Calon Mertua Menjadi Suamiku

Calon Mertua Menjadi Suamiku
Bab 55 Seperti anak Kecil


__ADS_3

"Om, bajunya kegedean dikit?" Seringai Miranda sembari tersenyum malu ke arah Jonathan.


"Maaf, Om tidak tahu ukurannya," jawab Jonathan tanpa ekpressi sedikit pun.


"Iya Om, aku lupa ngasih tahu karena Om gak nanya tadi!"


Jonathan memantik dress yang di kenakan Miranda memang sedikit kedombrang. Tapi mau bagaimana lagi. Bukankah itu lebih baik ketimbang Miranda tak memakai apa-apa.


"Ih geli Om, gimana ni. Masak gak pakai daleman dada?" Miranda ngedumel lagi dan benar-benar membuat telinga Jonathan merasa gatal.


"Udah deh, mau pulang atau mau protes terus? Mana Om ingat sama yang satu itu. Setidaknya kamu udah pakaian daleman yang bawah kan? O ya Mir, kamu gak tahu aja tadi waktu Om masuk ke supermarket mereka terus ngetawain Om gara-gara beli Pembalut," timpal Jonathan mulai sedikit kesal.


"Hehehe... Apa kata mereka Om?" Miranda jadi penasaran untuk mendengarkan cerita Jonathan.


"Mau tahu ya?"


Miranda mengangguk sambil sesekali menjimpit pakaian yang membuat dadanya merasa tidak myaman.


"Aduh kasihan banget sih Om, berarti seminggu kedepan Om puasa dong dari anu," jawab Jonathan sembari mengikuti cara bicara orang-orang itu tadi hingga bibirnya sedikit meleot-leot.

__ADS_1


"Hahaha... Masak sih mereka ngomong kayak gitu, Om?" Miranda tak dapat menahan tawanya yang langsung saja pecah.


"Ngapain Om bohong memang itu kenyataannya kok. Udahlah ayo pulang. Atau Om pulang sendiri ni," ancam Jonathan semakin sensi karena harus menyambunyikan rasa malunya gara-gara mengingat kejadian itu.


Dasar bocah-bocah tengil bisanya hanya menggoda saja. Mereka bahkan tidak tahu dirinya itu sudah puasa sekitar delapan belas tahun lamanya....


Meski kadang gairah itu kadang bangkit, tak ada tempat Jonathan untuk bisa mencurahkannya agar merasa lega. Sekarang pun tetap saja begitu. Punya istri pun masih saja tak bisa melakukan apa yang dia inginkan.


Sabarlah Jonathan ini hanya godaan semata, nyatanya selama ini kamu sanggup menjalani hari-harimu tanpa itu. Kenapa di saat kamu di minta untuk menunggu kamu malah menjadi tidak sabar...


"Udah kuat belum jalannya?" Seloroh Jonathan lagi yang melihat kondisi Miranda masih terlihat sangat lemas. Untuk berjalan saja masih nampak oleng.


"Mau Om gendong aja?" Tawar Jonathan kemudian sambil memakai tas gendong berisi beberapa keperluan Miranda selama ini di belakang punggungnya.


Miranda mengigit bibir, "Gak perlu Om. Miranda udah gede kok. Malu di lihat orang."


Tuk!


Jonathan memukul pelan kepala Miranda dengan kepalannya, "Ngapain harus malu, bukakah saat tiba di rumah sakit ini aku juga melakukan hal yang sama!"

__ADS_1


"Itu kan beda ceritanya Om. Masak iya Miranda masih pingsan di suruh jalan sendiri sih?" Timpal Miranda yang melakukan pembelaan.


"Ah, iya benar juga kamu," lirih Jonathan hingga terdengar sayu di telinga Miranda.


NamunJonathan tidak perduli kan hal itu. Iya memutar kembali tas yang beranda di punggunya kedepan lalu berjongkok di dekat Miranda.


"Ayo naik...!"


"Di gendong Om?"


"Bukan, di junjung," timpal Jonathan asal-asalan. "Astaga kenapa dia selalu saja menyabelkan, kepalaku jadi nyut-nyutan sekarang," gumam Jonathan lagi seorang diri.


Miranda sedikit malu sebenarnya. Namun Ia tak punya alasan yang cocok saat ini hingga akhirnya naik juga kepunggung Jonathan yang memegang dua bongkahan di belakangnya.


Yang Allah, kenapa kian hari godaan ini semakin besar? Ada masalah apa sebenarnya denganku?...


Jonathan kesulitan mengendalikan jantungnya yang tiba-tiba berdetak sangat cepat. Apa lagi terpaan nafas Miranda yang merambah ketelinga sebelah kananya membuat aliran darah Jonathan seakan tersengat.


Tak ingin memiliki pikiran yang semakin kacau, Jonathan segera membawa Miranda keluar. Rupanya di siang hari pun banyak para pembesuk tengah duduk-duduk di ruang tunggu jadi memperhatikan mereka sambil tertawa aneh.

__ADS_1


"Ya ampun, sayang banget sama putrinya Pak. Habis sakit ya?" Tanya seorang Ibu-ibu yang sok akrab pada Jonathan


__ADS_2