Calon Mertua Menjadi Suamiku

Calon Mertua Menjadi Suamiku
Bab 21 Melayani Dengan Sabar


__ADS_3

Setibanya di rumah, perempuan tengil itu sudah tak pusing dan mengeluh sakit perut lagi. Bahkan Ia berlari-lari kecil dengan wajah yang ceria.


"Om Jo, mana kuncinya. Miranda mau makan, laper banget. Apa di dalam ada makanan?"


Jonathan hanya bisa garuk-garuk kepala di buatnya. Ia bahkan sudah seperti pengasuh karena harus membawakan tas Miranda masuk ke dalam rumah.


Miranda yang sudah tiba sabar langsung menghampiri kulkas dan mengecek adakah sesuatu yang bisa dinikmatinya.


"Om, aku mau ini!"


Miranda memperlihatkan irisan buah nanas yang di isi oleh Bella kemaren.


"Miranda boleh Makan ini gak?" Tanyanya lagi takut Jonathan tidak mengizinkan.


"No, itu berbahaya bagi kandunganmu!"


Jonathan merebutnya kembali hingga wajah berseri itu kembali tertekuk sedih. Bagaimana mungkin Jonathan tega melarangnya menikmati buah yang lezat itu.


"Makan nasi saja, nanti kita beli buah di jalan!" Rayu Jonathan yang kembali menjadi senjatanya untuk memulihkan mood booster Miranda.

__ADS_1


"Beneran, Om, tapi janji ya gak bohong?"


"Iya, kamu ikuti saja apa kata Om!"


"Baik Om!"


Seperti bocah yang harus di rayu, Miranda sangat lahap menyantap makanan yang ada di tempat penyimpanan. Ia tidak sabar membayangkan bisa memakan buah-buahan yang seger secepatnya.


Berbeda dengan Jonathan yang langsung menghadap kearah laptop. Semenjak Kedatangan Miranda di rumah itu, Ia jadi tidak bisa lagi harus bekerja seharian penuh di dalam kantor hingga memaksa untuk membawa pekerjaan itu pulang ke rumah.


"Om, mau?"


"Bisakah kau tidak menggangguku sejenak saja?" Jonathan mulai merasa kesal dan marah. Sulit baginya untuk berkonsentrasi jika Miranda terus saja mengganggu kesibukannya.


"Sekali saja, Om. Miranda janji gak akan berisik dek. Om tinggal mangap aja kok, ak...!"


Dengan konyolnya Miranda tetap memaksa Jonathan menuruti keinginannya dan lagi-lagi dengan sangat terpaksa Jonathan harus melahapnya.


"Nah gitu dong, Om. Kalau perut terisi, kan pikiran juga jadi tenang!"

__ADS_1


Miranda kembali melahap makanan itu bergantian dengan Jonathan yang sudah malas untuk berkomentar. Pria itu tahu pasti jika Ia mengeluarkan suaranya sedikit saja. Sudah tak heran lagi jika Miranda akan mengoceh panjang lebar.


Usai menghabiskan makanan itu, Miranda kembali dengan membawa segelas air putih untuk Jonathan yang langsung meneguknya sampai habis.


Selama menunggu Jonathan selesai, Miranda hanya bisa menonton saja sampai akhirnya harus menyandarkan kepalanya di meja. Sesaat kantuknya menyergap hingga memudahkan Miranda langsung terlelap.


Sudah hampir dua jam mengutak-atik keyboard laptop itu pekerjaan Jonathan akhirnya selesai juga. Tapi baru saja hendak beranjak untuk merenggangkan otot-ototnya, Jonathan terpantik pada Miranda yang sudah ngorok di sampingnya.


"Astaga, bocah ini. Kenapa dia jadi tidur di sini sih?"


Jonathan yang ternyata memang tidak tegaan melihatnya langsung membopong Miranda ke dalam kamar. Tubuh Miranda yang terlalu mungil memang tidak memberatkan Jonathan sedikit pun.


Entah apa yang membuat Jonathan begitu baik, pria itu menyelimuti Miranda lalu meraih remote kontrol untuk menyalakan AC.


"Om...!"


Jonathan yang memang masih pada posisi di tepi ranjang sangat terkejut dengan ulah Miranda yang tiba-tiba melingkarkan tangannya ke pinggang Jonathan.


"Kenapa Miranda malah di pindahin ke kamar sih? Bukannya kita mau periksa ke dokter?" Tanya gadis itu sembari mengucek-ucek kedua bola mata sayunya yang masih belum sepenuhnya terbuka.

__ADS_1


__ADS_2