
Setibanya di rumah, pemuda 37 tahun itu terpaksa menggendong Miranda dari mobilnya untuk masuk ke dalam rumah.
Membaringkan wanita yang masih berusia remaja tersebut ke atas ranjang dengan sangat hati-hati agar tidak terbangun. Tapi nyatanya kejadian tak terduga kembali Miranda lakukan, dan pasti itu akan sangat mengagetkan Jonathan dengan tingkah konyolnya yang tiba-tiba melingkarkan kedua tangan sangat erat di lehernya.
Jonathan berusaha untuk melerai diri, tapi nyatanya Miranda telah mengunci tangannya hingga dada Jonathan membentur dada bocah itu.
"Om, peluk!" Pintanya dengan suara lirih. Padahal jelas sekali Jonathan melihat kedua matanya masih terpejam.
Sesaat pria dewasa yang sudah menjalani duda sekitar 18 tahun seusia Bara itu terpaku pada wajah polos nan lugu di depannya.
Entah perasaan apa yang berkecamuk di dalam sana, Jonathan sendiri tidak tahu. Tapi yang pasti Jonathan merasakan jantungnya seolah tengah berdebar-debar begitu cepat.
Astaga? Ada apa denganku? Apa aku_?...
"Tidak, mana mungkin aku tertarik pada bocah ingusan ini?" gumam Jonathan tak sadar.
__ADS_1
"Kalau suka beneran juga gak papa kok, Om!" Sahut Miranda yang ternyata dapat mendengarnya dengan jelas. Tapi seperti biasa gadis itu tidak membuka bola matanya.
"Is, apaan sih? Cepat lepaskan tanganmu, Mir?"
Jonathan tidak dapat mengendalikan diri dan memaksa Miranda untuk mengurai kedua tangannya hingga akhirnya Jonathan berhasil melakukan hal itu.
Tanpa perasaan bersalah, Miranda berbalik arah dan ganti memeluk guling. Ia membiarkan Jonathan melongo di buatnya.
"Ya ampun, dia benar-benar masih seperti anak kecil? Bagaimana mungkin akan menikahinya demi sebuah alasan yang tidak bisa ku hindari?" Celoteh Jonathan lagi seorang diri.
Tentu tak mudah dalam menjaga dan memperhatikan Miranda. Sebab gadis itu terlalu dini dalam memahami sebuah pernikahan, apa lagi kehamilan. Jika tidak dirinya yang harus siaga dan mewanti-wanti untuk mengingatkan Miranda. Hal buruk bisa saja menimpa Miranda dan bayinya.
Meski sibuk bekerja sekali pun. Jonathan pasti menyempatkan diri mengamati Miranda. Jika perempuan itu mulai mau tidur tengkurap. Jonathan buru-buru membenahi posisinya lalu kembali bekerja lagi.
Sekitar pukul satu malam, Miranda terbangun. Ia mulai gelisah karena ada sesuatu yang tiba-tiba diinginkannya.
__ADS_1
"Om...!" Serunya sambil menggaruk-garuk kepala yang sedikit gatal.
"Ada apa?" Timpal Jonathan tanpa menoleh sedikit pun.
"Aku lapar," ucapnya beralih mengusap-usap perut yang keroncongan. Padahal dia sudah makan popcorn dua bungkus saat di bioskop tadi.
Jonathan yang sebenarnya malas menuruti keinginan Miranda hanya bisa menghela nafasnya dalam-dalam. Tapi apa boleh buat. Dia harus melakukan itu demi bayi yang ada di perut Miranda, "Mau makan apa?" Tanya Jonathan sembari menutup laptopnya.
"Apa aja Om, aku lapar. Yang penting nasinya panas ya!"
"Nasi goreng mau?" Jonathan memberi penawaran.
Miranda mengembangkan senyum, "Iya Om, aku mau," jawabnya dengan wajah sumringah.
Jonathan pun segera bergerak ke dapur, sedang Miranda langsung mengekornya di belakang. Sungguh sesuatu yang menyebalkan sebenarnya harus memasak di tengah malam saat mata mulai mengantuk. Tapi Jonathan tidak akan tega jika dia tidak mengabulkan keinginan Miranda.
__ADS_1
Lagi dan lagi, Miranda hanya akan menonton kelihaian Jonathan dalam membuat bumbu untuk nasi goreng. Dimana Ia sangat gesit sekali dalam memotong sosis dan beberapa sayuran untuk campurannya.