
"Kalau begitu duduklah dulu. Biar Om buatkan air minum yang hangat!"
Jonathan menuntun Miranda ke kursi tak jauh dari tempatnya memasak, lalu mencampurkan air panas yang baru di masaknya tadi dengan air dingin agar bisa langsung di minum oleh Miranda.
"Minumlah, Om akan selesaikan memasak dulu sebentar!"
"Makasih Om."
Miranda memperhatikan Jonathan yang kembali sibuk bergelut di dapur. Banyak hal yang harus Ia kerjakan sebelum Nenek Bara pulang siang nanti sedang dia harus pergi untuk bekerja.
Usai memasak, Jonathan berpamitan untuk bersiap sejenak. Masih terlalu pagi untuk Miranda berangkat sekarang. Jadi mereka akan pergi bersama-sama nanti.
__ADS_1
Miranda mengekor ke kamar untuk menyiapkan pakaian Jonathan yang mungkin Cocok di pakai. Walau sebenarnya sangat aneh bagi Miranda melakukan itu tapi apa boleh buat. Kini Ayah kekasihnya itu telah menjadi suaminya. Jadi mau tidak mau Miranda harus berbakti layaknya seorang istri.
Tak lama Jonathan keluar dari kamar mandi dan melihat pakaiannya sudah ada di ranjang. Sedang Miranda sibuk menyisir rambutnya yang panjang di depan cermin.
Tak ingin banyak komentar, Jonathan memakai saja pakaian yang ada karena dia ingin menghormati Miranda. Tapi tetap saja baginya Miranda tidak mungkin bisa menempati posisi yang istimewa seperti Melinda. Dia menikahi perempuan itu karena kebodohan Bara sehingga dia harus menelan kekecewaan dengan menggantikan posisi dari putranya itu.
Setelah selesai Jonathan bahkan tidak sarapan karena Miranda sudah siap menunggunya. Jadi hari yang sudah menjelang siang, memaksa Jonathan harus buru-buru mengantar Miranda ke sekolah.
Sesampainya di tepi jalan dekat sekolahan, Miranda mencium tangan Jonathan untuk berpamitan tapi sebelum itu Jonathan meraih dompetnya dan memberi Miranda beberapa lembar uang merah.
"Ambil saja, karena ini memang sudah kewajiban Om. Kamu bisa pergunakan uang itu untuk membeli apa saja yang kamu mau?" Jawab Jonathan dengan raut muka yang selalu saja datar saat menatap Miranda.
__ADS_1
Miranda yang memang tidak punya pegangan sama sekali pun memilih menerimanya. Tidak peduli apa anggapan Jonathan terhadapnya. Yang pasti Miranda memang membutuhkan itu untuk bayaran sekolahnya yang memang masih nunggak dua bulan.
"Makasih Om, maaf jika Miranda selalu saja merepotkan!"
"Berhenti bicara seperti itu Mir, kamu adalah tanggung jawabku, oya nanti siang Om akan jemput kamu, jadi tunggu saja sampai Om datang," jawab Jonathan dengan tegas menekankan kalimat yang di ucapkan agar Miranda mengerti.
Miranda tak lagi banyak bicara dan segera berpamitan keluar, "Iya Om makasih, kalau begitu aku masuk dulu, hati-hati di jalan!"
Miranda membenahi pakaian seragam dan tas Selempang nya sejenak lalu berlalu keluar. Jonathan melihat Miranda di sambut oleh dua orang teman seusianya dengan sangat baik. Hal itu membuat hati Jonathan merasa sangat miris.
Astaga? Apakah benar yang ku lakukan ini? Bisa-bisanya aku menikahi seorang perempuan yang masih remaja seperti dia. Pasti Miranda masih ingin mengejar mimpi dengan bergaul bersama mereka, tapi Bara sudah menghancurkan semuanya...
__ADS_1
Jujur saja Jonathan merasa malu dengan apa yang di lakukannya sekarang. Benar kata Mbak Lilis, Miranda lebih pantas jadi putrinya ketimbang istrinya. Tapi mau bagaimana lagi. Situasi itu sudah menjebak Jonathan yang tak mampu menghindari pernikahannya bersama Miranda.
Jonathan yang tidak mau semakin merasa bersalah jika lama-lama disana pun segera melajukan mobilnya meninggalkan tempat itu. Jonathan yakin bukan dia yang salah, melainkan keadaan yang telah memaksanya melakukan hal itu.