Calon Mertua Menjadi Suamiku

Calon Mertua Menjadi Suamiku
Bab 73 Miranda Dan Silla


__ADS_3

Kini Miranda dan Bara sudah kembali mengikuti ujian di hari terakhir. Mereka masih saling enggan bertegur sapa karena longgarnya hubungan mereka.


Saat itu dimana jam istirahat berlangsung, Bara yang melihat Miranda sedang mengobrol dengan Salsa dan Marry langsung menarik lengan Miranda dengan paksa.


Bara perlu bicara tentang hubungan mereka yang masih belum jelas, "Ngapain lagi sih, Bar? Tolong deh jangan paksa aku lagi buat ngikutin keinginan kamu?" Miranda berbicara dengan ketus.


"Aku tahu kamu marah, Mir. Tapi apa kah kamu sudah benar-benar yakin gak akan mau kasih aku kesempatan kedua lagi?"


"Menurutmu bagaimana?" Miranda menatap bola mata Bara dengan marah.


"Jika memang sudah gak ada lagi kesempatan kedua, aku janji kok Mir, mulai detik ini aku akan berhenti menanyakan ini!" Tukas Bara dengan mata memerah.


Sesaat Miranda sangat kaget, ketika hidung Bara mengeluarkan setetes darah.


"Lo, kenapa Bar?" Miranda ingin mengecek, akan tetapi Bara menolak.


"Ini bukan apa-apa kok, kalau gitu aku pergi!" Sepertinya Bara menyembunyikan sesuatu dari Miranda hingga pemuda remaja itu langsung meninggalkannya dalam bingung.

__ADS_1


"Ada apa dengan Bara ya? Kok aneh sih?"


Beberapa detik kemudian, seorang gadis dengan berbeda kelas berhamburan memeluk Miranda. Namanya Silla, dia adalah siswa di kelas 12B.


"Mir, apa kabarmu?" Meski jarang bersama, Miranda mengenal baik siapa Silla.


"Hei Sil, udah lama ya gak saling ngobrol?" Kedua pun berpelukan.


"Ada yang ingin aku curhatin Mir, tentang seseorang!" Silla nampaknya serius.


"Oh ya, cerita saja. Aku akan mendengarkan semuanya, ayo kita duduk disitu!" Miranda menghantar Silla ketempat yang nyaman.


"Iya Mir, dan sampai saat ini aku belum kasih tahu Om Rass maupun Mama, soal kehamilan aku ini?"


Ya ampun, kenapa kejadian ini harus menimpa Silla juga sih...


"Terus, rencananya kamu mau gimana? Gak mungkin kan kamu gak bilang ke mereka soal ini?"

__ADS_1


"Sebenarnya aku sangat menyukai Om Rass, Mir. Meski dia seorang duda dan sudah dewasa. Aku gak perduli. Tapi gimana dengan Mama. Apa jadinya kalau dia tahu, aku sudah hamil dan mau menikah dengan sahabatnya itu?"


"Aku juga menikah dengan duda kok, Sil," ungkap Miranda kemudian. Rasanya sudah tidak ada lagi yang perlu Ia tutupi lagi sekarang. Karena itu hari terakhir mereka bertemu di sekolah, dan akan kembali jika ijazah sudah keluar.


"Apa?" Salsa dan Marry terkejut mendengar kalimat terakhir Miranda, "Jangan bilang orang yang sering mengantar jemput kamu kesekolah itu adalah Om-om yang udah nikahin kamu, Mir?" Keduanya lekas memburu dan ikut mendengarkan cerita Miranda sebenarnya.


Dengan sangat terpaksa, Miranda pun menceritakan kisahnya itu.


"Astaga, jadi suami lo sekarang adalah Bapaknya si Bara?" Marry bertanya lagi sampai lupa mengecilkan Volume suaranya.


Miranda mengangguk, karena memang itu yang terjadi dengannya saat ini. Biarlah itu menjadi cerita kelam yang akan terus menjadi alarm pengingat untuk dirinya kelak. Agar tak lagi melakukan kesalahan serupa baik untuknya sendiri maupun pada anak-anaknya di masa yang akan datang.


"Pantes aja lo gak mau lagi balik sama si Bara? Tapi lo bahagiakan dengan keluarga baru lo ini?"


"Tentu saja, bahkan pria dewasa lebih perhatian dan bijaksana dalam mengambil keputusan. Jadi gak ada lagi alasan aku buat balik sama Bara. Sebab aku lebih nyaman sama Om Jo," jawab Miranda dengan percaya diri.


"Tapi, apa Om Rass juga baik seperti Om Jo, seperti suamimu itu? Meski dia selalu perhatian sih selama ini?" Silla masih bingung sendiri dengan keputusannya itu.

__ADS_1


"Ceritain aja semuanya Sil, biarlah ini menjadi kisah kita di nikahi oleh Om-Om. Lagian ini gak buruk kok. Malah biasanya mereka tipe lelaki penyayang karena pengalaman?"


__ADS_2