Calon Mertua Menjadi Suamiku

Calon Mertua Menjadi Suamiku
Bab 62 Pusing


__ADS_3

Miranda mengangguk dengan senyum yang pasrah. Sungguh Ia tidak menyukai posisi ini, sekarang. Dimana abjad yang di mulai dengan huruf A justru ada di posisi belakang.


Dengan langkahnya yang malas, Miranda menghampiri kursi itu tanpa mau memandang Bara. Tentu saja hal itu mengundang pemikiran yang aneh pada Salsa, Marry, Bima maupun Leo dengan sikap dingin mereka.


Bara tak bisa protes dengan sikap Miranda padanya. Miranda memang berhak untuk marah karena dia memang salah.


Sesaat kondisi kelas menjadi sangat hening. Saat guru yang bertugas mulai membagikan soal ujian dan lembar jawaban. Bahkan Miranda tidak mau menengok sedikit pun saat mengulurkan kertas-kertas itu pada Bara.


"Apa sudah dapat semuanya?" Tanya Bu Siska lagi, memastikan.


"Sudah Bu," jawab semuanya kompak.


"Baiklah kalau begitu kerjakan dengan tertib, tidak boleh ada yang mencontek sama sekali dalam bentuk apa pun. Satu lagi, hal yang perlu diingat adalah kerjakan dengan sungguh-sungguh jika ingin mendapat nilai yang memuaskan!"

__ADS_1


"Siap Bu," timpal beberapa siswa dengan lantang. Sesaat ruangan itu menjadi tampak sangat seram saat ada dua orang pengawas lainnya yang tiba-tiba masuk kedalam kelas 12 IPA 1.


"waduh, belum apa-apa pertanyaan nomor dua udah rumit aja ni?" gumam Marry dengan lirih. Otaknya benar-benar mengelak dengan pertanyaan pada pelajaran IPA yang belum lama ini di jelaskan oleh guru yang mengajar di bidangnya. Salah Marry memang, dia menganggap enteng penjelasan dari guru saat itu.


"Aduh, jawab asal aja deh. Pusing amat," gumam Marry lagi yang langsung mengaksir kolom jawaban dengan asal memakai pensil 2B.


"Nah ini nomor tiga juga susah, Ya ampun Marry salah siapa gak belajar semalam," rutuknya dengan bibir tertahan agar suaranya bisa di redam.


Dbalik kondisi dalam posisi tegang yang di hadapi para siswa, kini kondisi beralih ke dalam nuasa perkantoran menjadi kini kembalu akan menjadi Kesibukan dari seorang Jonathan. Ia nampak lues saat memimpin rapat pagi ini. Ada banyak materi yang di bahas disana. Dimana kantor yang bergerak di sektor perdagangan itu telah meluncurkan barang baru berupa kosmetik yang akan menjadi andalan mereka tahun ini.


"Pak, boleh usul. Bagaimana kalau kita merekrut model kecantikan saja untuk menjari brand ambassador kosmetik ini?" Usul salah seorang dari pihak Manajemen pemasaran.


"Wah itu ide yang bagus, tapi siapa yang akan menjadi modelnya?" Tanya Jonathan kemudian.

__ADS_1


"Kenapa gak mengajukan kontrak kerja sama saja Pak sama artis bintang film yang lagi naik daun bulan-bulan ini," usul yang lain lagi.


"Bener Pak, ada tu salah satu artis yang saat ini lagi jadi bahan perbincangan. Tentu saja itu akan sangat bagus untuk progres peluncuran barang baru kita ini ini," jawab yang lain lagi.


Kalau begitu segera hubungi pihak manajemen artis itu dengan segera!" Titah Jonathan kemudian.


"Baik Pak, biar saya yang hubungi nanti," jawab asisten pribadi Jonathan.


Waktu pun berjalan begitu cepat, bel tanda berakhirnya ujian pertama berakhir. Entah benar tidaknya jawaban dari para siswa atau tidak dijawab sama sekali pada beberapa soal essay, mereka tetap dipaksa untuk mengumpul soal dan juga hasil dari jawaban mereka.


Usai semuanya sudah di pastikan terkumpul, Bu Siska dan dua pengawas lainnya segera berpamitan pada seluruh murid. Sedang siswa lainnya langsung berhamburan keluar untuk mencari jajan atau duduk-duduk di depan teras.


"Mir...!" Bara mencekal lengan perempuan itu saat hendak keluar dari sana.

__ADS_1


"Lepas, Bar!"


__ADS_2