
"Oh... meski gak cantik. Istri saya sangat lucu, Jes, dan saya suka dengan sikapnya yang manja itu."
Jawaban Jonathan yang mengejutkan, mampu menarik perhatian Miranda untuk terus memandanginya. Jelas itu yang pertama kali bagi Miranda, mendengar Jonathan memujinya di depan orang lain.
Jessika mengangguk tak percaya, lantas memutuskan pergi karena hari sudah sangat sore.
"Oke, Pak Jo. Urusan kontraknya kan sudah selesai. Kalau begitu saya berpamitan dulu. Biar selanjutnya manajemen saya yang urus!"
"Baiklah kalau begitu, Nicko kamu antar Jessika sampai kedepan!"
"Oke, Pak!" Nicho pun mempersilakan Perempuan seksi itu mendahului langkahnya.
"Om, kenapa sewa model belagu seperti dia? Miranda tidak suka?"
"Itu kan karena dia lagi naik daun, Mir. Sangat bagus untuk produk kosmetik yang akan segera kita pasarkan," jawab Jonathan dengan santai. Sambil memantik dress baru yang di kenakan Miranda.
"Baju ini terlihat sangat bagus untukmu. O ya, beli apa aja tadi?" Jonathan penasaran dengan isi paperbag yang di jatuhkan Miranda kelantai.
__ADS_1
Sesaat Miranda terdiam, bingung mau bilang apa. Pasalnya uang yang di habiskannya tadi sangat banyak.
"Cuma pakaian dan sendal aja kok, Om. Tapi habisnya sangat besar," jawab Miranda dengan suara yang hampir hilang.
"Berapa?" Jonathan bertanya lagi, dan itu sangat menegangkan bagi Miranda.
Tapi apa boleh buat, Ia harus mengakukan, karena pada akhirnya Jonathan juga akan tahu, "Tu- tujuh belas juta, Om. Ta- tapi itu memang salah Miranda, Om. Sudah mahal, Miranda tetap nekat untuk membelinya. Maafin Miranda ya, Om. Miranda salah!"
"O... Tujuh belas juta. Kenapa gak beli yang lain juga?" Jonathan malah menawari.
"Ya enggaklah, uang itu memang Om berikan khusus untuk kamu, O ya malam ini kita pulang abis maghrib ya. Kamu gak capekkan?"
"Iya, gak papa Om. Miranda kan bisa tiduran di sofa!" Jonathan gak marah aja, sudah cukup bagi Miranda. Masak iya di suruh menunggu sebentar lagi Miranda malah menolak.
"Ya udah, kamu duduk dulu di sana. Om mau selesaikan dulu pekerjaan Om sebentar!" Pinta Jonathan kemudian. Menunju kearah sofa tak jauh dari tempatnya bekerja.
Miranda pun turun dari pangkuan Jonathan lalu memungut paperbagnya tadi untuk memeriksa ulang baju apa saja yang di belinya tadi.
__ADS_1
*****
Sekitar pukul delapan lewat lima belas menit malam tepatnya. Jonathan tak lagi mendengar suara Miranda. Biasanya perempuan itu akan mengoceh terus menerus sampai Jonathan bosan menjawabnya.
Karena merasa heran, Jonathan yang tak sempat menoleh karena terlalu fokus ke depan layar memutuskan melihat kebelakang dan mendapati Miranda sudah tertidur dengan pakaian lain yang telah menjadi penghangat di tubuhnya.
Jonathan tersenyum melihat hal itu, dan buru-buru menyimpan data yang baru saja selesai di buatnya. Jonathan menutup laptop tersebut dan memasukkannya kembali ke dalam tas. Kemudian bergerak untuk mengecek kondisi Miranda di sofa.
Benar saja, Miranda sudah tenggelam dengan mulut sedikit terbuka hingga air liurnya meleleh. Tapi sadar tidaknya, Miranda langsung mengusap ujung bibirnya sendiri tanpa membuka mata.
"Dasar, bocah!" Jonathan merutuk dengan senyum yang konyol, lalu menarik baju dalam pelukan Miranda dengan hati-hati dan menyimpannya kembali ke dalam paperbag. Berlanjut dengan menelpon Nicho agar datang kesana.
Tak lama asistennya itu datang, Johathan hanya memperbolehkan Nicho menunggu di depan pintu untuk membawakan barang belanjaan dan tas miliknya.
"Tolong bawa ini ke mobil, soalnya Miranda tidur dan aku tidak tega membangunkannya!"
"Oh oke, Pak. Biar saya bawakan!"
__ADS_1