Calon Mertua Menjadi Suamiku

Calon Mertua Menjadi Suamiku
Bab 15 Sikap Bijaksana


__ADS_3

"Mir, cepat kamu masuk saja ke dalam kamar!" Titah Jonathan yang beralih memandangi Miranda.


Anak remaja 17 tahun itu pun menganggukkan kepala lalu berlalu kearah kamar Jonathan sambil membanting tas selempangnya ke ranjang. Jujur hatinya terasa perih mendengar ucapan Oma Bara tadi padanya. Tapi apa yang bisa di lakukan gadis kecil itu kecuali hanya bisa menuangkannya kesedihannya lewat deraian air mata.


Sekarang Ia benar-benar sadar kalau semua ini terjadi memang karena salahnya. Waktu itu Ia sangat muda sekali tergoda oleh bujuk rayu Bara yang ternyata benar-benar hanya memanfaatkannya kepolosannya saja.


Kamu jahat Bara, tega sekali kamu melakukan ini sama aku. Emang apa salahku sama kamu? Hingga kamu memperlakukan aku seperti ini...


Miranda terus menangis sesenggukan sambil menenggelamkan kepalanya di atas bantal dengan posisi tengkurap.


"Jangan tidur begitu, atau kamu akan menyakiti anak yang ada di perutmu," ucap Jonathan yang entah sejak kapan sudah berdiri di belakangnya.

__ADS_1


"Gak usah sok perduli deh Om, biar saja anak ini mati. Jadi Om gak perlu lagi bertanggung jawab atas hidup Miranda!" Jawab Miranda dengan culas.


"Jangan membantah Miranda!" Bentak Jonathan kemudian yang sudah tidak bisa mengendalikan diri. Ia tidak akan mungkin membiarkan apa pun terjadi pada anak itu, "Cepat benahi posisimu sekarang juga atau aku akan marah padamu!" Titah Jonathan lagi sembari mengangkat bahu Miranda agar segera duduk.


"Udah deh Om, jangan sok perhatian. Miranda malu mengandung anak ini, gimana kalau nanti teman-teman Miranda sampai tahu. Pasti mereka akan membully Miranda habis-habisan, Om. Huhuhu...!"


Jonathan yang tidak tega pun menyandarkan kepala Miranda di pinggangnya. Ia tidak akan mungkin membiarkan Miranda menanggung aib itu seorang diri. Karena sekarang dia adalah pelindung Miranda yang akan menjaganya dari sesuatu yang menyulitkan Miranda.


"Diam lah, menangis tidak akan membuat semuanya menjadi baik-baik saja. Kamu hanya perlu tenang dalam menjalani hidup, biar itu menjadi urusan Om!" Ujar Jonathan menenangkan sembari mengusap-usap pucuk kepala Miranda.


"Om, maaf kalau Miranda sudah menjadi beban untuk Om. Tapi tetap saja Miranda takut kalau nantinya semua orang pada tahu kalau Miranda tengah hamil. Apa lagi sekarang Miranda sering banget merasa mual!"

__ADS_1


Jonathan mengangguk paham, tapi jika Miranda harus izin masuk sekolah rasanya tidak mungkin sebab ujian nasional sudah ada di depan mata.


"Sebisa mungkin kamu harua ngeles Mir, setidaknya sampai ijazah kamu keluar. Bukankah itu yang kamu


mau?"


Jonathan menghapus air mata Miranda dengan lembut agar perempuan belia itu berhenti menangis. Ia berharap perhatian kecilnya itu akan mengurangi sedikit beban Miranda. Jonathan tahu betul kalau wanita hamil rentan sekali stress jadi dia harus pandai menjaga mood Miranda agar tetap bagus.


"Ya udah ganti baju gih, Kita makan bareng di luar. Om tunggu ya!"


"Tapi Om, bagaimana dengan Mamanya Om tadi?" Miranda takut perempuan itu akan marah lagi nanti.

__ADS_1


"Beliau sudah pulang ke Jogja, jadi kamu tidak perlu khawatirkan lagi soal itu," jawab Jonathan dengan tenang.


Miranda pun mengangguk dan membiarkan Jonathan pergi meninggalkannya. Sebab Jonathan tidak mungkin menemaninya saat berganti pakaian.


__ADS_2