
Tak perlu waktu lama, Jonathan sudah kembali dengan membawa dua gelas es campur pesanannya lalu mengulurkan minuman itu pada Miranda.
Tentu saja Miranda menerimanya dengan sangat antusias, "Makasih ya Om, sudah peka dengan keinginan Miranda!"
Jonathan hanya mengangguk kan kepalanya, lalu melajukan mobil mereka kembali ke jalanan. Sedang Miranda asyik menyesapi air dingin itu dengan perlahan-lahan sambil sesekali menoleh ke arah Jonathan yang fokus menatap ke depan. Ia ingin memberi tahu laki-laki itu soal uang yang di pakainya tadi. Tapi untuk membuka mulutnya saja rasanya sangat berat.
"Om...?"
"Kenapa?"
"U- uang tadi tinggal separuh," ungkapnya memberanikan diri hingga menarik perhatian Jonathan. "Maaf Om, aku sudah nunggak uang bulanan selama tiga bulan, jadi aku menggunakan uang itu untuk membayarnya," sambung Miranda lagi dengan wajah tertunduk takut.
Mendengar pengakuan Miranda, Jonathan memilih diam saja tanpa memberi respon sedikit pun. Ia tidak perdulikan hal itu jika di gunakan untuk sesuatu yang bermanfaat. Tapi Miranda sempat mengira, kalau pria itu akan marah-marah padanya tapi ternyata itu semua tidak sesuai dengan perkiraan Miranda.
"Maaf Om!" Ucapnya lagi dengan suara sedikit tertekan.
Miranda sebenarnya tidak ingin melakukan hal itu, tapi mau bagaimana lagi. Sedang Ingin bekerja pun Miranda tidak tahu harus bekerja apa saat ini.
__ADS_1
Sesampainya di rumah, Jonathan dan Miranda yang baru keluar dari mobil mereka jadi terpaku dengan mobil baru yang terparkir di depan rumah mereka.
Jonathan sudah bisa menebak sendiri siapa pemilik mobil itu hingga Ia harus buru-buru masuk ke dalam. Tak ingin tinggal di luar sendirian, Miranda mempercepat langkahnya mengekor di belakang Jonathan.
Hingga mereka melihat seorang perempuan sekitar lima puluh lima tahun sedang duduk dengan santai di depan televisi.
"Ma, dari kapan di sana?" Sapa Jonathan yang langsung memeluk dan mencium pipi Ibunda tercintanya.
"Nah ini dia akhirnya pulang juga kamu Jo, Mama Sport jantung lo denger cucu Mama di kirim ke luar negeri."
"Iya Ma, maaf. Itu sudah menjadi pilihan cucu Mama sendiri," jawab Jonathan sembari menarik kursi di sebelah Sang Mama.
Sebelum melanjutkan obrolan mereka, Mama Mutia pun beralih menatap kearah Miranda yang masih berdiri dengan memakai seragam sekolahnya.
"Terus ini siapa Jo? Kok dia pulang kesini bareng kamu?" Tanya perempuan lewat setengah abad itu penuh keheranan.
"Siang Oma?" Sapa Miranda.
__ADS_1
Perempuan remaja itu menyambut tangan Mama Mutia dan menciumnya dengan takzim tapi tatapan Mama Mutia seperti tidak bersahabat sedikit pun padanya.
"Jo, jangan bilang sama Mama ya kalau dia adalah gadis yang dihamili oleh Bara, lalu kau ajak pulang kerumah ini untuk mengurusnya?" Sambung Mana Mutia lagi dengan sengit.
"Dia menantu Mama sekarang," jawan Jonathan blak-blakan hingga membuat Mama Mutia hampir saja terserang kejang.
"A- apa maksudmu, Jo? Ka- kamu sudah gila ya?"
Protes Mama Mutia seraya melotot tajam kearah Miranda.
Bagaimana mungkin Bara yang nekat kabur ke luar negeri agar tidak berurusan dengan Miranda malah Ayahnya sendiri yang memungut gadis itu.
"Ceraikan dia Jo, Mama tidak setuju kamu menikah dengan gadis ingusan itu!" Pinta Mama Mutia seraya menuding bengis ke arah Miranda yang hanya tertunduk ketakutan di tempatnya.
"Sudah Ma, Cukup. Jo lakukan ini juga buat anak mereka Ma, dia berhak untuk hidup. Salahkan cucu Mama itu karena sudah berani bertindak di luar jalur," Timpal Jonathan dengan suara tegasnya.
Mama Mutia sampai melongo mendengar hal itu, "Ta- tapi bukan berarti kamu harus menikahinya kan Jo. Mama sangat berharap kamu bisa menikah lagi dengan wanita karier yang seusia denganmu?" Tukas Mama Mutia lagi yang masih tidak habis pikir dengan kebodohan Jonathan.
__ADS_1