Calon Mertua Menjadi Suamiku

Calon Mertua Menjadi Suamiku
Bab 63 Gak Akan Ngerti


__ADS_3

"Tapi aku perlu bicara, Mir. Aku gak bisa diginiin terus sama kamu. Please, beri aku satu kesempatan lagi. Kalau sampai aku mengulangi kesalahan kedua. Kamu boleh kok gak mau bicara sama aku lagi seumur hidup kamu, atau kamu bunuh aja aku sekalian."


Mendengar itu, Miranda tersenyum miring. Bersilang dada sambil menatap wajah pemuda itu dengan perasaan semakin membenci.


"Kamu sadar gak dengan apa saja yang udah kamu lakuin sama aku selama ini?"


Bara tertunduk pasrah, jujur saja dia sudah melakukan kesalahan yang sangat banyak. Bahkan Bara tahu, Miranda pasti tidak akan bisa memaafkan kesalahannya.


"Maafin aku, Mir. Aku sadar kok kalau aku salah. Tapi apa yang bisa ku lakukan sekarang untuk menebus kesalahan aku!"


"Tidak ada," timpal Miranda dengan tegas, lalu kembali menodong Bara dengan culas, "Cukup jauhi aku saja mulai sekarang dan seterusnya, karena itu akan lebih baik untuk kita."

__ADS_1


"Apa...?"


Bara tak percaya mendengar jawaban Miranda. Hingga dadanya terasa sangat sesak. Dulu mereka saling mencintai dan menjalani kehidupan dengan bahagia dan suka cita. Namun kesalahannya yang fatal itu telah merubah pandangan Miranda terhadapnya.


"Tapi aku masih sangat mencintai kamu, Mir.


" Bar, tolong mengerti. Jangan merusak moodku saat sedang ujian seperti sekarang ini. Karena selamanya aku udah gak sudi kenal sama kamu lagi sebagai orang yang pernah aku cintai," tandas Miranda lagi yang langsung pergi keluar tanpa perduli dengan keempat sahabat mereka yang tertegun di depan pintu.


Semarah itu Miranda pada Bara, hingga tak akan ada lagi kata maaf yang berlaku disana. Sedangkan Bara sendiri masih terdiam dalam kecewa dan perasaan bersalah yang terus saja datang menghantui.


"Ayo Sa, kita susulin Miranda aja. Takutnya dia kenapa-napa lagi!" Ajak Marry kemudian.

__ADS_1


Benar saja, mereka berdua telah menemukan Miranda tengah menangis sesenggukan seorang diri di salah satu taman tak jauh dari kelas.


"Mir...!"


Salsa dan Marry tak tega melihatnya dan langsung memeluk Miranda. Jujur saja meski mereka tidak terlalu paham dengan masalah keduanya. Namun hal itu telah membuat mereka ikut hanyut kedalamnya.


"Cerita aja ke kita, Mir. Sebenarnya kamu itu ada masalah apa sama Bara. Ya kami tahu sih, Bara ninggalin kamu di saat posisi hamil tentu itu amat menyakitkan. Tapikan yang aku lihat, Bara mau berubah. Apa salahnya kamu terima saja dia supaya anak kamu punya Ayah biologis," tutur Salsa yang berusaha memberi saran.


"Bener itu, Mir. Bentar lagi kan kita udah lulus. Jadi gak akan ada masalah lagi karena hal itu," sambung Marry pula.


"Bukan itu masalahnya Sa, Mar. Tapi dia sudah melakukan hal yang lebih fatal lagi dari kesalahan besar waktu itu. Dan aku udah gak bisa menoleransi lagi kesalahan dia. Selain itu, aku juga takut kalau dia gak bisa bersungguh-sungguh mau bertanggung jawab dengan hidupku," timpal Miranda sembari mengusap kedua tepian ujung bola matanya yang telah basah.

__ADS_1


"Iya Mir, maafkan kami yang gak bisa jadi sahabat kamu dengan baik. Tapi bagaimana dengan nasib anakmu nanti. Jika dia tidak punya Ayah?" Salsa harap Miranda pikirkan hal itu.


"Anak itu udah gak ada?"


__ADS_2