
"Ya aku harus menghindar. Tapi bolehkan aku menginap di rumahmu. Apa Tante Naumi ada?"Tanya Bella dengan menatap Jonathan diiringi bola mata berbinar.
"Sedang Ke Bandung menghadiri pernikahan Shandy, mungkin besok kembali!"Jawab Jonathan yang bergerak ke arah kulkas untuk mengambilkan minuman dingin.
"Jadi kamu sendiri Jo?" Bella terlihat girang mendengar hal itu.
"Tidak, ada kok?" Jonathan menoleh kearah pintu kamarnya dan melihat Miranda sedang memperhatikan mereka di ambang pintu.
Bella yang baru pertama kali bertemu gadis kecil itu sedikit mengernyitkan dahi menatap Jonathan. Setahunya sudah 5 tahun sahabatan dengan pria itu Ia sangat tahu Jonathan tidak punya anak atau pun keponakan perempuan.
"Siapa Jo?" Tanya Bella kemudian.
Tak ingin mengganggu waktu keduanya, Miranda memutuskan kembali ke kamar. Ia tidak akan mungkin berani protes pada Jonathan agar mau mengutamakan dirinya.
__ADS_1
"Tidak penting," jawab Jonathan lirih. Ia mengatakan hal itu juga sebenarnya hanya melindungi Miranda dari aib yaang bisa saja melebar kemana-mana.
Karena tak mau ambil pusing keduanya menikmati minuman segar tersebut beberapa saat. Sudah tak aneh lagi jika Bella selalu curhat dengan Jonathan tentang masalah rumah tangganya.
"O ya Bel, tidur saja di kamar Bara. Sebab kamar Mama sudah pasti dikunci oleh beliau!"
"Oke siap, baiklah Jo. Makasih tumpangannya!" Bella bergegas masuk ke kamar Bara karena sedikit banyak perempuan seusia Jonathan itu cukup paham dengan kondisi yang ada di rumah itu.
Jonathan yang tidak mungkin tidur di sofa, terpaksa masuk ke kamar Miranda. Dia melihat perempuan itu sudah tertidur dengan lelap tanpa menggunakan selimut di sampingnya. Dari dulu Jonathan adalah pria yang memiliki sifat pengertian. Ia yang tidak tega melihat Miranda akan kedinginan saat menjelang subuh nanti kembali menyelimutinya lalu membaringkan tubuh di samping Miranda.
Dalam hati Jonathan sebenarnya masih belum bisa memaafkan tindakan Bara. Sungguh ini adalah hal yang paling sulit untuk Jonathan lakukan demi membela putranya itu.
Tapi Jonathan tetap tidak bisa terlalu keras dalam mendidik Bara karena hanya dialah satu-satu peninggalan berharga dari istri tercintanya terdahulu.
__ADS_1
Maafin aku Mel, karena rasa sayangku yang berlebihan, Bara malah tumbuh menjadi anak yang pembangkang...
Waktu bergulir begitu cepat, Jonathan yang tidak sadar entah jam berapa Ia tertidur langsung terbangun oleh sebuah ketukan dari luar. Bahkan Ia sampai terkejut kala menyadari tangan Miranda melingkar di pinggangnya.
"Jo, Jonathan!" Teriak Bella hingga mengetuk-ngetuk pintu kamar Sahabatnya itu berulang kali.
"Iya, tunggu sebentar."
Jonathan memindahkan tangan Miranda dengan sangat hati-hati lalu keluar untuk membukakan pintu yang hanya muat kepalanya saja agar Bella tidak melihat Miranda tidur di kamarnya, "Ada apa sih Bel masih gelap lo di luar?"
"Maaf Jo, aku menganggu. Tapi sepertinya aku harus pulang karena Mas Agung mengancam tidak akan memberi harta gono gini jika aku menghindar," ucap Bella tanpa menunggu perkataan Jonathan lebih dulu karena perempuan itu langsung buru-buru pergi.
Jonathan sendiri hanya bisa menghela nafas panjang, Bella selalu saja membuat kepalanya sangat pusing. Tiba-tiba datang meminta bantuan lalu pergi seenak hati hingga selalu saja membangunkannya tanpa melihat waktu. Entah sampai kapan perempuan itu berhenti menyulitkannya.
__ADS_1
"Dia siapa Om?" Sahut Miranda yang ternyata ikut terbangun akibat suara menggelegar Bella tadi.