Calon Mertua Menjadi Suamiku

Calon Mertua Menjadi Suamiku
Bab 60 Kepo Apa Julit?


__ADS_3

Miranda segera mengambil tas slempangnya dan mengekor Jonathan dari belakang. Sampai akhirnya mereka tiba dilantai bawah.


Melihat keduanya datang, Mama Mutia pun berkata dengan sedikit dingin, "Makan dulu sebentar!"


"Iya Ma!"


Jonathan merangkul Miranda ke kursi untuk menikmati roti panggang dan susu yang sudah tersedia diatas meja.


Karena seperti di ratukan Miranda pun mengucapkan sesuatu yang membuat Jonathan sangat senang mendengarnya, "Makasih ya Ma, udah memasak makanan yang enak setiap hari."


"Iya, makannya kamu belajar dong. Masak iya Mama terus atau Jonathan yang siapin. Kan itu kewajiban kamu buat ngelayani suami kamu," Jengah Mama Mutia. Meski judes akan tetapi Miranda sedikit banyak merasa di beri nasehat oleh Ibu mertuanya itu.


"Iya Ma, nanti kalau Miranda udah selesai ujian. Miranda akan kerumah Ibu buat belajar masakan tradisional!" Jawab Miranda. Sangat bersemangat.


"Aduh, kok pakek kesana. Kan jauh Mir, baiknya kamu khursus aja deh. Biar kamu tahu bagaimana caranya memasak makanan apa yang yang enak dan mewah seperti di kafe-kafe atau restoran itu. Masak iya kamu mau kasih Jonathan makanan kampung sih?"

__ADS_1


Mendengar itu, Miranda jadi terdiam. Jujur saja Ia memang tidak tahu apa pun cara memasak makanan yang spesial untuk Jonathan. Bahkan sampai saat ini pun Miranda belum tahu makanan yang paling Jonathan sukai. Karena selama mengenal pria itu, Jonathan nampak menyukai menu apa saja yang mereka temui di atas meja.


"Bar, makan dulu!" Teriak Mama Mutia saat Bara melintas di samping mereka.


"Nanti aja Nek, di kantin sekolah kan ada!" Jawab Bara lirih.


"O ya udah, tapi ingat ya. Jangan makan sembarangan. Harus pilih-pilih menu. Kalau jatuh sakit karena makanannya jorok kan gak lucu!"


"Iya Nek, Bara duluan ya, Pa!"


Usai sarapan, Jonathan dan Miranda pun segera berangkat. Lalu singgah di sebuah toko pakaian alat-alat sekolah yang mereka lewati lalu membeli apa yang tadi Miranda butuhkan.


Karena sudah lama tak memakai dasi, Miranda jadi asal memakainya. Jonathan sampai tertawa terpingkal-pingkal akan laku perempuan itu.


"Ya ampun, Mir. Itu miring lo dasinya!"

__ADS_1


"Iya Om, maaf. Kenapa Miranda jadi pikun ya!"


Perempuan itu membongkarnya kembali namun tetap saja berakhir dengan miring.


"Sini biar Om pasangin!"


Dengan saling berhadap-hadaan Miranda mengamati wajah Jonathan dengan jarak yang begitu dekat sedang fokus berkutat di kerah baju seragamnya.


"Is, Ayah idaman ni," celoteh seorang Ibu-ibu yang lagi-lagi menggoda mereka. Tidak tahu kalau perasaan mereka tengah di taburi oleh bunga-bunga bermekaran.


Entah kenapa setiap bertemu yang namanya Ibu-ibu, Jonathan selalu di buat terheran-heran. Karena mereka selalu saja kepo dengan urusannya dan Miranda. Kadang terbersit sesuatu di benak Jonathan. Apa semua kaum perempuan yang sudah menjadi Ibu-ibu selalu saja sok kenal pada orang yang baru saja mereka lihat sekali pun. Nampak sekali kalau mereka sangat kepo dengan urusan mereka.


Jonathan hanya membalas dengan tersenyum, lalu membayar biaya yang di habiskan.


"Simpan ini!" Jonathan memberikan sisa dari uang seratus ribu itu pada Miranda. Tentu saja untuk uang jajan Miranda di sekolah.

__ADS_1


"Makasih, Om," jawab perempuan itu sembari menyimpannya di saku baju.


__ADS_2