Calon Mertua Menjadi Suamiku

Calon Mertua Menjadi Suamiku
Bab 68 Mahal


__ADS_3

Usai membayar, Miranda sangat kaget dengan jumlah uang yang di bayarkannya. Biasanya Ia membeli tiga buah potong baju saja paling habis lima ratus ribu rupiah kalau kepasar.


"Sepuluh juta, Mbak? Gak salah ni? Mahal amat ya?"


Penjaga toko baju itu tersenyum dan mengangguk, memang itu list yang sudah di jumlahkannya melalui mesin hitung.


"Ya udah, Mbak. Kasihin aja kartunya. Kalau Pak Jo ngasih debit, itu artinya beliau ingin mbak membeli barang-barang yang berkualitas dan mewah. Kalau di pasar mah, kartu ini gak akan laku, Mbak," sahut Bianca yang telah berdiri di belakang Miranda.


"Oh gitu ya, tapi dia bakal marah gak ya?" Sepuluh juta bagi Miranda itu sangatlah besar. Butuh kerja berapa bulan untuk mengumpulkan uang sebanyak itu jika Jonathan memintanya ganti rugi.


"Udah, Mbak. Ayo kasihin kartu debitnya masak di balikin lagi sih, kan sudah Mbak Miranda pakai juga kan?" Desak Bianca agar mereka segera selesai.


"Oke deh!" Meski ragu-ragu karena takut Jonathan marah. Miranda nekat juga menyerahkan kartu yang masih berada di dalam tas sekolahnya.


Setelah memperhatikan cara kerja kartu tersebut, Miranda sebenarnya agak bingung. Bagaimana proses pembayaran berlangsung.


"Ini Mbak, sudah!" Penjaga toko baju itu menyerahkan kartunya kembali.


Sedang Miranda membolak-balik kartu itu karena masih bingung di buatnya.

__ADS_1


"Ini beneran udah kan? Tapi uangnya mana? Nanti aku di tuduh gak bayar lagi. Kan gak lucu abis dari sini aku di kejar-kejar sama polisi?" Tanya Miranda dengan wajah bingung dan polos.


Bianca dan penjaga baju itu jadi terkekeh di buatnya. Bagaimana mungkin Miranda tak tahu apa pun soal yang satu itu.


"Udah, Mbak Miranda tenang aja. Semua sudah di bayar kok. Jadi sangat aman untuk Mbak Miranda." Bianca meyakinkan lagi.


"kamu benerankan? Gak bohong?" Miranda masih tak percaya.


"Enggak, Mbak. Ayo kita ketempat lain!"


Bianca pun mengarahkan Miranda ke sebuah rak hihgheels dan sendal-sedang berkelas di salah satu bagian mall itu. Sebab Jonathan memang sudah memberi tahukannya lewat pesan WA, apa saja yang harus Miranda beli.


"Iya Mbak, bener. Banyak para artis dan model yang berlangganan tetap disini," timpal penjaga toko.


"Miranda boleh cobain gak Mbak?" Tanyanya dengan senyum yang nakal.


"Oh, tentu boleh dong Mbak. Kami memang menganjurkan konsumen untuk memilih barang apa saja yang diinginkan!'


Miranda nampak sangat senang mendengarnya. Lantas langsung mencoba beberapa sendal yang menurutnya sangat bagus.

__ADS_1


Sesaat Miranda bingung mau memilih yang mana. Karena dia menyukai kedua high heels dan sendal terakhir yang di pilihnya.


"Aduh, menurut Mbak bagusan yang mana ya?" Miranda meminta pendapat Bianca.


"Yang merah itu bagus banget Mbak," jawab Bianca. Yang memang menyukai warna merah.


"Iya sih, tapi aku juga tertarik dengan yang itu," jawab Miranda, menunjuk yang satunya, "Tapi ini juga bagus lo," sambungnya lagi yang masih saja bingung sendiri dengan pendapat Bianca.


"Ya udah, Mbak. Ambil dua-duanya aja!"


"Mahal gak?"


"Udah, gak usah takut Mbak. Ayo kita bayar!"


Setelah di hitung-hitung baju lima potong dan sendal yang dipilihnya ternyata lebih mahal sendalnya yang dua pasang.


"Tujuh juta, Mbak. Karena hari ini ada Discon sepuluh persen jadi cukup bayar enam juta aja!"


"Aduh, kok mahal banget sih Mbak?" Miranda protes lagi. Itu benar-benar harga yang pantastic untuknya. Jika di belikan motor. Sudah pasti jumlah belanjaanya hari ini bisa beli buat satu buah motor yang baru.

__ADS_1


__ADS_2