
Ting tong!
Setelah sekitar dua jam acara belajar-mengajar berlangsung, akhirnya bel istirahat pun berbunyi. Semua anak-anak langsung berhamburan keluar. Ada diantara mereka yang mojok di bawah pohon, ada juga yang berlarian kearah kantin.
Sedang Miranda tidak punya keinginan untuk itu karena dia harus memanfaatkan uang pemberian Jonathan untuk membayar uang tunggakan yang belum juga terbayarkan.
"Mir, ayo kita ngantin!" Ajak Salsa yang langsung menghampiri tempat duduknya.
"Kalian berdua aja deh, aku ada urusan mendadak soalnya," tolak Miranda baik-baik.
"Mau kemana emang?" Marry tampak sangat penasaran.
"Mau ke sekertariat buat bayar tunggakan."
"Oh ya udah, kalau gitu biar kita yang anterin deh, ayo kita kesana sekarang!"
Karena tak punya pilihan lain untuk tetap menolak, Miranda terpaksa membiarkan keduanya untuk mengikutinya.
Disepanjang jalan Miranda terus menimang-nimang uang tersebut. Jika Ia bayarkan semua, Miranda takut Jonathan akan menanyakannya kembali. Tapi jika hanya di bayar tiga bulan saja, sudah pasti Miranda harus mengusahakan uang untuk tiga bulan yang tersisa sampai ujian sekolah selesai.
__ADS_1
Aduh, gimana ya? Apa sebaiknya aku cicil aja dulu? Bisa gawat ni kalau Om Jonathan samai marah, tahu uangnya habis aku pakek semua?...
"Mikirin apa Mir?" Rupanya teman Miranda menangkap kebingungan sahabatnya itu.
"Oh gak papa kok, lagi mikirin sesuatu tapi gak penting sih!"
Miranda pun mengeluarkan uang tersebut lalu menyisihkan separuhnya kedalam saku.
"Wah, uang kamu banyak juga ya Mir, abis cair apaan ni orang tua kamu? Atau jangan-jangan Bara lagi yang kasih uang itu ke kamu sebelum dia pergi keluar negeri?" Tanya Salsa kepingin tahu.
"Bukan-bukan, uang ini bukan dari Ayah maupun Bara kok. Tapi dari seseorang," timpal Miranda yang tak sengaja malah keceplosan.
"Em, da- dari siapa ya? Aduh, udah deh jangan kepo. Mau nganterin apa gak ni?"
Sengaja Miranda memasang wajah sewot agar keduanya tak lagi banyak bicara perihal asalnya uang tersebut.
"Oke deh, iya. Kan cuma pengen tahu. Emang gak boleh ya?"
"Bukan begitu, tapi yang pasti uang ini halal kok. Jadi kalian tenang saja ya. Kalau begitu aku masuk dulu sebentar, setelah itu baru deh kita pergi ke kantin," tukas Miranda kemudian.
__ADS_1
"Di traktir tapi ya?" Tawar mereka lagi pura-pura menggoda.
"Oke deh, kalau cuma mie tek-tek doang mah aku bayarin entar!"
Miranda segera berlalu masuk menemui pihak sekolah yang memegang kendali soal pembayaran bulanan. Ia harap keputusannya ini tidak akan menjadi masalah untuk Jonathan nantinya.
Ya mau bagaimana lagi, Miranda tidak mungkin meminta pada kedua orang tuanya yang jelas-jelas sangat kesulitan perihal ekonomi. Itu sebabnya Ia sampai nunggak uang bulanan selama 3 bulan belakangan ini agar bisa ikut ujian akhir.
"Berarti kurang 3 bulan lagi ya Mir?" Ujar Bu Susan mengingatkan.
"Iya Bu, doain saja ada rezeki lagi buat ngelunasin!"
"Oke, belajar yang bener ya Mir. Jangan sampai deh ada masalah yang bikin kamu gak nyelesaiin sekolah yang tinggal beberapa bulan lagi."
"Oke Bu, kalau begitu Miranda permisi dulu ya!"
Perempuan berumur 17 tahun itu segera keluar dan sesuai janji Ia langsung merangkul kedua temannya menuju ke kantin Bu Tuti.
"Mie tek-teknya Bu, tiga mangkok!" Teriak Miranda setelah mereka mencari tempat duduk.
__ADS_1
"Siap neng, di tunggu bentar ya!"