Calon Mertua Menjadi Suamiku

Calon Mertua Menjadi Suamiku
Bab 32 Sahabat Terbaik


__ADS_3

"Aduh, gimana ni? Kok aku mual banget ya sekarang?"


Miranda mencoba untuk terus menenangkan dirinya sendiri. Duduk salah berdiri pun salah. Sulit baginya jika sudah punya keinginan tapi belum bisa terpenuhi.


Sesaat bayangannya kembali terpaku pada sosok Bara. Biasanya pemuda itu selalu datang menghiburnya di saat gelisah seperti ini. Tapi kenyataannya Bara lah yang susah membuat kisah cinta mereka begitu rumit.


Mungkinkah benar apa yang di katakan Bima tadi? Kalau Bara akan menikahi aku setelah lulus sekolah?


Bohong, itu pasti akal-akalannya Bima kan? Karena mereka berdua adalah sahabat. Jadi kemungkinan maksud Bima hanyalah untuk menggodaku?...


"Ah bodo amatlah, males banget ngurusin kayak gini?" Celotehnya lagi seorang diri.


"Soal apaan?" Sahut Bima yang sudah berdiri tepat di belakangnya. Pemuda berambut sedikit keriting itu nampaknya sedang bertanya dengan nada serius.


"Lah kok udah nongol? Emang lo udah mampu selesaiin tugas Bu Lusi tadi?" Seloroh Miranda sembari bersedekap.


"Udah dong, gak rumit kok. Eh, tapi bener lo apa yang gue katakan tadi soal si Bara. Dia bakal balik lagi ke Indonesia buat nemuin lo," sambung Bima lagi. Mengingatkan ulang perkataannya di kelas tadi.

__ADS_1


Sesaat Miranda mengulum bibir. Tidak tahu apa yang ada di pikirannya sekarang. Tapi yang pasti Miranda merasa hal itu sudah tidak ada artinya lagi. Sebab sekarang ini Ia telah menikah dengan Jonathan.


"Bilang sama dia, aku udah gak mau lagi berhubungan sama dia," ucap Miranda kelu.


Hatinya terlalu sakit jika harus mengulas balik. Dimana Bara pergi meninggalkannya tanpa berpamitan sebentar saja di hari pernikahan mereka.


"Aku tahu, soal kekecewaan lo, Mir. Dan juga anak yang lo kandung sekarang," tukas Bima kemudian membuat Miranda dan Salsa juga Marry yang mendengarnya langsung terkaget-kaget.


"Apa? Jadi si Miranda hamil sekarang?" Sentak mereka bersamaan.


Sstt...!


"Ih, Bima. Tangan lo bauk apaan sih? Kok rasanya pait dan asem-asem gak jelas gitu?" Protes Marry sangat kesal.


Bima terpingkal-pingkal sesudahnya, "Hehehe... habis buang air tadi. Tapi lupa belum cuci tangan."


"Apa? Sialan lo? Pantesan rasanya gak jelas banget," kecam Marry dan Salsa yang langsung mencuci mulut dan muka mereka di air keran.

__ADS_1


"Menjijoikan, awas aja lo. Besok-besok begitu lagi. Gue gibeng pakek ini!" Marah Salsa yang tak bisa berhenti marah-marah akan ulah Bima sambil memperlihatkan bogeman tangannya.


"Ya maaf, sewot amat sih jadi orang? Gue kan cuma ngelindungi masalah ini dari anak-anak yang lain. Jangan sampai deh Miranda di bully terus di keluarin dari sekolahan ini sebelum ijazah kita keluar," pungkas Bima kemudian.


"Wah, benar juga sih. Itu artinya, kita harus tutup rapat-rapat masalah ini dari temen-temen. Ih tapi kenapa lo gak cerita sama kita-kita sih, Mi Kitakan sahabat lo?" Kesal Salsa. Sedikit memasang wajah cemberut.


Miranda hanya bisa tersenyum bingung. Bagaimana mungkin Ia sanggup bercerita. Sedang hal itu bukan lah sesuatu yang membahagiakan kecuali aib yang harus di tutupi.


"Maaf ya, bukan apa-apa. Tapi aku gak mau kalian jadi ikut sedih dengan masalah ini. Tapi meski pun aku gak cerita. Sumpah, demi Allah. Kalian adalah sahabat terbaikku!" Miranda langsung memeluk keduanya bersamaan.


"Ikutan dong!"


Bima ingin nimbrung tapi pukulan Salsa dan Marry berhasil mendarat di tubuhnya.


"Ih, enak aja lo. Sudah sana minggat. Dayu nyariin lo tu dari tadi!"


"Wah, beneran ni?"

__ADS_1


Bima sangat antusias, sebab Dayu adalah wanita pujaan hatinya yang sampai sekarang belum memberikan jawaban atas ungkapan cintanya.


__ADS_2