Gak ada sedikit pun tanggung jawabnya. Bagus kalian gak jadi nikah. Karena sudah di pastikan Miranda akan menderita hidup sama kamu!" Kecam Mbak Lilis lagi sambil melotot kesal pada wajah pemuda di samping Mama Mutia.


Tak ingin tambah runyam, Ibunda Miranda pun menengahi, "Udah Lis, jangan ribut-ribut begitu. Ini rumah sakit , Ndok. Bukan lapangan bola?"


"Iya Ndok, yang lalu biarlah berlalu. Toh sudah kelewatan juga. Jadikan saja ini pelajaran berharga kedepannya," sambung Pak Syamsul pula.


Mbak Lilis bersedekap sambil terus memandangi Bara, sampai akhirnya Mama Mutia menarik lengan cucunya itu untuk pergi dari hadapanan mereka sambil melengos seenaknya.


"Is dasar gak ada sopan-santun. Pasti si Bara meniru Neneknya yang sombong itu," gerutu Mbak Lilis sangat kesal.


"Wes to dek, berhenti marah-marah begitu. Tujuan kita kesini kan mau jengukin Miranda. Bukan ngurusin hal yang ndak penting," ujar Mas Adam menasehati. Seperti biasa dia adalah suami yang sangat baik. Saat bepergian seperti ini putri kecil mereka pasti ada di dalam gendongannya.

__ADS_1


__ADS_2