Calon Mertua Menjadi Suamiku

Calon Mertua Menjadi Suamiku
Bab 6 Kedatangan Tamu


__ADS_3

"Makasih Om, maaf kalau Miranda sudah merepotkan!"


Jonathan lagi-lagi hanya mengangguk, lantas ingin keluar meninggalkan tempat itu sedang Miranda sendiri bingung entah kenapa tiba-tiba perutnya sangat mual saat aroma makanan yang ada di depannya menyeruak sampai menusuk indra penciuman.


Hoek!


Hoek!


"Aduh, perutku?" Miranda bingung harus apa. Dia tidak tahu dimana kamar mandi di tempat itu hingga mengundang perhatian Jonathan yang baru sampai di ambang pintu.


"Maaf Om, kamar mandinya dimana ya?"


Melihat wajah Miranda yang masih duduk di tepi ranjang itu nampak pucat dan lesu. Jonathan memutuskan berbalik lagi mendekati Miranda.


"Biar Om antar?"


Jonathan menggandeng Miranda masuk ke dalam kamar mandi yang sebenarnya ada di sana. Hanya saja bukan salah Miranda jika dia tidak tahu akan hal itu.


Sesampainya disana, Miranda membuang semua isi di dalam perutnya. Ia baru sadar kalau hamil itu ternyata amat sangat menyiksa hingga Ia tidak bisa menjalani kehidupan indah sesuai umurnya lagi. Tapi menyesal pun tentu tidak ada gunanya lagi. Dia harus belajar menyimpan semua kebahagian yang semestinya karena nasi sudah menjadi bubur

__ADS_1


Jonathan yang pernah mengalami itu pada saat Melinda hamil Bara dulu hanya melakukan hal yang sama dengan memijit tengkuk Miranda. Sebagai seorang pria dewasa. Jonathan tentu dipaksa harus pandai-pandai menahan diri dengan memberi batasan pada seorang Miranda yang jujur Jonathan sendiri merasa tidak pantas menjadi suaminya.


"Om, kakiku gemeter," keluh Miranda yang merasa tak kuat lagi untuk berjalan.


Jonathan membisu beberapa saat, lalu memutuskan untuk menggendong Miranda kembali ke kamar. Ia tidak akan mungkin tega membiarkan Miranda berjalan seorang diri.


Jonathan merebahkan tubuh perempuan kecil itu di atas ranjang dengan sangat hati-hati lalu menyelimuti tubuh Miranda agar merasa hangat.


"Tidurlah, Om tinggal ya!" Pamit Jonathan sebelum pergi. Kondisi ini tentu sangat menegangkan untuk Jonathan. Dia adalah pria normal. Rasanya aneh saja ada di dalam ruangan bersama seorang perempuan.


Tapi Miranda malah mencekal lengan Jonathan agar tetap diam bersamanya, "Tunggu Om, Miranda takut sendirian di ruangan sebesar ini. Bisakah Om menemani Miranda sampai tertidur?" Melas Miranda yang menatap dengan memohon agar Jonathan mau mengabulkan keinginannya.


Miranda sendiri sedikit menggeser tubuhnya menjauh agar Jonathan bisa leluasa bergerak. Perempuan belia itu terlihat menarik guling dan memeluknya baru kemudian memejamkan mata.


Tring!


Tring!


Tring!

__ADS_1


Ponsel Jonathan tiba-tiba berdering nyaring hingga pria itu segera mengangkat telponnya agar tidak menganggu Miranda.


"Ada apa Bel?" Tanya Jonathan dari balik layar yang menempel cepat di telinganya.


"Jo, aku ada di depan rumahku. Bolehkah aku menginap semalam saja?"


"Apa? Ngapain Bel?" Jonathan lupa dengan permintaan Miranda tadi lalu bergerak keluar untuk menyambut sahabatnya itu.


Miranda sebenarnya sangat ingin memanggil Jonathan agar membiarkan tamunya itu dan tetap tinggal, tapi Jonathan sendiri sangat cepat sekali berjalannya.


"Siapa yang yang datang ya malam-malam begini?" Tanya Miranda seorang diri. Perempuan kecil itu di buat penasaran dan ingin lihat wajah tamu yang membuat Jonathan pergi begitu saja.


Sesampainya di bawah, Miranda tercekat ketika melihat Bella memeluk Jonathan yang hanya diam bagai batu akan aksi liar perempuan itu.


"Ada masalah lagi?" Seloroh Jonathan yang kembali mengunci pintu dan menghantar Bella duduk di sofa.


"Biasalah Jo, kepalaku pusing dengan kelakukan Mas Agung. Sudah cerai masih saja gangguin terus tiap hari."


"Lantas?"

__ADS_1


__ADS_2