Calon Mertua Menjadi Suamiku

Calon Mertua Menjadi Suamiku
Bab 46 Teringat


__ADS_3

Resah dan rasa takut berbaur menjadi satu dan hal itu membuat Jonathan tak dapat mengendalikan emosinya.


Ia benar-benar tak bisa menahan marah saat melihat Bara datang bersama Mama Mutia hingga Jonathan menyambutnya dengan pukulan yang keras tepat di pipi Bara.


"Jo...!" Teriak Mama Mutia histeris.


"Papa.. kenapa memukulku?" Pekik Bara pula. Merasakan sakit yang teramat sangat di sebagian wajahnya yang terasa pedas.


"Apa? Kamu mau protes dengan perlakukan Papa terhadapmu, Bara? Apa kamu tidak sadar apa yang baru saja Kamu lakukan hari ini?" Jonathan melotot dengan geram.


Bara hanya bisa menghela nafasnya yang seakan tertahan di leher, "Aku tidak sengaja, Pa," timpal Bara dengan lirih.


"Alah, alasan! Bilang saja kalau kamu ingin membuat Papa pusing dengan ulahmu itu, Bara!" Jonathan sudah tidak bisa respeck lagi dengan anaknya yang satu itu.


Dari bayi merah sampai dewasa, Jonathan selalu melakukan yang terbaik untuk Bara. Meski Ia harus melakukannya tanpa bantuan seorang istri. Tapi siapa sangka kalau anaknya itu telah tumbuh menjadi seorang pecundang.


Sesaat air mata Bara tak dapat dibendungnya lagi. Kali ini Ia benar-benar sudah kelewatan.

__ADS_1


Bara telah melakukan kesalahan fatal dengan membayakan anak kandungnya sendiri.


"Pak Jonathan...!" Seorang Suster memanggilnya dari ambang pintu.


Dengan berat hati, Jonathan mengontrol kemarahannya dan menghampir Suster itu.


"Bagaimana kondisinya, Sus?"


"Silakan masuk saja Pak, biar Dokter yang jelaskan!"


Jonathan menoleh kearah Bara dan Mama Mutia yang masih mematung di tempatnya. Lalu setelah itu Ia masuk tanpa memperdulikan mereka lagi.


Mungkin hanya dalam hitungan lima menit saja dari kejadian itu, Meilinda telah menghembuskan nafas terakhirnya.


Dengan tubuh lemas dan gemetaran, Jonathan berusaha berjalan mendekati brankar dimana Miranda masih dalam keadaan pingsan, dan hal itu tentu membuat Dokter Irma ikut merasa sedih.


"Maafkan kami Pak Jonathan, anak yang Miranda kandung tidak bisa kami selamatkan!"

__ADS_1


"Sudah kuduga," jawab Jonathan yang harus tetap bisa menjaga kewarasannya.


"Selain itu kami juga mau minta maaf, Pak. Sepertinya kami harus mengatakan hal ini pada Bapak. Melihat perdarahan hebat yang dialami oleh Miranda. Kami melakukan pengoreeetan total. Sehinga itu nanti akan membuat Miranda sangat sulit mengandung lagi!"


"Apa?" Jonathan belum sepenuhnya percaya, "Maksudnya apa Dok?"


"Ada kerusakan parah pada leher rahim Miranda akibat keguguran yang dialaminya, dan itu pasti akan menyulitkan Miranda untuk bisa hamil lagi di kemudian hari!" Papar Dokter Irma sangat menyayangkan.


"Sepatal itu, Dok?" Jonathan kelu melihat kondisi perempuan yang masih seumur jagung itu.


Dokter Irma mengangguk, "Yang kuat ya, Pak. Mungkin ini jalan terbaik yang di berikan Tuhan untuk Miranda hingga Ia mengambil bayi itu lagi lalu membuat Miranda seperti ini!" Dokter Irma berharap Jonathan tegar mendengarnya.


"Iya Dok, saya tahu kehamilannya masih terlalu dini, dan itu kesalahan saya!" Jonathan menyalahkan dirinya sendiri. Walau sebenarnya dia hanya hadir sebagai penyelamat untuk masa depan Miranda atas kesalahan Bara.


"Baik Pak, kalau begitu kami permisi dulu. Karena sebentar lagi akan ada pasien yang akan melakukan operadi ceasar!"


"Terima kasih, Dok!"

__ADS_1


Jonathan masih mematut dalam wajah Perempuan yang masih memejamkan matanya itu hingga beberapa waktu berlalu. Tiba-tiba saja Jonathan melihat Miranda membuka matanya.


"Aku sudah mendengar semuanya, Om?" Ucap Perempuan itu tiba-tiba.


__ADS_2