
"Tidak penting, lebih baik kamu kembali tidur sekarang. Agar kondisimu segera membaik. Besok kita pergi ke Dokter untuk periksakan kandunganmu," ujar Jonathan menukas.
"Tidak Om, Miranda mau mandi saja dan pergi ke sekolah. Hari ini ada ujian harian yang tidak bisa Miranda tinggal!"
"Apa? Kamu yakin masih ingin sekolah?" Jonathan menatap penuh ragu ke arah istri kecilnya itu.
Miranda mengangguk, Ia yakin teman-teman masih belum tahu sedikit pun tentang kondisi kehamilannya. Memang dua hari ini dia tidak pergi ke sekolah dengan beralasan sakit.
Jonathan sebenarnya tidak menginginkan hal itu, tapi sepertinya Miranda sayang meninggalkan sekolahnya yang tinggal dua bulan lagi akan segera berakhir.
"Kalau begitu, biar Om siapkan air hangat sebentar!"
Jonathan berlalu meninggalkan Miranda yang terpaku menatapnya. Tapi tak lama kemudian, Miranda memutuskan untuk menyusul Jonathan ke kamar mandi.
__ADS_1
Sebenarnya keadaan begitu dingin hingga menusuk-nusuk ke dasar tulang. Tapi Miranda harus mandi karena Ia berharap tetap bisa menyelesaikan studinya sampai tuntas. Karena Miranda juga berharap orang tuanya, masih punya rasa bangga memilikinya.
Bisa jadikan suatu saat nanti dia bisa melanjutkan belajar dengan kuliah ke jenjang yang lebih tinggi meski itu jauh dari angan-angan Miranda sendiri yang jujur saat ini tidak memiliki uang sepeser pun.
"Kalau begitu mandilah sekarang!" Titah Jonathan yang berlalu begitu saja dari ruangan tersebut. Setelah mematikan dua shower panas dan dingin yang Ia nyalakan secara bersamaan.
"Baik Om!"
Sambil menunggu Miranda selesai mandi dan memakai seragamnya, Jonathan segera pergi ke dapur untuk memasak. Bukan dia tidak punya pembantu. Tapi beberapa waktu yang lalu asisten rumah tangganya meminta cuti karena anak beliau sedang sakit. Jadi mau tidak mau, Jonathan yang memiliki keahlian dalam segala hal itu melakukannya seorang diri.
Meski terlihat sibuk, Jonathan menyempatkan diri menatap perempuan seusia anaknya itu. Kadang ada rasa aneh terbersit di benak Jonathan tentang mengapa Ia harus menikahi gadis belia itu.
"Kamu tunggu saja di meja makan, sebentar lagi Om akan hidangkan kesana!"
__ADS_1
"Biar aku bantu ya Om?" Tawar Miranda, yang mendekat kearah Jonathan. Tapi Ia langsung mual saat menghirup aroma makanan itu.
Miranda segera berlari ke wastafel di dekat sana dan lagi-lagi memuntahkan isi di perutnya. Jonathan yang tidak tega dengan cekatan memijat tengkuk Miranda.
"Apa kamu baik-baik saja, Mir?" Jonathan mengecek suhu di kening perempuan itu dengan penuh kesabaran.
Setelah mencuci dan mengusap mulutnya dengan sapu tangan dari kantong seragam SMA yang sengaja di persiapkannya, Miranda tersenyum kearah Jonathan, "Gak papa Om, maaf sepertinya Miranda tidak bisa membantu Om memasak!"
Jonathan mengangguk lecil, tidak masalah baginya dengan hal itu. Yang penting Miranda baik-baik saja di matanya itu sudah lebih dari cukup bagi Jonathan.
Karena tak ingin Miranda mual lagi, Jonathan pun menawarkan sesuatu yang mungkin Miranda inginkan sekarang. Tentu saja Jonathan berpikir seperti itu mengingat bagaimana Melinda ngidam banyak hal saat awal mula mengandung Bara, putra yang menjadi penantian mereka saat menikah dulu.
"Apa kamu menginginkan makanan yang lain saja? Biar nanti kita cari bersama-sama?"
__ADS_1
Miranda menggeleng, bukan tidak mau. Tapi Ia tidak ingin menyulitkan pria yang seharusnya menjadi mertuanya itu jika meminta sesuatu yang aneh-aneh.