
Tak ingin hal buruk terjadi dengan Bara, Jonathan dan keluarga memilih bergegas membawanya kerumah sakit, dan betapa mengejutkannya saat Dokter memponis Bara dengan penyakit yang sudah sangat parah. Dimana kemungkinan untuk sembuh hanya berkisar dua puluh lima persen saja.
Hancur hati Jonathan, lagi-lagi Ia tidak peka pada sekitarnya hingga tidak mengetahui keadaan Bara. Pasti kerenggangan hubungan mereka lah yang membuat Bara enggan memberi tahu Jonathan hingga kondisinya semakin parah.
Miranda juga merasakan hal yang sama. Tatapannya kosong, tubuh gemetar dan terasa begitu lemas. Hal itu diiringi dengan derai air mata yang terus berjatuhan.
Meski memilih tidak mau kembali, tapi Miranda tidak munafik jika masih ada sisa cinta di hatinya. Kemarahan itulah yang memaksa Miranda menolak untuk kembali bersama.
"Pokoknya ini kesalahan kalian berdua. Andai saja kalian mau pisah. Pasti Bara akan memberi tahukan penyakitnya dari awal. Jadi dia bisa pulih lagi seperti sedia kala," Jengan Mama Mutia dengan tatapan begitu sinis.
Jonathan dan Miranda hanya terdiam. Bibir mereka terlalu kelu untuk menimpali. Bahkan tidak tahu harus memberi jawaban apa. Toh nasi sudah menjadi bubur.
"Pak Jonathan dan Nona Miranda!" Sapah seorang Dokter memanggil dari ambang pintu di mana itu adalah ruang rawat dari Bara Kertapati.
__ADS_1
"Iya Dok." Jonathan menjadi dingin pada Miranda yang mengekornya dari belakang.
Dokter itu nampak sedih, sepertinya beliau sedang menyembunyikan sesuatu yang fatal.
"Beri tahu aku jika terjadi apa-apa," lirihnya sambil menepuk-nepuk pundak Bara.
Jonathan menganggukkan kepala. Lantas masuk untuk melihat kondisi Bara. Hal itu juga akan diakukan Miranda. Terlepas dari kisah kelam di antara mereka. Setuju tidak setuju dia adalah Ibu tiri Bara sekarang.
"Papa...!" Bara masih menguatkan diri untuk memanggil Jonathan.
Tak mampu menahan sesak, Jonathan pun menangis sejadi-jadinya. Ia sangat sadar telah menjadi Ayah yang buruk bagi Bara.
"Maafin Papa, nak. Papa sudah membiarkan kamu merasakan sakit seorang diri. Harusnya kamu cerita pada Papa, nak. Supaya Papa bisa mencarikan pengobatan lebih cepat dari seharusnya!"
__ADS_1
"Tidak, Pa. Ini bukan salahmu. Tapi aku yang sudah tidak pandai bersyukur memiliki Papa yang hebat sepertimu!"
Jonathan tidak setuju, "Kamu anak yang membanggakan, nak. Tapi Papa malah mengabaikanmu. Berjanjilah kalau kamu aKan sembuh. Papa janji akan memberikan apa pun yang kamu mau," ujar Jonathan sembari melirih ke arah Miranda yang masih belum bisa berkata-kata.
Perempuan itu tidak tahu harus bagaimana, mana mungkin Ia ingin meminta Jonathan menceraikannya setelah penyatuan itu akhirnya terjadi atas permintaannya.
Bara yang ikut menatap kearah Miranda mengembangkan senyumnya dengan lebar.
"Aku tidak mau memisahkan Mama Muda dengan Papa hanya karena aku sakit, Pa. Berjanjilah kalau Papa akan membahagiakan dia dan tidak akan melakukan kesalahan yang sama seperti aku. Jujur, aku meninggalkannya waktu itu. Alasannya karena aku memang sakit. Jadi aku tidak mau menyusahkan Miranda. Namun keegoisan sempat mendesakku hingga anak itu menjadi korbannya. Tapi sekarang aku mulai bisa menerima dan tenang karena akhirnya dia menjadi pendamping Papa. Jadi aku yakin Papa bisa menjaganya lebih baik dari aku."
"Papa akan melakukan apa pun, Nak!"
Jonathan memeluk erat tubuh Bara, hingga Jonathan tidak menyadari jika Bara telah menutup matanya dengan rapat.
__ADS_1