
Ehemz!
Ehemz!
Mendengar ucapan Miranda tiba-tiba saja kerongkongan Jonathan seperti ada yang tengah menggelitik. Untuk pertama kalinya Ia nervous akan ucapan wanita tengil di sampingnya.
"Aduh, Ada masalah apa, Om? Ayo minum dulu!"
Miranda menggapai air mineral yang masih tersegel dari bagan mobil untuk di berikan kepada Jonathan. Miranda juga replek mengusap keringat yang membintik di dahi Jonathan dengan sapu tangan dari sakunya.
"Berhenti, Mir!" Jonathan memegang pergelangan perempuan yang sudah membuatnya menjadi serba salah di sana, "Mau pulang, atau diam saja disini?" Imbuh Jonathan dengan raut wajah kesalnya.
"Hehehe... ya udah ayo pulang, Om!"
Miranda teringat lagi dengan keinginan di sekolahan tadi. Jadi dia berharap bisa segera menyudahi hal itu sesegera mungkin.
Sesampainya di rumah, Cuaca yang teriknya tembus keubun-ubun itu membuat Miranda langsung berlarian masuk ke dalam rumah. Ia tidak menyadari kepergian yang buru-buru itu membuat Jonathan yang masih mengeluarkan laptopnya di kejutkan oleh kedatangan Bella yang seperti biasa selalu membawa rantang makanan untuk sahabatnya itu.
__ADS_1
"Siang, Jo!"
"Eh, Bel. Ayo masuk dulu ke dalam!" Ajak Jonathan dengan ramahnya.
"Tadi niatnya aku mau nyamperin kamu di kantor. Tapi ternyata kamu di rumah Jo. Apa keponakanmu itu ada?" Tanya Bella yang masih jalan beriringan di samping Jonathan.
"Ada di kamar, aku baru saja menjemputnya dari sekolah," timpal Jonathan dengan santainya.
Mereka langsung bergegas menuju ke meja makan, "Aku menyimpan ini sebentar ya!" Jonathan meninggalkan Bella sendirian untuk menyusul Miranda. Seperti yang dikatakannya tadi. Ia ingin menyimpan sebuah tas berisi laptop ke kamar.
"Ada apa sih, Mir? Ayo lepas tanganmu!" Protes Jonathan yang kesulitan menyesuaikan dirinya. Tangan kekar itu berusaha mengurai kedua tangan Miranda. Tapi perempuan itu menangkup tubuhnya sangat kuat.
"Om, Miranda pengen tidur di pangkuan Om sebentar saja!" Mohon Miranda sembari mendongak menatap Jonathan. Berharap Jonathan mengabulkannya.
"Apa?" Timpal Jonathan tak percaya.
"Iya Om, Sejak tadi Miranda mual terus pengen tidur di pangkuan Om Jo. Ayo lakukan sekarang Om. Miranda udah gak kuat ni!" Rengek Miranda lagi hingga tatapan keduanya saling beradu.
__ADS_1
Sesaat Jonathan melemah, tapi Ia teringat kalau ada Bella yang sedang menunggu mereka di luar.
"Ya udah, Oke. Nanti saja setelah Tante Bella pergi!" Tukas Jonathan memberi pengertian.
"Apa? Kenapa nenek sihir itu selalu saja datang kesini si Om? Miranda gak terlalu suka sama dia. Miranda usir aja ya?"
Perempuan itu hendak pergi menemui Bella. Akan tetapi Jonathan mempererat pelukannya agar Bella tidak melakukan hal itu.
"Akan lebih baik pakai bajumu yang tertutup dari ini, lalu susul Om dan Tante ke meja makan. Om tunggu secepatnya!" Pinta Jonathan yang akhirnya melepaskan Miranda dan keluar lebih dih.
"Is, nyebelin. kenapa perempuan itu selalu saja datang sih? Masak iya laki-laki dan perempuan yang sering bertemu kayak begini masih diangggap sebagai sahabat. Jangan-jangan Tante Bella emang ada maksud terselubung lagi?"
Miranda segera mencari bajunya yang berkancing kemudian keluar untuk mencegah agar sesuatu tidak terjadi.
Benar saja kalau Bella tengah melayani Jonathan layaknya seorang istri. Hal itu membuat pipi Miranda mengembung di buatnya.
Awas aja ya, belum tahu aja siapa Miranda...
__ADS_1