Calon Mertua Menjadi Suamiku

Calon Mertua Menjadi Suamiku
Bab 52 Membantu


__ADS_3

Dokter Irma lagi-lagi tersenyum menanggapi jawaban Jonathan. sedikit terlintas di benaknya, kenapa Jonathan mau menikahi anak yang jauh di bawah usianya sekarang.


Padahal Usia Jonatham terbilang sangat matang, dan Jonathan pasti bisa mendapatkan yang sebaya dengannya. Kenyataan, Jonathan malah menjalin hubungan dengan anak belia yang masih menggunakan seragam putih abu-abu.


"Baiklah Pak, kalau begitu saya permisi dulu. Jangan lupa ya Mir, nanti obatnya di minum secara rutin!" Pesan Dokter itu lagi sebelum pergi.


"Iya Dok, makasih banyak untuk semuanya!"


"Sama-sama!"


Dokter Irma meninggalkan keduanya yang sesaat masih saling menatap di tempat mereka berada. Entah apa yang ada di benak mereka sekarang hanyalah mereka yang tahu.


Tak ingin larut dalam drama itu, Jonathan segera membantu Miranda untuk membersihkam diri. Awalnya Jonathan tidak ingin membantu Miranda untuk menanggalkan pakaiannya. Tapi melihat Miranda kesulitan karena masih ada selang infus di tangannya, dengan berat hati, Jonathan harus membantu Miranda melakukan hal itu.


Di saat itulah Jonathan dapat melihat dengan transparan dimana dada istrinya itu benar-benar masih sangat kecil. Sempat Jonathan kepikiran, bila Ia menggenggamnya, pria itu sangat yakin kalau bukit kembar itu tidak akan mampu memenuhi kedua telapak tangannya.


"Om...!"

__ADS_1


"Hem?"


"Apa ada yang salah dengan Miranda? Kenapa Om melihat Miranda, begitu?"


Jonathan hanya tersenyum simpul tanpa mengatakan sepatah kata pun, tidak penting dengan itu. Karena yang ada di pikirannya sekarang adalah Miranda sudah menjadi istrinya. Jadi dia tidak perduli apa pun yang ada di dalam tubuh perempuan itu.


Jika di tanya minat, jujur saja Jonathan sendiri tidak terlalu bernaffsu melihat kepunyaan Miranda. Karena milik perempuan itu benar-benar baru teraba belum membentuk kesempurnaan di usianya.


Seharusnya meski usianya baru 17 tahun, kedua bulatan bundar itu sudah menampakan bongkahan yang besar. Tapi milik Miranda tidak, itu memang terlihat kecil di mata Jonathan.


"Iya, deh Om. Aku sadar dadaku sangat kecil dan datar saja. Miranda sendiri heran. Padahal Miranda pernah dengar kok sebelumnya kalau dada ini akan membesar saat perempuan hamil, tapi itu ternyata tidak benar?" Ucap Miranda setengah merengut karena merasa tak sempurna di depan pria yang kini tengah bersamanya.


Ucapan Jonathan tertahan, karena khawatir Miranda jadi sedih mendengarnya.


"Ah sudahlah ayo mandi saja, kamu terlalu bawel karena sejak tadi bertanya terus, mau cuci rambut atau gak?" Tawar Jonathan lagi agar Ia mengguyur tubuh Miranda dari atas sekalian.


"Iya Om, boleh?"

__ADS_1


Miranda sebenarnya baru bertanya sekali kok tadi, tapi Ia agak malas untuk melakukan pembelaan di saat seperti ini.


Miranda hanya pasrah sambil tersenyum malu saat pria itu tiba-tiba membaluri tubuhnya dengan sabun dari ujung kepala sampai mata kaki. Seperti Ayah yang sedang memandikan putrinya sendiri.


Tak sengaja, Jonathan mendongak keatas untuk melihat wajah Miranda dengan wajah malu-malu di sana. Hingga tanpa sadar kalau rumput lembut itu berhasil menarik simpatiknya.


Astaga, apa-apaan ini?...


Otak Jonathan mulai benar-benar oleng hingga menggeleng-gelengkan kepalanya dengan jamtung berdebar hebat.


Ingat Jonathan, dia masih terlalu kecil untukmu, syukur kau bisa bersabar setidaknya sekitar dua tahun lagi dari sekarang agar pertumbuhan istrimu itu benar-benar sudah matang...


Mendapati mimik wajah aneh Jonathan yang berubah-rubah, Miranda mengernyitkan dahinya, "Mikirin apa sih, Om?"


"Tidak ada, mikirin apa emangnya?"


Jonathan mempercepat kesibukannya dengan mencuci rambut Miranda sampai bersih. Setelah selesai membantu membersihkan diri. Jonathan juga menyuapi Miranda dengan sangat tulus.

__ADS_1


"Om, Kenapa Miranda jadi kepikiran soal tri out Miranda ya, sudah dua hari ini Miranda gak ikut ulangan?" Tanya Miranda di sela-sela kunyahannya.


__ADS_2