
Kemandirian Jonathan itu terjadi kala Bara masih menginjak usia lima tahun. Kerap kali Ia harus di paksa pandai memasak dalam segala macam rupa demi memenuhi keinginan Bara saat ingin makan agar sesuai permintaannya.
Bukan gampang awalnya. Masa-masa berat itu selalu Jonathan lakukan karena untuk merekrut asisten rumah tangga supaya menetap disana. Jonathan merasa tidak nyaman. Mengingat Ia adalah duda beranak satu.
Hanya saja ada seorang pekerja kepercayaannya yang sesekali datang untuk membersihkan rumah, itu pun saat Ia sudah pergi untuk ke kantor.
Hingga kini Ia pasti harus di paksa melakukan hal serupa demi istri kecilnya itu. Istri yang seharusnya akan menjadi menantunya sendiri.
"Makanlah...!"Jonathan menyodorkan hasil masakannya setelah setengah jam bergelut di dapur.
Melihat penampilan dan toping diatas beberapa bagian nasi goreng itu, Miranda merasa sangat berselera. "Wah, kayaknya enak ni. Makasih ya Om, gak nyangka deh. Meski tampangnya dingin dan datar begitu. Om sangat baik dan perhatian pada orang lain. Seharusnya Bara beruntung banget punya Papa kayak Om Jonathan."
"Mau makan apa bahas yang gak penting?" Timpal Jonathan sambil menguam menahan kantuk.
__ADS_1
"Is Om, Miranda kan pengen diajak ngobrol. Terserahlah mending Om Ikut makan deh!" Miranda mengarahkan suapan pertama kearah mulut Jonathan.
Dengan terpaksa, laki-laki yang sempat menduda itu harus membuka mulutnya, dan hal kecil itu membuat Miranda makin kagum dengan tampang Jonathan. Bahkan Ia tak sedih lagi akan perlakuan Bara terhadap dirinya.
***
Keesokan harinya seperti biasa, Miranda menolak untuk istirahat dulu di rumah. Jadi Ia akan tetap nekat pergi ke sekolah demi mengejar sesuatu yang sedikit lagi akan segera tercapai.
Tak heran lagi kesibukan untuk mengantar jemput Miranda juga berlaku pada Jonathan. Yang sudah tak ada bedanya seperti sopir karena harus mengantar dan menjemputnya dari sekolah.
"Uang kemaren kan masih ada Om." Miranda menatap Jonathan dengan seksama. Seolah tidak mau terus-terusan di perlakukan dengan manja.
"Bisa buat besok-besoknya lagi, atau bisa kamu tabung juga kan," tukas Jonathan yang akhirnya harus menyarankan demikian. Padahal tujuan Jonathan hanyalah agar Miranda bisa membeli apa yang diinginkannya jika sewaktu-waktu Ia ngidam sesuatu.
__ADS_1
"Makasih Om." Miranda menyimpan uang itu lalu menggapai tangan Jonathan dan menciumnya.
Deg!
Sentuhan hangat tangan Miranda membuat jantung Jonathan seakan tersengat. Ia merasa tangan Miranda akhir-akhir ini sering sekali seperti magnet baginya.
"Berhati-hatilah saat di sekolah. Jangan ceroboh sampai harus ikut-ikutan lomba kayak kemaren. Karena kamu tidak memikirkan diri sendiri. Melainkan ada bayi yang harus kamu jaga." Tak lupa Jonathan mengingatkan karena Ia tak ingin Miranda berlaku sembrono nantinya.
"Kok Om bisa tahu ya Miranda ikut lomba? Apa jangan-jangan kemaren itu Om ya yang_?"
"Keluarlah, sahabatmu sudah menunggu disana," Timpal Jonathan yang sengaja memotong ucapan Miranda.
"Oke Om, hati-hati ya di jalan!" Ucapnya seraya tersenyum lalu berlalu meninggalkan Jonathan yang segera memutar balikan mobilnya menuju ke kantor.
__ADS_1
"Hei Mir, kamu udah baikan hari ini? Bukannya kamu sakit ya?" Sapa Salsa yang langsung menyambut Miranda dengan sangat hangat. Tak ketinggalan juga Marry si montok dengan camilan di tangannya.
"Kemaren tu kita kerumah kamu lo Mir buat jengukin kamu, tapi kata keluargamu, kamu tinggal sama orang lain sekarang. Kok bisa? Alasannya apa Mir, kalau boleh tahu?" Tanya Marry yang sudah tidak sabar ingin mendengar sendiri jawaban dari sahabatnya itu.