
Suasana yang menyenangkan, tak kala Miranda telah kembali dengan masa-masa sekolah. Ia tersenyum kearah Jonathan yang menatapnya dalam diam. Sebelum Ia keluar dari mobil dimana sahabatnya sudah menunggu di depan gerbang. Saat menyadari itu adalah mobil yang biasa mengantar Miranda.
Sesaat Miranda tertegun karena sekarang, Keadaan sudah merubah jalan cerita di hidupnya. Ia sudah bersuami. Jadi Miranda harus pandai menempatkankan posisi sebagai istri.
"Om, Miranda masuk dulu ya. Doain Miranda tidak kesulitan menghadapi ujian sekolah!" Ujar Miranda kemudian.
Jonathan mengangguk, tanpa bersuara hingga Miranda menggapai tangan Jonathan dan menciumnya.
Usai meninggalkan senyum perpisahannya lagi, Miranda melambaikan tangan dan meninggalkan Jonathan yang langsung mengklakson mobilnya. Ia harus pergi secepatnya, karena selama Miranda sakit, Jonathan hanya beberapa kali memeriksa keadaan kamtornya. Itu pun tidak lama. Paling hanya sekitar dua jam. Sebab Jonathan tidak tenang bila harus meninggalkan Miranda terlalu lama di rumah bila ada Ibu dan juga Bara putranya.
"Hai, Mir. Apa kabar? Kenapa kamu menghilang lama banget sih, kayak di telan bumi? Kita kangen banget tauk sama kamu? Terus gimana kabar keponakan aku? Apa dia sudah bisa menendang sekarang ha?" Sapa Salsa yang langsung memeluk Miranda sambil mencecarnya dengan berbagai macam pertanyaan.
__ADS_1
Begitu pula Marry yang tak mau kalah, sebab dia benar-benar telah kehilangan kontak dengan Miranda. Bertanya pada keluarganya pun. Mereka bilang Miranda tidak mau mereka mengetahui alamat baru Miranda dan orang tua angkatnya. Padahal mereka tahu betul kalau Jonathan telah memiliki Miranda lebih dari itu.
"Oh iya, Maaf ya. Takutnya Om Jo gak suka ada temen-temen aku yang datang?" Miranda hanya menjawab satu buah pertanyaan dari mereka karena Ia tidak tahu mau cerita apa.
"Tapi lo taukan kalau Bara udah sekolah lagi disini? Terus apa reaksi dia soal kamu dan kecebong yang ada di perut kamu sekarang?" Tanya Marry dengan lirih.
Miranda tersenyum getir pada keduanya. Sungguh Ia sudah malas membahas itu lagi karena sekarang anak itu sudah tidak ada. Sedang Bara adalah masa lalu yang harus di lupakan.
Sesaat suasana menjadi riyuh, tak kala Miranda memasuki kelas dan bertemu dengan teman-temannya yang tahu betul tentang perjalanan kisah cinta Miranda dan Bara. Pemuda itu menatap dengan hati yang tak bisa di ungkapkan lewat kata-kata. Bara kesal karena tidak bisa memiliki Miranda lagi. Tapi Ia juga kangen sama Miranda. Selain itu perasaan bersalahnya terhadap kegugurannya anak yang ada di perut Miranda membuatnya merasa telah menjadi seorang pembunuh.
"Ciye... Ciye... Cinta Lama Bersemi Kembali ni!" Seru dari salah satu anak cowok.
__ADS_1
"Iya ni, asyik. Akhirnya bisa lepas kangen juga ya Mir," timpal teman perempuan miranda pula.
Entah apa saja yang di bicarakan mereka, Miranda tak mau ambil pusing.
"Sa, aku duduk dimana ya?" Miranda memperlihatkan nomor peserta yang tergantung di lehernya. Nomor itu di kirim pihak sekolah atas permintaan Jonathan pada hari sabtu yang lalu.
Mereka pun segera mencari posisi ketika seorang guru telah datang bersama dengan sebuah aplop besar berisi soal-soal dan lembar kerja siswa.
Melihat Salsa dan Marry sudah duduk. Miranda hanya mendapati kalau kursi yang kosong tepat berada di depan Bara. Itu artinya tempat itulah yang akan menjadi pilihan terakhirnya.
"Miranda, ayo duduk sekarang. Kenapa masih bengong disitu?" Titah Bu Siska penuh keheranan. Sebab Miranda masih saja termangu di tempatnya berada sejak pertama kali masuk kekelas itu.
__ADS_1