Calon Mertua Menjadi Suamiku

Calon Mertua Menjadi Suamiku
Bab 64 Menyambangi Kantor


__ADS_3

"Apa, Mir. Udah gak ada?" Tanya mereka dengan kompak. Sebab keduanya sangat terkejut mendengar hal itu.


"Iya, jadi kalian udah tahukan sekarang. Kalau aku juga gak punya alasan lagi buat balik sama Bara!"


Salsa dan Marry sudah tak bisa berkata-kata lagi. Itu artinya mereka yang masih berharap Bara dan Miranda balikan lagi itu hanya semu semata. Pasti hubungan keduanya sangat sulit untuk di perbaiki lagi.


*****


Teng!


Teng!


Jam ujian hari itu telah berakhir. Miranda langsung berlari menuju kepintu gerbang sekolah supaya bisa memghindar dari yang lainnya.


Miranda sangat senang saat melihat mobil Miranda sudah siaga menunggunya disana.


"Om...!" Seru Miranda sembari mengetuk kaca mobil itu.


Sesaat Miranda kaget, saat seseorang keluar dari dalam mobil itu.


"Loh, kok bukan Om Jo?" Tanya Miranda dengan dahi mengkerut.


"Mbak Miranda ya?" Tanya lelaki itu sangat ramah.


Miranda menganggukkan kepala, "Bapak tahu dari mana soal namaku?" Tanyanya tak mengerti.


"Oh iya maaf Mbak, saya adalah asiaten Pak Jo. Beliau meminta saya untuk menyusul Mbak. Karena beliau ingin mengajak Mbak untuk menrmaninya di kantor. Sebab Pak Jo sangat sibuk hari ini karena ada pertemuan dengan orang penting!" Tukas pria itu lagi.

__ADS_1


"Oh... iya. Kalau begitu ayo kita pergi. Aku juga mau kok diajak kesana. Biar aku juga tahu dimana kantor Om Jo itu?"


Setelah mendapat persetujuan, Lelaki itu memutuskan untuk segera membawa Miranda ke pada Jonathan.


"Pak, kantor Om Jo segede apa sih?" Tanya Miranda pada asiten suaminya itu.


"Besarlah mbak, sekitar 30 tingkat tingginya," jawab asisten Jonathan lagi.


"Wah, gede banget itu, Pak!"


"Iya Mbak, semoga bisa lebih besar lagi kedepannya!"


"Aamiin...!"


Tak ada lagi percakapan berarti. Perjalanan yang memakan waktu kurang lebih tiga puluh menit itu akhirnya membawa mobil mereka memasuki kawasan elit di mana kantor itu berdekatan dengan gedung-gedung tinggi lainnya berupa apartemen dan Mall bintang lima.


"Ayo Mbak, silakan turun!" Tukas pemuda itu yang sudah sigap membukkan pintu untuk Miranda.


"Terima kasih, Pak!"


Miranda mengikuti kemana pria yang membawanya tadi masuk ke dalam lokasi gedung mewah itu. Mereka juga menaiki lift yang Miranda sendiri tidak tahu akan dibawa ke lantai berapa oleh pria itu.


Selepas pintu lift terbuka, pemuda itu mengarahkan Miranda kedalam sebuah ruangan yang tak jauh dari tempat mereka sekarang.


Tok!


Tok!

__ADS_1


Tok!


"Masuk...!" Ciri khas suara yang menimpali dari dalam terdengar pamiliar di telinga Miranda.


"Pak, Mbak Miranda sudah sampai!" Ujar pria itu usai membuka pintu.


"Halo, Om!"


Melihat Miranda baik-baik saja Jonathan meminta asistennya itu untuk keluar dari sana. Sedangkan Miranda masih celingukan mengamati ruangan itu.


"Duduklah...!" Titah Jonathan. Seraya berjalan ke arah sebuah nakas untuk mengambil makanan yang di pesannya tadi dari bawahannya serta dua botol air mineral.


"Kamu pasti laparkan?" Jonathan membuka salah satu kotak berisi nasi dan memberikannya pada Miranda.


Miranda tersenyum melihatnya. Ia berpikir kalau Jonathan pasti khawatir jika dia dirumah berdua saja dengan Bara. Sehingga Jonathan memintanya untuk datang kesana.


"Kok bengong, mau aku suapi?" Tawar Jonathan. Dengan raut wajahnya yang datar.


"Oh, gak usah Om. Biar Miranda makan sendiri saja."


Perempuan yang masih remaja itu segera menyiuk nasi kotak berisi daging krispi dan sayur mayur itu lalu melahapnya dengan hati-hati.


"Sebenarnya ada yang ingin Om tanya kan lagi sama kama, Mir. Apa kamu benar-benar masih ingin bersama Om atau memilih kembali sama Bara putra Om?"


Uhuk!


Uhuk!

__ADS_1


Miranda tersendat kaget mendengarnya. Sehingga Jonathan replek menyuguhkan air mineral itu di depan Miranda.


__ADS_2