
Malam itu makan malam membuat Miranda dan Bara kembali bertatap muka. Sedang Jonathan sudah tak mau lagi ambil pusing akan seperti apa mereka dalam bersikap.
Mama Mutia tak kalah bingungnya, karena dialah yang memaksa Bara untuk kembali agar Jonathan mau melepaskan Miranda dan menikah dengan wanita pilihannya yang seusia dengan Jonathan.
Miranda masih terlalu bau kencur untuk menjadi istri Jonathan. Seorang pria dewasa yang pasti sangat membutuhkan seseorang untuk membuatnya terhibur.
Sedang Miranda belum tahu apa pun soal tugas seorang istri. Mama Mutia yakin, kalau anak kecil itu hanya akan merepotkan Jonathan nantinya.
"Kenapa diam saja?" Celetuk Jonathan yang mulai jengah. Ia kesal melihat ekspresi ketiga orang di hadapannya benar-benar sangat aneh.
"Ya mau bicara apa, Jo? Kitakan sedang makan?" timpal Mama Mutia lirih. Sesekali melirik kearah Miranda yang malah sibuk memainkan nasi di depannya dengan menggunakan sendok.
"Kau lihat gadis itu kan, dia masih terlalu anak-anak untuk kamu," sambung Mama Mutia lagi, masih tak habis pikir. Bagaimana mungkin Jonathan membuat keputusan untuk menikahi Miranda tanpa meminta pendapatnya lebih dulu.
__ADS_1
Padahal bertanggung jawab atas hidup Miranda dan bayinya tak harus melulu soal menikah kan? Mereka bisa memberi tunjangan hidup yang mewah pada Miranda dan anaknya sampai dewasa.
"Ma, tolong berhenti membahas masalah ini. Bara harus terima kenyataan kalau sekarang Miranda sudah menjadi Mama tirinya," jawab Jonathan dengan tegas.
"Tapi kenapa harus Miranda, Pa?" Sahut Bara dengan emosi yang meletup-letup.
"Apa...?" Jonathan tergelak mendengar itu.
Bara berdiri dan menatap marah pada Jonathan, "Iya, kan masih banyak perempuan cantik di luaran sana yang lebih pantas buat Papa. Tapi kenapa Papa malah menikahi Miranda yang seumuran dengan putra Papa sendiri?"
Tentu saja Jonathan balas memarahinya. Sebab semua itu harus terjadi gara-gara Bara kabur dari tanggung jawabnya.
"Kalau saja kamu punya mental untuk melanjutkan pernikahanmu, Papa tidak akan mungkin melakukan hal ini!"
__ADS_1
"Kalau begitu ceraikan dia untuk Bara, Pa!" Pinta pemuda 18 tahun itu dengan berani.
"Terlambat," jawab Jonathan, angkuh. "Pantang bagi Papa menceraikan wanita yang sudah Papa nikahi. Jadi Papa tidak akan melakukan hal itu hanya demi anak tidak tahu diri seperti kamu!"
"Tapi Pa?" Bara benar-benar menyesal. Ia tidak tahu lagi harus berbuat apa agar Jonathan mau mengabulkan keinginannya.
Sayangnya Jonathan tidak akan pernah mengabulkan keinginan anaknya itu, "Pernikahan bukan untuk di jadikan mainan, Bara. Kau pikir pernikahan itu sama seperti berpacaran yang kalau bosan bisa main buang begitu saja?"
"Pa, tolong mengerti. Bara cuma bingung aja waktu itu. Ada rasa tak percaya dan malu jika Bara tidak pergi saja dari pernikahan itu," sesal Bara dengan kepala tertunduk.
"Sudahlah, Papa tidak perduli. Papa juga sudah tidak mau mengurus surat sekolahmu lagi. Jadi atur saja hidupmu sendiri. Jadikan ini pelajaran berharga supaya kamu berpikir dua kali untuk memutuskan sesuatu!"
Jonathan urung makan dan pergi lagi ke kamar. Akan lebih baik jika Ia bekerja saja ketimbang mendengar permintaan Bara yang sangat tidak masuk akal baginya.
__ADS_1
"Ma...!" Miranda ingin izin untuk menyusul Jonathan ke kamar tapi celetuk kan Mama Mutia membuat niatnya tertahan sejenak.
"Apa kau sudah tak mencintai Bara lagi?"