Calon Mertua Menjadi Suamiku

Calon Mertua Menjadi Suamiku
Bab 44 Mau Apa Lagi


__ADS_3

Selang beberapa waktu kemudian, Miranda sudah kembali dengan memakai seragam sekolahnya. Begitu juga Jonathan yang ternyata telah siap dengan pakaiannya untuk kekantor.


"Apa hari ini kamu masih tri out?" Tanya Jonathan di sela-sela kegiatannya mengutak-atik laptop.


"Iya Om, Bulan depan Miranda sudah ujian," jawab Perempuan itu tanpa perduli kalau kegiatannya memakai seragam di perhatikan oleh Jonathan.


"Baguslah, itu artinya kamu bisa menyelesaikan sekolah sampai akhir saat perutmu telah membesar!"


Miranda hanya tersenyum, lantas buru-buru menyisir rambutnya di depan cermin sambil sedikit memakai bedak agar tidak terlihat pucat.


Sesaat Jonathan jadi kepikiran kalau Ia kurang memperhatikan kebutuhan Miranda yang satu itu.


"Ayo Om, Miranda udah siap!" Tukas perempuan itu sembari memakai tas slempang di salah satu bahunya.


Jonathan segera menutup laptop tersebut lalu memasukkannya kedalam tas dimana Jonathan sering membawanya bekerja.


Sesampainya di meja makan, Miranda heran kenapa Bara tidak ada. Hanya ada Mama Mutia yang sudah menunggu mereka sejak tadi.


"Ayo isi dulu perutmu!" Ajak Jonanthan kemudian.

__ADS_1


"Iya Om!"


Namun sepertinya perut Miranda tidak mau berbaik hati menerima makanan yang ada di sana.


Hoek!


"Aduh, maaf Om. Kenapa Miranda mual ya dengan aroma nasi goreng itu," ucap Miranda yang kesulitan mengontrol perutnya seakan terus merasa mual.


Hal itu tentu membuat Mama Mutia sangat tersinggung. Sebab nasi goreng itu telah Ia masak dengan susah payah, "Apa maksudmu bicara begitu, Miranda? Kamu mau bilang kalau masakan Mama tidak enak ya?"


"Ha...?" Miranda mencelos, "Bu- bukan begitu, Ma. Tapi aku mual dengan aroma bawang gorengnya!"


"Iya Ma, Maaf. Miranda tidak punya maksud apa-apa kok, serius?"


"Alah, kalau gak mau makan ya sudah kalian pergi aja sana, biar Mama buang aja." Nampaknya Mama Mutia benar-benar merasa tersinggung.


"Ya udah kamu tunggu saja di mobil, biar Om makan sebentar!" Titah Jonathan kemudian.


"Iya, Om!"

__ADS_1


Miranda segera keluar dan menanti Jonathan di teras. Menjauhi makanan itu perut Miranda mulai memjadi lebih baik.


"Mir...!" Entah dari mana datangnya. Pemuda itu tiba-tiba sudah berdiri di samping Miranda.


"Mau apa lagi sih?" Timpal Miranda dengan ketus.


"Aku masih menunggu keputusanmu, Mir. Ayo kita kabur dari sini!" Tanpa punya urat malu, Bara langsung mencekal lengan Miranda.


"Lepas, Bar. Kamu udah gila ya," hardik Miranda dengan menatap marah.


"Iya, aku sudah gila karena kamu. Ayo Mir, aku gak bisa lihat kamu hidup sama Papa di depan mataku!" Paksa Bara dengan manarik paksa tangan Miranda.


"Gak mau, Aku sudah nyaman dengan Om Jo. Lebih baik kamu lupain aku aja, Bara!" Miranda kekeh tidak mau ikut dengan pemuda yang pernah sangat di cintainya itu. Bagi Miranda, Bara hanyalah masa lalu yang suram.


"Tidak Mir, aku mau kita hidup bersama. Jadi kamu harus berpisah dengan Papa sekarang juga!"


Bara terus menarik-narik tangan Muranda meski perempuan itu tetap menolak dan memaksa melepaskan diri.


"Lepas, Bar. Aku gak mau kita punya hubungan apa pun lagi. Karena Aku sudah gak punya perasaan cinta sedikit pun sama kamu!" Tolak Miranda dengan manarik balik tangannya sendiri.

__ADS_1


"Jangan bodoh, Miranda. Anak itu anakku bukan anak Papa. Jadi aku lebih berhak atas dirinya!"


__ADS_2