
"Rasain lo, salah siapa duduk disini?" cibir Miranda sembari menertawakan wajah Bima yang tertekuk lesu lebih dulu.
Bima sendiri hanya bisa pasrah dan kembali ke tempat duduk. Hal yang paling menyebalkan untuknya adalah saat harus berhadapan dengan guru yang sudah tak ada bedanya dengan salah satu nama ikan yang paling disukainya itu apa lagi kalau bukan si ikan bawel sebutannya. Karena bisanya cuma ngedumel setiap kali ada jam mata pelajaran Sosiologi.
"Aduh, dasar anak-anak. Masih sepagi ini udah bikin darting aja deh!" Oceh Bu Lusi sembari membenahi kaca mata hitamnya. Jangan di tanya berapa ukuran baju Bu Lusi ya. Karena sudah di pastikan dobel XXL.
"Oke, selamat pagi anak-anak!" Sapanya masih dengan kesibukan mengusap keningnya setelah berdiri di dekat kursi yang akan didudukinya.
"Pagi Bu," jawab seluruh siswa secara serempak.
"Karena sebentar lagi kita akan mengadakan ujian akhir. Hari ini Ibu akan mengadakan latihan dadakan. Jadi Ibu beri waktu kalian untuk membaca Buku tema pada halaman 129 selama 20 menit. Pastikan kalian baca secara detail atau kalian tidak akan mendapatkan nilai yang baik!" Tukas Bu Lusi panjang lebar.
"Waduh bentar amat Bu Durasinya? Gak sekalian satu jam ya Bu?" Protes salah seorang maha siswa yang lain.
__ADS_1
"Gak ada tambah-tambahan. Intinya kalian harus mendalami dengan seksama isi di dalamnya secara singkat, jelas dan cermat. Jika tidak bisa namanya apa anak-anak?" Tanya Bu Lusi lagi melemparkan pertanyaan ke arah yang lain.
"Bodo amat, Bu!" Jawab mereka lagi kompak.
"Betul, cepat baca sekarang juga. Atau langsung masuk Kelatihan soal?" Ancam Bu Lusi tanpa memberi kesempatan lagi.
Seperti biasa, anak-anak langsung patuh untuk melakukannya. Mereka segera mengeluarkan buku paket berukuran sedang yang sudah di bagikan pihak sekolah saat dimulainya semester kedua atau akhir bagi siswa di kelas dua belas.
"Wah, kok aku lupa ya? Ini tadi kayaknya gak aku baca deh, Mir?" Bisik Marry yang bingung jawaban nomor empat. Posisinya memang duduk bersebelahan dengan Miranda.
"Diingat-ingat lagi deh, tapi yang pasti aku buru-buru ni. Perutku mual lagi," ucap Miranda yang segera menyelesaikan tugasnya lalu memberikan hasil jawabannya pada Bu Lusi.
"Cepat juga kamu ya?" Bu Lusi senang dengan kegesitan Miranda.
__ADS_1
"Bu, izin ke toilet bentar!"
"Ya, silakan!"
"Makasih Bu."
Salsa dan Marry kembali berpandangan. Tapi mereka memilih diam karena harus mengerjakan semua soal sampai selesai hingga bel tanda berakhirnya pelajaran pertama berbunyi.
"Ya ampun, kenapa hari ini perutku mual terus ya?" Miranda mengusap-usap perut itu dengan perasaan gelisah. Tiba-tiba kepikiran pengen Jonathan mengusap-usap perutnya sambil tiduran di pangkuan Jonathan.
"Ah, yang benar saja? Masak aku ngidamnya begitu sih? Mana mungkin juga Om Jonathan mau buru-buru datang kesini cuma buat ngabulin keinginan aku supaya mualnya hilang? Aduh, tapi kok mual banget ya?" Rutuk Miranda seorang diri sambil terus mengusap-perut perut yang masih belum terlihat menonjol itu.
Dahinya terus berkeringat, membayangkan kalau dia bisa kembali bermanja-manja dengan Jonathan. Tapi tidak tahu apa yang harus di lakukannya sekarang. Mustahil kalau Ia tiba-tiba menyusul Jonathan ke tempat kerjanya sedang Miranda masih sekolah. Selain itu Ia juga belum pernah tahu dimana kantor Jonathan itu berada.
__ADS_1