
"Kamu bener, Mir? Aku harus ambil keputusan secepatnya. Atau aku akan menyesalinyq nanti!"
Miranda dan kedua sahabatnya mengangguk setuju. Apa pun keputusan Silla tentu itu adalah yang terbaik untuk mereka.
"Makasih ya, aku gak tahu kalau ternyata kalian sebaik ini. Padahal aku sudah bingung banget sekarang. Karena anak ini?" Silla memeluk mereka semua. Karena sudah di pastikan kalau mulai hari ini mereka pasti akan jarang bertemu lagi ke depannya.
****
Seperti hari-hari sebelumnya, Miranda sedang menunggu jemputan dari Jonathan begitu pula Silla yang menanti jemputan Om Rass.
Sesibuk-sibuknya pria itu dalam pekerjaan, Om Rass pasti akan meluangkan waktu untuk Silla. Seperti yang di lakukan Jonathan selama ini. Walau sebenarnya Silla pengen banget di jemput sama Nadya Mamanya.
Tak berapa lama kemudian, Silla melihat mobil Rass sudah menepi, "Nah itu dia orangnya, aku duluan ya Mir."
"Iya, semangat ya. Lakukan apa pun itu demi kebahagianmu!" Teriak Miranda pada Silla.
Gadis seusia Miranda itu hanya tersenyum, lantas masuk kemobil Rass yang meninggalkan sekolahan itu. Tempat di mana mereka pasti akan sangat merindukannya suatu saat nanti. Entah kapan bisa kembali kesana. Atau tidak akan pernah melihat tempat itu lagi untuk selama-lamanya.
__ADS_1
Tak lama mobil Jonathan pun sudah datang ke sana, dimana Miranda langsung menghampiri dan menyalami suaminya itu dengan hormat.
"Bagaimana dengan Ujian hari ini?" Jonathan bertanya tanpa melepas senyum.
"Alhamdulilah, Om. Besok udah mulai libur. Kami akan kesini lagi saat pengambilan ijazahnya.
Jonathan mengangguk dan membukakan pintu untuk Miranda. Dimana mereka mulai bisa menyesuai kan diri sebagai suami dan istri.
" Mau makan dulu, gak?"
"Makan di rumah aja lah, Om. Kasihan kalau Mama udah masak kita gak ikut makan!"
Baru saja tiba di rumah, Jonathan dan Miranda di kagetkan oleh teriakan Mama Mutia yang sibuk memanggil-manggil nama Bara.
"Om, Mama kenapa ya?"
"Ayo kita lihat!"
__ADS_1
Keduanya buru-buru masuk kedalam dan mendapati Bara sudah tergeletak di lantai dengan hidung berdarah.
"Bara, bangun Bara. Kamu kenapa cucuku." Sisa-sisa teriakan itu masih saja terdengar. Karena sudah beberapa waktu yang lalu Mama Mutia berteriak histeris karena bingung harus bagaimana.
"Bara kenapa, Ma?" Sebagai seorang Ayah. Tentu saja Jonathan sangat panik.
"Gak tahu Jo, sepulang sekolah tadi dia sudah terlihat lemas dan pucat. Lalu tiba-tiba saja pingsan usai bersalaman dengan Mama."
"Ya udah, kita bawa langsung saja kerumah sakit!" Jonathan pun membopong Bara ke mobil. Diikuti oleh Mama Mutia dan juga Miranda.
Kabar mengejutkan kembali harus mereka dengar, saat seorang Dokter memberi tahukan kalau Bara ternyata sudah mengindap kank#r darah stadium akhir.
Lemas kaki Jonathan mendengarnya. Kenapa Ia tidak pernah tahu kalau orang-orang yang di cintainya ternyata sedang sakit keras.
"Maafkan Papa, Bara. Lagi-lagi Papa tidak peka dengan keadaan sekitar hingga tidak tahu kalau kamu tengah sekarat dan memilih menyimpannya sendiri." Perih rasanya dada Jonathan saat ini. Haruskan Ia tidak bisa memberikan yang terbaik untuk Bara.
"Sabar Om, mungkin ini sudah jalannya!" Miranda tidak tahu cara menenangkan Jonathan jadi hanya kalimat itu yang bisa Ia katakan.
__ADS_1
"Ini salah kalian, kenapa tidak mau pisah saja, supaya Miranda nikah sama Bara," timpal Mama Mutia sangat kesal.