
Jonathan sedikit tak enak mendengarnya, lantas menyunggingkan senyumnya kearah mereka yang ada di sana.
"Permisi Bu!" Pamit Jonathan. Dengan sedikit membungkukkan tubuhnya.
"Iya Pak, semoga putrinya cepat sembuh ya!"
"Aamiin, InsyaAllah Bu!"
Jonathan kembali melebarkan langkahnya tanpa perduli dengan tatapan orang-orang yang mereka jumpai sampai akhirnya mereka sampai di parkiran di mana mobil Jonathan telah menunggu pemiliknya.
"Ayo masuklah!" Jonathan membukakan pintu mobil untuk Miranda sambil menahan kepala perempuan itu dari atap pintu agar tidak terbentur.
Melihat Miranda sudah aman, Jonathan melepaskan tasnya dan memasukkan barang itu di belakang.
Usai membereskan semuanya Jonathan pun ikut masuk, mereka bergegas meninggalkan pelataran rumah sakit itu berharap tidak akan pernah lagi kembali kesana dengan alasan sakit.
__ADS_1
Dalam perjalanan pulang, Miranda terus saja memandangi Jonathan yang hanya diam saja. Tidak tahu mengapa, dalam ekspresi apa pun Jonathan terlihat sangat tampan di mata Miranda.
"Apa yang kau lihat?" Tanya Jonathan yang menyadari kalau Miranda terus melihatnya meski Ia tak balas menatap kearah perempuan di sampingnya itu.
"Kenapa Om tidak bilang saja tadi, kalau Miranda ini adalah istri Om Jonathan?" Karena menurut Miranda Jonathan harusnya mengaku saja tadi.
"Apa itu penting? Toh, aku tidak yakin kita akan bertemu dengan mereka lagi nanti, jadi gak ada gunanya juga mereka tahu. Sedang mereka yang tidak tahu apa pun tentang kita bisa seenaknya saja bilang begitu tadi, " jawab Jonathan. Yang merasa hal itu benar-benar tidaklah penting untuk di bahas.
"Iya sih, Om. Tapi aku kan butuh pengakuan," celoteh Miranda dengan suara yang sangat lirih namun Jonathan tetap bisa mendengarnya.
Lama menatap Jonathan lagi dengan ekspresi datar, Miranda menambahi lagi ucapannya, "Bukan begitu sih maunya Miranda, Om? Hanya saja gak papa kan kalau sekali-sekali mengaku hal itu di depan orang lain?"
Jonathan sedikit mengulum senyum, melihat Miranda yang masih menyandar di badan kursi sambil memainkan jari-jemarinya.
Selang beberapa menit, tepatnya belokan rumah Jonathan, mereka melihat sebuah taksi masuk juga ke jalan yang serupa dengan tujuan Jonathan dan Miranda.
__ADS_1
"Siapa ya, Om. Kok kayaknya kerumah kita?"
"Kurang tahu, Mir."
Benar saja mobil taksi itu berhenti tepat di dekat gerbang istana mewah milik Jonathan. Lama menunggu akhirnya penumpang itu keluar lagi, dan sesuai dugaan Miranda. Kalau ternyata perempuan itu adalah Bella.
"Ya ampun, kenapa Tante itu sering banget ya berkunjung kerumah kita? Emang sedekat apa sih, Om Jo sama dia?" Kesal Miranda melihatnya.
"Ya lumayan deketlah, dari sebelum kenal kamu juga, dia sering melakukan itu pas awal-awal akan bercerai sama suminya," timpal Jonathan sembari menunggu taksi itu pergi agar Ia bisa memasukkan mobilnya ke garasi.
Karena tak ingin melihat hal yang menyebalkan, Miranda langsung berpesan pada Jonathan tentang ke khawatirannya, "Miranda harap, Om tidak terlalu dekat ya sama Tante Bella, karena bagaimana pun juga Om udah punya istri?"
Kenapa anak ini jadi mengaturku sih, apa dia mulai jatuh cinta sama aku dan cemburu dengan Bella...
"Eh... Tapi ingat ya Om, Miranda gak cemburu lo, Tapi ini Miranda lakukan supaya Om Jo ingat kalau sekarang Miranda adalah Istri Om Jo, jadi tolong jaga perasaan Miranda!"
__ADS_1